REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industri drama Korea Selatan (drakor) diguncang kontroversi yang melibatkan drama terbaru produksi MBC, "Perfect Crown". Drama yang mengusung genre fantasi romantis dengan latar belakang sistem monarki konstitusional modern di abad ke-21 ini, dituduh melakukan distorsi sejarah yang fatal.
Alih-alih situasi menenangkan, pernyataan resmi dari penulis skenario utama, Yoo J-won, yang dirilis pada Selasa (19/5/2026) melalui situs resmi MBC, justru memicu gelombang kemarahan yang jauh lebih besar dari warganet Korea Selatan. Masyarakat menilai permohonan maaf tersebut sangat terlambat, tidak menyentuh akar permasalahan, dan terkesan meremehkan kritik dengan hanya mengategorikannya sebagai kesalahan akurasi. Padahal, masyarakat setempat memandangnya sebagai sebuah penghinaan dan pembelokan sejarah yang disengaja.
- Deretan Artis yang Suarakan Palestina di Festival Film Cannes 2026
- Fitur Instants di Instagram: Cara Pakai, Hapus, dan Menonaktifkannya
- Shakira Menang Sengketa Pajak di Spanyol Setelah 8 Tahun Proses Hukum
Sebelum penulis skenario membuka suara, gelombang protes dari pemirsa sebenarnya telah mencapai puncaknya setelah menawarkan episode ke-11 pada 15 Mei 2026. Dalam episode tersebut, terdapat adegan penobatan takhta yang dinilai sangat mencederai nilai-nilai sejarah bangsa.
Karakter Pangeran Agung Ian, yang diperankan oleh aktor Byeon Woo-seok, naik takhta diiringi oleh seruan para pejabat istana yang tertarik pada kata cheonse (panjang umur seribu tahun) alih-alih manse (panjang umur sepuluh ribu tahun). Penggunaan istilah ini memicu kemarahan instan karena dalam konteks sejarah Asia Timur, manse melambangkan lambang sebuah negara yang merdeka dan setara dengan kekaisaran, sedangkan cheonse secara historis digunakan untuk memosisikan sebuah kerajaan sebagai negara bawahan atau bawahan yang tunduk pada kekuasaan dinasti asing.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Kesalahan ini, ditambah dengan visualisasi mahkota berhias sembilan manik-manik serta adegan kontroversial di mana karakter ratu berlutut, dianggap warganet bukan lagi sekadar ketidakadilan kecil, melainkan sebuah bentuk distorsi sejarah yang sangat fatal dan berpura-pura. Menangapi tekanan publik yang kian masif, Yoo Ji-won akhirnya merilis pernyataan tertulis.
Dalam surat tersebut, ia mengungkapkan alasan di balik keterlambatannya dalam memberikan tanggapan serta mengakui kekurangan penelitian yang dilakukannya selama proses kreatif penulisan naskah. "Halo. Ini Yoo Ji-won, penulis dari acara 'Perfect Crown'. Saya dengan tulus meminta maaf karena telah mengecewakan dan membuat khawatir para penonton karena kontroversi yang mengelilingi akurasi sejarah acara ini. Saya sangat berhati-hati, khawatir bahwa berbicara di depan publik mungkin akan menyebabkan ketidaknyamanan yang lebih besar, dan sebagai akibatnya, butuh waktu bagi saya untuk membuat pernyataan ini. Saya meminta maaf karena telah menyebabkan lebih banyak masalah kepada banyak orang akibat hal tersebut," ujarnya dilansir laman Koreaboo pada Rabu (20/5/2026).




