PADANG, KOMPAS — Pasokan harian Biosolar di Kota Padang, Sumatera Barat, ditambah hingga 18 persen dari rata-rata distribusi normal. Langkah itu dilakukan menyusul antrean panjang kendaraan mengisi solar bersubsidi di sejumlah SPBU dalam beberapa hari terakhir.
Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara Fahrougi Andriani Sumampouw, mengakui ada kepadatan kendaraan di sejumlah SPBU di Kota Padang. Hal itu dipengaruhi meningkatnya permintaan solar pada waktu bersamaan, khususnya kendaraan logistik dan angkutan barang.
“Sebagai langkah antisipatif, untuk menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut terus menjaga ketersediaan stok BBM di SPBU dan meningkatkan penyaluran harian hingga 18 persen di atas rata-rata penyaluran normal selama periode Mei 2026,” kata Fahrougi, dalam siaran pers, Rabu (20/5/2026).
Fahrougi menambahkan, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut terus memonitor dan berkoordinasi intensif dengan seluruh lembaga penyalur untuk memastikan tetap terpenuhinya kebutuhan energi masyarakat dengan baik.
“Masyarakat diimbau membeli BBM sesuai kebutuhan agar distribusi energi dapat berjalan optimal dan merata,” katanya.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar Helmi Heriyanto mengatakan, stok Biosolar di Sumbar masih aman dan tidak ada hambatan pengiriman. Namun, ia mengakui, terjadi peningkatan konsumsi sehingga memicu antrean panjang di SPBU.
”Setidaknya 10 hari terakhir ada peningkatan konsumsi sekitar 8 persen. Ini yang membuat stok di SPBU cepat habis. Sembari menunggu suplai tangki berikutnya, terjadi antrean kendaraan,” kata Helmi, Selasa.
Helmi menyebut, Pertamina sudah berupaya menambah pasokan Biosolar 300-400 kl per hari dari rata-rata suplai harian di Sumbar sekitar 1.400 kl. Jadi, distribusi harian solar bersubsidi di Sumbar sudah mencapai 1.700-1.800 kl per hari. Namun, antrean kendaraan di SPBU masih terjadi.
”Jumat (15/5/2026), kami sudah bertemu Pertamina. Salah satu keputusan rapat, Gubernur Sumbar meminta Pertamina untuk menambah penyaluran dari kini 1.800 kl ditambah lagi sampai kondisi normal atau tidak terjadi lagi antrean,” ujar Helmi.
Sebelumnya diberitakan, antrean panjang kendaraan terjadi di sejumlah SPBU di Padang, antara lain di SPBU Air Tawar 14.251.525 dan SPBU Khatib Sulaiman 14.2515.83, Selasa (19/5/2026). Antrean mobil yang mengisi Biosolar ini meluber hingga memakan badan jalan.
Fadli (54), sopir travel Padang-Painan, mengatakan, sudah sejam mengantre Biosolar di SPBU Khatib Sulaiman 14.2515.83. Sebelum di SPBU ini, ia juga mencari solar bersubsidi di empat SPBU lainnya, tetapi stoknya kosong atau antrean terlalu panjang.
”Sekitar sebulan ini memang susah mencari solar (bersubsidi). Kadang sudah antre lama, pas giliran saya, stoknya habis,” kata Fadli.
Kesulitan mencari Biosolar membuat waktu Fadli habis untuk mengantre. Jumlah perjalanan travel-nya pun berkurang. Dalam sehari, biasanya ia bisa dua kali pergi-pulang Padang-Painan. Sejak solar langka, keberangkatan mobilnya kadang hanya dua kali pergi dan sekali pulang.
”Harapan saya ketersediaan solar kembali normal. Kalau harganya mau dinaikkan, silakan dinaikkan. Tapi, kalau digantung-gantung begini, masyarakat yang dibuat susah,” kata Fadli.





