BI Agresif Lakukan Ini untuk Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

idxchannel.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bank Indonesia (BI) menyatakan terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dengan berbagai instrumen.

BI Agresif Lakukan Ini untuk Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Bank Indonesia (BI) menyatakan terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dengan berbagai instrumen untuk menghadapi memburuknya gejolak global, di tengah tingginya permintaan musiman valas domestik.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, BI terus meningkatkan intensitas intervensi valuta asing, baik melalui intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri (offshore) maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar dalam negeri.

Baca Juga:
BI Naikkan Suku Bunga Acuan 50 Basis Poin Jadi 5,25 Persen

"Struktur suku bunga instrumen moneter juga diperkuat dengan kenaikan suku bunga SRBI seperti disebutkan di atas untuk menarik aliran masuk investasi portofolio asing," ujarnya dalam konferensi pers hasil RDG BI di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Lebih lanjut, kata Perry, BI juga memperkuat kebijakan transaksi pasar valas melalui penyesuaian threshold beli tunai valas terhadap rupiah tanpa underlying, peningkatan threshold jual DNDF/Forward, serta peningkatan threshold beli dan jual swap, yang berlaku sejak April 2026.

Baca Juga:
Jelang Pengumuman RDG, BI Disarankan Naikkan Suku Bunga Jadi 5 persen Imbas Pelemahan Rupiah

Selain itu, BI memperluas instrumen operasi moneter valuta asing dengan instrumen spot dan swap dalam valuta offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap rupiah dan perluasan transaksi perdagangan dan investasi menggunakan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT).

Seperti dikemukakan sebelumnya, gejolak global mengakibatkan pelarian modal keluar dari emerging markets dan kuatnya dolar Amerika Serikat (AS), sehingga memberi tekanan yang besar pada pelemahan nilai tukar hampir semua negara, termasuk nilai tukar rupiah. 

Di domestik, permintaan valas pada kuartal II-2026 meningkat cukup tinggi dipengaruhi oleh faktor musiman antara lain untuk pembayaran dividen dan utang luar negeri. 

Nilai tukar rupiah pada 19 Mei 2026 tercatat sebesar Rp17.700 per USD, atau melemah 2,20 persen (ptp) dibandingkan dengan level akhir April 2026.

"Ke depan, Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik," kata Perry.

(Dhera Arizona)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rapur DPR Setujui Perubahan Prolegnas Prioritas 2026: RUU Penyiaran-Perumahan
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Rupiah Melemah ke Rp 17.741, Harga Pangan Bakal Naik Imbas Tingginya Impor RI
• 10 jam laluviva.co.id
thumb
Emas Kembali Bersinar, Harga Antam-Galeri24 di Pegadaian Kompak Cetak Kenaikan
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Re-industrialisasi dan Hilirisasi Disebut Jadi Kunci Turunkan Biaya Logistik
• 21 jam lalubisnis.com
thumb
Erin Bongkar Rekaman CCTV ART Bersikap Gak Pantas dan Cuma Berpakaian Dalam di Rumahnya
• 23 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.