Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan lini usaha harta benda (properti), kendaraan bermotor, dan kredit adalah tiga produk yang jadi penopang utama pada industri asuransi umum per Maret 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono merincikan pada periode itu, asuransi harta benda (properti) mencatatkan pendapatan premi Rp8,47 triliun atau 25,18% dari total premi industri asuransi umum.
Kemudian, pendapatan premi dari asuransi kendaraan bermotor senilai Rp5,84 triliun atau setara dengan 17,37% dari total premi industri asuransi umum.
Selanjutnya, pendapatan premi dari asuransi kredit sebesar Rp4,73 triliun atau 14,05% dari total premi industri asuransi umum.
“Secara prospek, 3 lini usaha tersebut [ditambah lini usaha kesehatan] memang menjadi tulang punggung industri asuransi umum dalam beberapa waktu terakhir, sehingga diproyeksikan ke depannya lini usaha tersebut tetap akan menjadi penopang utama industri asuransi umum,” ucap Ogi dalam lembar jawaban RDK OJK april 2026, dikutip pada Rabu (20/5/2026).
Lebih lanjut, Ogi turut menyampaikan bahwa kinerja profitabilitas industri asuransi secara umum menunjukkan perbaikan.
Baca Juga
- LPS Akan Jamin Polis Asuransi Mulai 2028, Peserta Disaring Berdasarkan Modal
- Ini Kata OJK Soal Dampak PHK terhadap Asuransi Jiwa Kredit
- OJK Ungkap Tiga Kapabilitas Wajib bagi Perusahaan Asuransi Kesehatan
Laba setelah pajak industri asuransi umum dan reasuransi tumbuh sekitar Rp0,08 triliun menjadi Rp4,22 triliun pada kuartal I/2026.
Menurutnya, peningkatan tersebut didorong oleh membaiknya hasil investasi, pertumbuhan premi pada beberapa lini usaha, serta penguatan efisiensi dan manajemen risiko perusahaan.
“Ke depan, prospek industri perasuransian masih cukup positif seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan keuangan dan penguatan transformasi industri,” tegasnya.
Kendati begitu, dia mengingatkan industri tetap perlu mewaspadai berbagai tantangan seperti tekanan klaim, volatilitas pasar keuangan, dan kondisi ekonomi global.
“Sehingga penguatan permodalan, tata kelola, dan manajemen risiko tetap menjadi perhatian utama,” pungkas Ogi.





