Putin Klaim Sistem Dagang Rusia-China Kini Kebal Gejolak Global

wartaekonomi.co.id
9 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Vladimir Putin menyebut Rusia dan China kini telah membangun sistem perdagangan yang lebih stabil dan tahan terhadap tekanan eksternal maupun gejolak ekonomi dunia. Menurut Putin, hubungan ekonomi kedua negara terus menguat di tengah ketidakpastian global dan rivalitas ekonomi internasional.

Pernyataan itu disampaikan Putin usai perundingan Rusia-China di Beijing, Rabu (20/5). Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan hubungan dagang Moskow dan Beijing saat ini bukan hanya semakin besar, tetapi juga semakin strategis.

Putin mengatakan Rusia dan China kini menjadi mitra dagang utama satu sama lain. Nilai perdagangan kedua negara pada 2025 bahkan disebut telah mencapai hampir 240 miliar dolar AS atau sekitar Rp4.234 triliun.

Angka tersebut menunjukkan hubungan ekonomi Rusia-China tetap tumbuh meski dunia tengah menghadapi tekanan geopolitik dan perlambatan ekonomi global. Moskow dan Beijing justru memperluas kerja sama di berbagai sektor penting untuk memperkuat fondasi ekonomi kedua negara.

Menurut Putin, struktur perdagangan Rusia dan China juga mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Hubungan dagang keduanya kini semakin beragam dengan peningkatan transaksi barang bernilai tambah tinggi.

Di tengah tekanan Barat terhadap Rusia, penggunaan mata uang nasional juga menjadi perhatian utama dalam hubungan ekonomi kedua negara. Putin mengungkapkan hampir seluruh transaksi perdagangan Rusia dan China saat ini sudah menggunakan rubel dan yuan.

“Langkah-langkah terkoordinasi Rusia dan China untuk menggunakan mata uang nasional dalam transaksi bilateral sangat penting,” kata Putin kepada wartawan di Beijing dikutip dari Sputnik.

Ia menilai penggunaan rubel dan yuan membantu melindungi hubungan ekonomi kedua negara dari tekanan eksternal. Sistem perdagangan yang dibangun Rusia dan China juga disebut lebih aman dari fluktuasi pasar global.

Langkah tersebut dinilai semakin memperlihatkan upaya Rusia dan China mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam perdagangan internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, kedua negara memang terus memperkuat transaksi menggunakan mata uang nasional masing-masing.

Selain perdagangan dan mata uang, Putin mengatakan Rusia dan China kini tengah memperluas kerja sama strategis di sektor mineral dan logam kritis. Bidang tersebut dinilai menjadi sektor penting dalam industri teknologi, energi, hingga pertahanan modern.

Baca Juga: Trump Tidak Diajak! Putin dan Xi Jinping Sepakat Tinggalkan Dominasi Dolar AS

Kerja sama logam kritis juga dipandang sebagai langkah jangka panjang Rusia dan China dalam memperkuat posisi ekonomi mereka di tengah persaingan global. China selama ini dikenal sebagai salah satu pemain utama rantai pasok mineral penting dunia, sementara Rusia memiliki sumber daya alam yang besar.

Hubungan ekonomi Rusia dan China sendiri terus berkembang sejak meningkatnya tensi geopolitik antara Moskow dan negara-negara Barat. Di tengah sanksi dan tekanan internasional terhadap Rusia, China justru menjadi salah satu mitra ekonomi paling penting bagi Kremlin.

Putin menegaskan hubungan Rusia-China saat ini tidak hanya soal perdagangan semata. Menurutnya, kemitraan kedua negara telah berkembang menjadi kerja sama strategis yang mampu menghadapi tekanan ekonomi dan geopolitik global secara bersama-sama.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Respons Putusan MK Soal Kerugian Negara, KPK: Kalau di BPK Semua, Tidak Akan Terlayani
• 6 jam lalukompas.com
thumb
Prabowo Targetkan Rupiah Stabil di Rp16.800–Rp17.500 per USD pada 2027
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Mensesneg Pastikan Prabowo Hadiri Rapat Paripurna DPR RI Besok
• 22 jam lalujpnn.com
thumb
Reaksi Arsene Wenger usai Arsenal Resmi Akhiri Puasa Gelar Juara Liga Inggris Selama 22 Tahun
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Bahlil Jamin Tak Ada Pemangkasan Ekspor Gas dan Bebaskan DHE Migas
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.