Pantau - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menjajaki kerja sama pengembangan bioenergi berbasis tanaman sorgum di Gorontalo sebagai bagian dari upaya mendukung transisi energi dan target net zero emission (NZE).
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan biomassa memiliki keunggulan dalam menurunkan emisi karbon secara langsung melalui substitusi batu bara pada pembangkit listrik.
“Berbeda dengan energi terbarukan lain yang bersifat menggantikan, biomassa mampu mereduksi emisi secara langsung. Substitusi sebagian penggunaan batu bara dengan biomassa menjadi langkah nyata dalam menurunkan emisi,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Rabu.
PLN EPI menjalin kerja sama dengan PT Sorbu Agro Energi melalui penandatanganan nota kesepahaman yang dilakukan di Jakarta pada Senin (18/5).
Pengembangan Sorgum Dukung Ketahanan Energi dan PanganHokkop menjelaskan pengembangan bioenergi berbasis sorgum sejalan dengan agenda Astacita pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi dan ketahanan pangan nasional.
Menurut dia, sejumlah negara seperti Jepang dan Korea Selatan terus meningkatkan pemanfaatan biomassa dan mencari sumber pasokan baru.
PLN EPI sendiri telah mengembangkan hampir 14 jenis biomassa untuk kebutuhan cofiring PLTU.
Hingga saat ini, perusahaan telah mengamankan kontrak pasokan biomassa sekitar 1 juta ton melalui hampir 100 kerja sama dengan berbagai mitra.
“Kami berfokus pada penyediaan dan penyerapan biomassa untuk pembangkit. Untuk sektor budi daya, kami bekerja sama dengan mitra agar tercipta ekosistem yang berkelanjutan,” kata Hokkop.
Gorontalo Jadi Lokasi Awal PengembanganDirektur Sorbu Agro Energi Verdi Budiman mengatakan pihaknya saat ini mengelola lahan sekitar 10 ribu hektare di Gorontalo dengan potensi pengembangan hingga 40 ribu hektare melalui program perhutanan sosial.
Pengembangan awal akan dilakukan di Desa Totopo, Gorontalo, dengan luas 218 hektare yang berjarak sekitar 56 kilometer dari PLTU Anggrek Gorontalo Utara.
“Kami diharapkan menjadi lokomotif program perhutanan sosial berbasis ekosistem terintegrasi yang mencakup energi biomassa, peternakan, biogas, dan produk turunan lainnya,” ungkap Verdi.
Ia menambahkan proyek tersebut akan dikembangkan menggunakan pendekatan pentaheliks yang melibatkan pemerintah, masyarakat, swasta, akademisi, dan media.
Kerja sama kedua pihak juga mencakup studi pengembangan bioenergi, pengembangan biomass hub di Sulawesi, hingga kajian pemanfaatan biomassa kayu dan sumber daya hayati lain untuk mendukung transisi energi nasional.




