REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Komandan militer Iran kemungkinan telah memetakan pola penerbangan jet tempur dan pesawat pengebom AS di atas wilayah udara mereka.
Kondisi itu kian meningkatkan risiko jika Presiden AS Donald Trump memutuskan memulai kembali perang terhadap Iran. Demikian seorang pejabat AS melaporkan kepada The New York Times.
Baca Juga
400 Karyawan BUMN Digembleng Ikut Latihan Militer
WNI Diculik Israel, Global Peace Convoy Indonesia Desak Pembebasan Segera
Bea Cukai Lakukan Penindakan Terhadap 183 Ribu Batang Rokok Ilegal di Malang
Status pertahanan udara Iran merupakan komponen penting saat Trump mempertimbangkan apakah akan melanjutkan serangan terhadap Iran atau tidak.
Trump mengatakan pada Senin bahwa AS akan melanjutkan serangan terhadap Iran pada Selasa. Namun memutuskan untuk tidak melakukannya karena lobi dari Arab Saudi, Qatar, dan UEA.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Kami bersiap untuk melakukan serangan besar besok, dan saya menundanya untuk sementara waktu, mudah-mudahan mungkin selamanya, tetapi mungkin untuk sementara waktu, karena kami telah melakukan diskusi besar dengan Iran, dan kita akan lihat hasilnya,” kata Trump kepada wartawan.
Trump dan Menteri Perang Pete Hegseth telah berulang kali mengeklaim bahwa militer Iran telah lumpuh dan tanpa pertahanan udara. Meskipun AS umumnya mampu melakukan serangan udara di wilayah udara Iran, AS tidak memiliki dominasi total.
Tembak jatuh pesawat
Beberapa hari sebelum AS dan Iran mencapai gencatan senjata yang rapuh, Iran menembak jatuh pesawat tempur F-15E Strike Eagle, memicu operasi penyelamatan besar-besaran AS untuk para pilotnya.
"Jika Iran mampu menangkap pilot AS tersebut hidup-hidup, hal itu akan memberikan tekanan yang sangat besar pada Washington," kata para ahli.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)