JAKARTA, KOMPAS.com - Deru mesin bordir terdengar bersahut-sahutan dari gang sempit di kawasan Kramat, Senen, Jakarta Pusat, Selasa (19/5/2026).
Di sela suara jahitan dan ketukan logam, sejumlah pembeli tampak keluar masuk kios sambil membawa kantong plastik hitam berisi seragam satpam, sepatu dinas, hingga atribut keamanan.
Di sepanjang Jalan Kramat Pulo hingga Jalan Sedap Malam, deretan toko perlengkapan dinas berdiri rapat.
Papan nama bertuliskan “Perlengkapan TNI/Polri/Satpam”, “PDH-PDL”, hingga “Bordir Komputer” menggantung di depan kios semi permanen yang sebagian ditutupi terpal biru.
Baca juga: Maraknya Pengamen Gerobak di Jakarta Bukan Cuma soal Ketertiban, tapi Krisis Keterampilan Kerja
Kawasan ini sudah lama dikenal sebagai sentra perlengkapan keamanan dan atribut dinas di Jakarta.
Dari seragam satpam, sepatu PDL, topi, emblem, pin, hingga jasa bordir dan jahit custom, hampir seluruh kebutuhan perlengkapan keamanan tersedia di sini.
Meski begitu, denyut perdagangan di kawasan ini perlahan berubah.
Jika dahulu pembeli memenuhi lorong-lorong toko untuk berburu perlengkapan secara langsung, kini sebagian transaksi mulai berpindah ke layar ponsel.
“Dulu sebelum pandemi ramai, sekarang jauh berkurang,” kata Rio (23), pemilik toko perlengkapan dinas di Jalan Kramat Pulo saat ditemui Kompas.com di tokonya, Selasa.
Rio sudah berjualan di kawasan itu selama sekitar 10 tahun. Awalnya ia membuka usaha di kios kecil di bagian belakang kawasan, sebelum akhirnya pindah ke lokasi yang lebih strategis.
Di tokonya, berbagai perlengkapan keamanan dijual lengkap. Mulai dari seragam satpam, sepatu dinas, pin, wing, hingga perlengkapan olahraga tersedia di rak-rak besi yang memenuhi ruangan sempit.
Namun, menurut Rio, perubahan perilaku konsumen menjadi tantangan terbesar saat ini.
“Kebanyakan karena online sih. Orang sekarang lebih praktis, daripada keluar rumah mending beli online,” ujar dia.
Meski begitu, ia tetap mempertahankan toko fisik sambil membuka penjualan daring. Saat ini, menurut dia, porsi penjualan online dan offline relatif seimbang.
“Kurang lebih sama sih,” kata Rio.
Bagi Rio, kawasan ini bukan sekadar tempat jual beli perlengkapan keamanan. Kramat sudah menjadi ruang hidup yang bertahan melewati perubahan zaman, dari era belanja konvensional hingga perdagangan digital.
Namun, tantangan baru terus membayangi. Persaingan marketplace, perubahan pola konsumsi, hingga rencana pembangunan infrastruktur seperti MRT disebut pedagang dapat memengaruhi arus pembeli di kawasan tersebut.
“Kalau jadi jalur layang, orang mungkin enggak lewat bawah lagi,” kata Rio.
Meski demikian, para pedagang tetap bertahan sambil menyesuaikan diri dengan perubahan.
Baca juga: Ojol Gembira Grab dan Gojek Hapus Program Hemat: Mudah-mudahan Penghasilan Bisa Naik
Bertahan di tengah perubahanPerubahan suasana juga dirasakan Dede Rosita (27), penjaga toko perlengkapan dinas yang sudah bekerja di kawasan Kramat selama delapan tahun.
Menurut Dede, sebelum pandemi Covid-19, kawasan ini jauh lebih ramai dibanding sekarang.
Saat pandemi berlangsung, beberapa produk bahkan sempat mengalami lonjakan permintaan.
“Waktu itu APD sama sepatu safety putih lumayan ramai,” ujar Dede saat ditemui.
Kini, pembeli tetap datang setiap hari, tetapi ritmenya tidak lagi seramai dulu.
Penjualan lebih bergantung pada musim tertentu, seperti rekrutmen tenaga keamanan atau pendidikan institusi tertentu.
“Kalau lagi musim pendidikan TNI, barang-barang TNI yang ramai keluar,” kata Dede.





