Gejolak global yang makin panas akibat konflik Timur Tengah membuat dolar Amerika Serikat (AS) semakin perkasa.
Asal tau saja, nilai tukar rupiah pada 19 Mei 2026 tercatat sebesar Rp17.700 per USD, atau melemah 2,20 persen (ptp) dibandingkan dengan level akhir April 2026.
Dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur hari ini, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan secara rinci mengenai penguatan dolar AS yang dipicu oleh sejumlah faktor global.
Tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah memperburuk kondisi dan prospek perekonomian dunia. Lalu, penutupan Selat Hormuz mengakibatkan melonjak tingginya harga minyak dunia.
Terganggunya produksi, distribusi, dan rantai pasok perdagangan antarnegara juga mendorong kenaikan pada harga komoditas dunia lainnya.
"Perkembangan ini mengakibatkan prospek pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 diperkirakan akan lebih rendah menjadi sebesar 3,0 persen dan tekanan inflasi global meningkat menjadi sekitar 4,3 persen," jelas Perry, Rabu, 20 Mei 2026.
Baca juga: Bentengi Rupiah, BI-Rate Naik 50 Bps Jadi 5,25 Persen
Imbas dari kondisi itu, respons kebijakan moneter global menjadi lebih ketat, bahkan sejumlah bank sentral mulai menaikkan kebijakan suku bunganya.
Dia menyebutkan, suku bunga kebijakan moneter AS, Fed Funds Rate (FFR), diperkirakan tidak akan turun hingga akhir 2026 dan terdapat kemungkinan akan naik pada 2027 dengan inflasi AS yang masih tinggi.
Kemudian, imbal hasil (yield) US Treasury yang telah naik ke 4,66 persen (tenor 10 tahun) dan 4,11 persen (tenor 2 tahun) pada tanggal 19 Mei 2026, dan diperkirakan naik lebih tinggi didorong oleh defisit fiskal AS yang membesar.
"Di pasar keuangan global, memburuknya kondisi global tersebut mendorong berlanjutnya pelarian modal keluar dari berbagai negara, termasuk negara Emerging Markets, ke aset yang memberikan imbal hasil tinggi dan aman (safe-haven assets) khususnya obligasi AS," tuturnya.
"Perkembangan ini juga mendorong kuatnya Indeks dolar AS dan menimbulkan tekanan pelemahan baik terhadap mata uang negara maju (DXY) maupun mata uang negara berkembang (ADXY)," imbuhnya.
Sementara itu, dari dalam negeri, Perry juga mengatakan permintaan valas pada triwulan II 2026 meningkat cukup tinggi dipengaruhi oleh faktor musiman antara lain untuk pembayaran dividen dan utang luar negeri. Hal itu juga yang membuat posisi dolar AS melambung.
"Ke depan, Bank Indonesia meyakini nilai tukar Rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)





