Kaltim Tawarkan Proyek Fatty Amine Senilai Rp1,88 triliun di Bontang

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, BALIKPAPAN — Kalimantan Timur kembali membuka keran investasi besar-besaran di sektor hilirisasi industri sawit dengan menawarkan proyek pengembangan industri fatty amine senilai Rp1,88 triliun melalui skema Investment Project Ready to Offer (IPRO). 

Proyek yang berlokasi di kawasan Kaltim Industrial Estate (KIE) Bontang ini menargetkan kapasitas produksi 20.000 ton fatty amine dan 4.000 ton gliserol per tahun. 

Kepala DPMPTSP Kota Bontang, Muhammad Aspian Nur, menyatakan terdapat sejumlah indikator finansial Bontang, seperti Internal Rate of Return (IRR) 16,28%, Net Present Value (NPV) Rp743 miliar, dan periode pengembalian modal delapan tahun.

Dia menambahkan inisiatif ini merupakan respons strategis terhadap tingginya ketergantungan Indonesia pada impor bahan kimia industri. 

"Proyek raksasa ini diproyeksikan mampu memperluas rantai pasok pengolahan kelapa sawit secara masif, sekaligus menjadi jawaban konkret untuk mengurangi ketergantungan impor bahan kimia industri di dalam negeri," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (20/5/2026). 

Dia menambahkan pemilihan lokasi di KIE Bontang bukan tanpa perhitungan matang.

Baca Juga

  • Bontang Bidik Industri Pengalengan Ikan Jadi Andalan Ekonomi Maritim
  • Harga TBS Kelapa Sawit Kaltim Merangkak Naik Periode I Mei 2026
  • Ekspor Kaltim Merosot, Impor Justru Melesat 81,81% pada Maret 2026

Kawasan ini memiliki keunggulan komparatif berupa kedekatan dengan pelabuhan utama, infrastruktur energi yang memadai, serta akses langsung ke produsen amonia dan perusahaan petrokimia berskala besar. 

Posisi geografis Kaltim sebagai salah satu sentra produksi kelapa sawit terbesar di Indonesia pun menjamin keberlangsungan pasokan bahan baku dalam jangka panjang.

Sebagaimana diketahui, fatty amine merupakan produk turunan kelapa sawit bernilai tambah tinggi yang berperan sebagai bahan baku esensial untuk berbagai produk konsumen seperti pelembut pakaian, deterjen, kosmetik, dan pembersih rumah tangga. 

Pasar global komoditas ini terus mengalami ekspansi signifikan, di mana permintaan dunia pada 2022 mencapai 1,7 juta ton dan diprediksi tumbuh rata-rata 6,6% per tahun hingga 2029.

Di tengah pesatnya pertumbuhan pasar tersebut, Indonesia justru masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Aspian mengungkapkan bahwa proyek ini dirancang tidak sekadar mengejar keuntungan finansial, melainkan juga mengintegrasikan prinsip keberlanjutan lingkungan. 

"Kawasan pabrik nantinya akan dilengkapi dengan area terbuka hijau, pemanfaatan panel surya, penerapan green architecture, serta sistem smart building," jelasnya. 

Adapun, dia menuturkan kehadiran industri fatty amine ini diharapkan memperkokoh posisi Kaltim sebagai pusat hilirisasi industri berbasis sumber daya alam di Tanah Air. 

"Selain membuka keran ekspor baru untuk produk bernilai tambah, proyek ini diproyeksikan mampu menciptakan lapangan kerja baru, mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah, serta memperkuat daya saing industri nasional di mata dunia," katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Jamin Keselamatan 9 WNI yang Ditangkap Israel
• 1 jam laluliputan6.com
thumb
Ashmore AM Pilih Strategi Hati-Hati tapi Oportunistis di Pasar Saham RI
• 18 jam lalubisnis.com
thumb
Urus Dokumen, Warga Makassar Bisa Sidang di Dukcapil
• 18 menit lalucelebesmedia.id
thumb
Sempat Viral, Lapak Hewan Kurban di Trotoar Karet Tengsin Pindah
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Polbangtan Kementan, Dorong Generasi Muda, Bangun Startup Pertanian dan Peternakan Kompetitif
• 11 jam laluterkini.id
Berhasil disimpan.