Propaganda di Zaman Artificial Intelligence

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

MEDIA letsdatascience.com, edisi 8 Mei 2026, mengabarkan soal rencana Pemerintah Vietnam, yang secara massif hendak memanfaatkan artificial intelligence (AI) beserta para ahlinya.

Pemanfaatan itu dalam bingkai komunikasi “positif” negara, untuk menciptakan 'kekebalan ideologis' bagi seluruh warganya.

Kekebalan terhadap informasi yang berbahaya, beracun, dan salah. Komunikasi positif ini, tak lain adalah propaganda. 

Kabar lengkap yang termuat dalam “Vietnam Recruits Influencers and AI Experts for Propaganda” itu, merupakan kutipan dari laporan yang diunggah Reuters.

Disebutkan, komite propaganda partai yang berkuasa di Vietnam hingga tahun 2030 berencana membangun jaringan: 1.000 influencer dan 5.000 pakar AI.

Dalam dokumennya yang disusun pada bulan April, juga disebutkan: saat komunikasi posistif telah dijalankan hingga akhir dekade, setidaknya 80 persen unggahan online --yang disajikan dalam bahasa Vietnam-- akan menjadi “positif”.

Ini lantaran, AI dalam 24 jam akan menghapus hingga 90 persen materi yang melanggar pedoman partai.

Juga dilakukan interaksi yang berformat podcast, video pendek, maupun berbagai bentuk unggahan bagi khalayak berusia muda.

Adapun pelaksaaan interaksinya, ditunjang oleh penggunaan perangkat berbasis AI yang dikembangkan oleh perusahaan teknologi Vietnam.

Baca juga: Harga Mahal Menjaga Rupiah

Untuk memosisikan secara tepat pengertian propaganda, Terence H. Qualter, 1962, dalam bukunya "Propaganda and Psychological Warfare” menyebutnya sebagai upaya yang sengaja dilakukan individu maupun kelompok.

Tujuannya membentuk, mengendalikan, hingga mengubah sikap kelompok lain, dengan menggunakan instrumen komunikasi.

Hasilnya, berupa perilaku sasaran propaganda –bisa warga negara maupun konstituen politik— yang sesuai dengan keinginan produsen propaganda.

Sedangkan Harold D. Laswell, 1927, dalam “The Theory of Political Propaganda” menyebut, propaganda adalah pengelolaan sikap kolektif melalui manipulasi simbol-simbol penting.  

Masih banyak pengertian lain yang disebutkan para ahli soal propaganda. Namun seluruhnya bermuara pada pabrikasi perilaku khalayak, yang diakibatkan oleh pengiriman pesan satu pihak.

Maksud pengirman pesannya, lebih untuk menciptakan tanggapan yang diinginkan produsen pesan dibanding kebenaran informasinya.

Dan ketika menyampaikan kebenaran bukan menjadi bagian penting pesan, propaganda adalah disinformasi, misinformasi atau malinformasi yang disebarkan secara luas.

Peradaban hari ini, menyebutnya sebagai hoaks.  

Apa akibat yang ditimbulkan propaganda yang didukung negara, terlebih dengan memanfaatkan AI?

Baca juga: Ekonomi Indonesia dari Sawah, Bukan Wall Street

Morgan Wack, Carl Ehrett, Darren Linvill, Patrick Warren, 2025, dalam laporan penelitiannya, “Generative Propaganda: Evidence of AI’s Impact from a State-Backed Disinformation Campaign” mengemukakan keadaan-keadaan yang mengkhawatirkan.

Penelitian ini berusaha menyibak konsekuensi adopsi AI dalam propaganda yang didukung Rusia, dilakukan dengan metode kuasi-eksperimental, berbasis teks, dan survei. 

Ditemukan, propaganda yang didukung negara lewat adopsi teknologi berbasis AI generative, memungkinkan situs web yang digunakan dapat memperkuat dan meningkatkan produksi disinformasi.

Temuan rincinya, pertama, perangkat Gen-AI memfasilitasi produksi disinformasi dalam jumlah yang lebih besar dibanding dengan hanya mengandalkan tenaga manusia.

Kedua, penggunaan Gen-AI sangat terkait dengan pergeseran volume maupun cakupan unggahan yang dipublikasikan. Volumenya lebih besar dan cakupannya lebih luas.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Dan ketiga, ini merupakan temuan yang menyibak kekuatan propaganda berbasis AI --dalam realitas yang mengacu pada eksperimen survei-- artikel yang dibantu AI daya persuasinya bertahan hingga periode pascaadopsi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prof Tedi Sudrajat: PPPK Paruh Waktu Sebaiknya Dihilangkan Saja
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
Presiden Prabowo Dorong Perbaikan Sistem Ekonomi demi Kemakmuran Bangsa
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Subsidi BBM Tetap Jalan Meski Rupiah Ambles, Purbaya: Sudah Kami Perhitungkan
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Bareskrim Ajukan Red Notice Lukmanul Hakim, Pemasok Sabu ke Bandar The Doctor
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Pemulihan Sawah Terdampak Makin Cepat, 2.000 Hektare Pulih dalam 2 Pekan
• 20 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.