Jakarta, VIVA – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo meyakini, meskipun BI Rate naik sebesar 50 basis poin (bps) pada Mei 2026, namun pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 akan tetap berada di kisaran 4,9-5,7 persen.
Sebab, BI ditegaskannya juga akan turut mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi nasional, saat menentukan seberapa besar BI Rate akan dinaikkan.
"Bagaimana pertimbangan yang seimbang antara pengendalian inflasi sesuai sasaran dan dampak yang tentu saja tidak terlalu besar terhadap pertumbuhan ekonomi,” kata Perry dalam telekonferensi pers, Rabu, 20 Mei 2026.
- [tangkapan layar]
Perry mengatakan, otoritas moneter juga terus melakukan koordinasi yang erat dengan pemerintah, utamanya terkait dengan kebijakan fiskal untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Kami tegaskan bahwa dalam mengukur BI-Rate 50 bps, kami juga menakar bahwa mampu mengendalikan inflasi dalam sasaran dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi masih tetap berada dalam kisaran sasaran 4,9 sampai 5,7 persen,” ujarnya.
Terkait inflasi, Perry memastikan bahwa bank sentral terus memantau perkembangan inflasi domestik secara ketat dari bulan ke bulan. Terutama soal perkembangan harga minyak dan komoditas global, yang berdampak pada harga-harga di dalam negeri termasuk barang impor.
Kenaikan harga komoditas dunia menurutnya akan memicu imported inflation, karena Indonesia masih bergantung pada bahan baku dan material dari luar negeri. Perry juga menilai, penyesuaian harga energi non-subsidi turut memberikan tekanan terhadap inflasi.
Karenanya, lanjut Perry, kenaikan BI Rate tidak hanya ditujukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, tapi juga untuk menjaga inflasi pada 2026-2027 tetap berada dalam sasaran sebesar 2,5 +/- 1 persen atau di rentang 1,5-3,5 persen.
Dia juga memastikan bank sentral bersinergi erat dengan pemerintah dalam pengendalian inflasi, melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID). Yakni untuk menjaga inflasi volatile food dan dampak rambatan harga global agar tetap terkendali.
“Itulah kenapa kenaikan BI-Rate 50 bps ini kami meyakini mampu membawa perkiraan inflasi 2026-2027 akan berada tetap berada dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen yang ditetapkan pemerintah,” ujarnya. (Ant).
Sebagai informasi, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 19-20 Mei 2026 memutuskan, BI Rate naik sebesar 50 bps dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen. Kemudian suku bunga deposit facility juga naik 50 bps ke level 4,25 persen dan suku bunga lending facility naik 50 bps ke level 6 persen. (Ant).





