Importir Kedelai Pertahankan Harga di Tengah Pelemahan Rupiah

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Importir kedelai masih menahan kenaikan harga jual di tengah upaya pemerintah menjaga stabilitas pangan domestik.

Ketua Umum Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) Hidayatullah Suralaga mengatakan pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir telah meningkatkan tekanan terhadap harga kedelai impor di pasar domestik.

Namun, importir masih berupaya mempertahankan harga sesuai arahan pemerintah agar gejolak harga pangan tidak makin meluas.

“Pada saat ini harga jual kedelai impor di tingkat importir relatif stabil pada kisaran Rp10.200–Rp10.300 per kilogram,” ujar Hidayatullah ketika dihubungi, Rabu (20/5/2026).

Menurutnya, importir belum dapat memproyeksikan besaran kenaikan biaya impor karena struktur harga kedelai juga dipengaruhi dinamika harga global di Chicago Board of Trade (CBOT) serta biaya logistik dan transportasi internasional.

Dia mengakui ruang importir untuk menahan harga makin terbatas apabila pelemahan rupiah berlanjut. Jika harga sudah melampaui batas Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah, importir akan meminta penyesuaian kebijakan kepada Badan Pangan Nasional (Bapanas).

Baca Juga

  • Kementan Bongkar 3 Dugaan Penyelewengan, dari Mafia Proyek hingga Permainan Benih Rp3,3 Miliar
  • Harga Gabah Terus Naik dan Tembus Rp7.300, Bulog Tetap Beli di HPP
  • Rupiah Ambrol, Mentan Ancam Cabut Izin Importir Kedelai yang Naikkan Harga Semena-mena

“Kalau importir sudah tidak tahan menahan harga sampai batas HAP yang ditentukan pemerintah, nanti akan dilaporkan ke Bapanas untuk meminta penyesuaian,” katanya.

Sebelumnya, Pengamat Pertanian Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian menilai pelemahan rupiah memiliki dampak signifikan terhadap sektor pangan nasional karena tingginya ketergantungan impor pada sejumlah komoditas strategis.

Indonesia masih mengimpor sekitar 90% kebutuhan kedelai nasional, sementara gandum sepenuhnya impor dan bawang putih mencapai sekitar 95%.

“Karena mayoritas transaksi impor tersebut menggunakan dolar AS, maka ketika rupiah melemah, biaya impor otomatis meningkat dan akhirnya mendorong kenaikan harga pangan di dalam negeri,” ujar Eliza.

Menurutnya, dampak pelemahan rupiah tidak hanya akan dirasakan pada komoditas mentah, tetapi juga produk turunannya seperti mi instan, roti, tahu, tempe, hingga berbagai produk olahan pangan lainnya.

Kondisi tersebut memunculkan fenomena imported inflation atau inflasi impor, yakni tekanan inflasi yang berasal dari pelemahan nilai tukar dan tingginya ketergantungan terhadap barang impor.

Eliza menilai tekanan harga juga berisiko menjalar ke biaya produksi pangan domestik karena sebagian bahan baku pupuk, pakan ternak, energi, dan logistik masih dipengaruhi harga global berbasis dolar AS.

“Itulah mengapa pentingnya kita swasembada pangan dan diversifikasi ke pangan lokal agar tidak rentan terhadap dinamika global,” katanya.

Dia menilai upaya mencapai swasembada pangan membutuhkan dukungan teknologi benih, alat mesin pertanian, perbaikan irigasi, akses pembiayaan, hingga penguatan kapasitas petani.

Selain itu, pemerintah juga perlu memperbaiki manajemen pascapanen dan memangkas rantai distribusi agar harga pangan lebih kompetitif di tingkat konsumen.

“Yang paling penting hilirisasinya dibangun, petani diberikan kepastian pasar dan harga agar mendorong minat petani menanam,” ujar Eliza.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Suku Bunga BI Naik Jadi 5,25 Persen pada Mei 2026
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Purbaya Transfer Pemda Rp257 T, Daerah Bencana Sumatera Dipercepat
• 8 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Pencari Kerang di Pesisir Ngemplakrejo Pasuruan Meninggal Tersambar Petir
• 3 jam laluberitajatim.com
thumb
Solidaritas Sosial Jadi Wajah Budaya Kerja PNM
• 22 jam lalubisnis.com
thumb
22 Tahun Berumah Tangga, Charly Van Houtten Ungkap Rahasia Jaga Keutuhan dengan Regina
• 22 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.