CELEBESMEDIA.ID, Makassar – Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza kian memburuk. Otoritas kesehatan setempat melaporkan sebanyak 76 persen alat pencitraan medis di seluruh rumah sakit Gaza kini dalam kondisi rusak dan tidak berfungsi.
Kondisi ini mengancam keselamatan nyawa ribuan pasien serta korban luka akibat konflik yang masih berkecamuk.
Direktur Unit Pencitraan Medis Otoritas Kesehatan Gaza, Ibrahim Abbas, mengungkapkan bahwa layanan pencitraan di rumah sakit yang tersisa saat ini berada dalam situasi kritis. Dari total fasilitas yang ada, hanya 24 persen perangkat yang tersisa. Itu pun merupakan mesin usang yang sangat sulit dioperasikan secara teknis.
"Pemeliharaan rutin hampir terhenti total akibat pembatasan ketat terhadap masuknya suku cadang perbaikan," ujar Abbas dalam pernyataan resminya, Selasa (19/5). Ia memperingatkan bahwa seluruh layanan pencitraan di wilayah kantong tersebut bisa kolaps sepenuhnya dalam waktu dekat.
Dampak kerusakan ini sangat masif. Konflik yang terus berlangsung telah menghancurkan sembilan mesin MRI, menyebabkan layanan tersebut lumpuh total. Selain itu, dari 18 pemindai CT (CT scanner), kini hanya tersisa lima unit yang masih bisa beroperasi.
Kondisi serupa terjadi pada fasilitas penunjang bedah lainnya. Dari 88 mesin sinar-X (X-Ray) yang tersedia sebelum konflik, hanya 33 unit yang masih berfungsi. Sementara untuk perangkat pencitraan fluoresensi yang krusial bagi prosedur bedah kompleks, jumlahnya menyusut drastis dari 16 unit menjadi hanya lima unit yang dapat digunakan.
Abbas menegaskan, kelumpuhan fasilitas medis ini menghambat tindakan darurat yang dapat menyelamatkan nyawa. Jika pemblokiran suku cadang terus berlanjut, kondisi kesehatan ribuan warga Gaza yang sakit dan terluka dipastikan akan semakin memburuk.
Sumber: Antara




