REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI menyediakan makanan siap santap atau ready to eat bagi jamaah haji Indonesia sejak menjelang puncak ibadah haji hingga setelahnya. Skema itu dipilih karena dinilai lebih praktis didistribusikan di tengah kepadatan jutaan jemaah, dengan tetap memenuhi kebutuhan gizi.
Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaff mengatakan, layanan konsumsi menjadi salah satu fokus utama pemerintah selama fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) 1447 Hijriyah/2026, bersama aspek transportasi dan akomodasi.
Baca Juga
400 Karyawan BUMN Digembleng Ikut Latihan Militer
Pertamina Patra Niaga Pastikan Distribusi Energi via MT Pagerungan Berbasis Ramah Lingkungan
Presiden Umumkan Pembentukan Badan Ekspor
Menurut dia, layanan konsumsi bukan sekadar penyediaan makanan, melainkan bagian penting dari upaya menjaga stamina dan kesehatan jamaah selama menjalani rangkaian ibadah haji yang padat dan menguras energi.
"Fase Armuzna merupakan periode yang sangat padat dan kompleks. Distribusi makanan dalam jumlah besar pada waktu bersamaan membutuhkan koordinasi lintas sektor, pengaturan logistik yang presisi, dan kesiapan transportasi yang optimal," ujar Maria beberapa waktu lalu.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Suasana wukuf di Arafah
Pemerintah pun memilih skema penyediaan makanan siap santap atau ready to eat (RTE) sebagai solusi layanan konsumsi selama jelang, saat, hingga pasca puncak haji.
Maria menjelaskan ada empat pertimbangan utama di balik penggunaan makanan siap santap bagi jemaah haji Indonesia. Pertama, kecepatan distribusi makanan ke hotel-hotel jemaah. Kedua, kemudahan konsumsi di tengah mobilitas tinggi selama Armuzna.