REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Bertepatan dengan momentum Hari Kebangkitan Nasional 2026, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) resmi mendirikan I-CHIP (Indonesian Center for Health Evidence-Informed Policy). Ini adalah sebuah pusat studi transdisiplin yang didedikasikan untuk memperkuat kebijakan kesehatan nasional berbasis bukti ilmiah, integritas moral, dan keadilan sosial.
Pendirian I-CHIP menjadi bagian dari ikhtiar UMJ untuk menghadirkan kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab tantangan besar kesehatan nasional, mulai dari transformasi layanan kesehatan primer, pembiayaan kesehatan yang adil, ketahanan kesehatan menghadapi perubahan iklim, hingga penguatan kemandirian farmasi dan alat kesehatan nasional.
Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta, Ma’mun Murod Al Barbasy mengatakan lahirnya I-CHIP bukan sekadar pembentukan lembaga baru, melainkan bagian dari kebangkitan intelektual dan moral kampus dalam mengawal masa depan bangsa.
.rec-desc {padding: 7px !important;}“Hari Kebangkitan Nasional mengajarkan kepada kita bahwa kemajuan bangsa hanya dapat dibangun di atas ilmu pengetahuan, integritas, dan keberpihakan kepada rakyat. I-CHIP hadir sebagai manifestasi dari semangat tersebut. UMJ ingin memastikan bahwa perguruan tinggi tidak hanya menjadi menara akademik, tetapi juga menjadi pusat solusi bagi persoalan bangsa,” ujar Rektor UMJ.
Ia menegaskan bahwa I-CHIP akan dikembangkan sebagai pusat studi tingkat universitas yang bersifat kolaboratif, melibatkan berbagai disiplin ilmu, jejaring nasional, dan mitra strategis lintas institusi.
Sementara itu, Direktur I-CHIP UMJ, Arief Rosyid Hasan mengatakan I-CHIP lahir dari kegelisahan akademik sekaligus panggilan moral agar kebijakan kesehatan Indonesia tidak kehilangan arah keadilan sosial.
“Kami percaya bahwa kebijakan kesehatan tidak boleh hanya didorong oleh kepentingan pasar atau politik jangka pendek. Kebijakan harus dibangun di atas bukti ilmiah yang kuat dan keberpihakan kepada masyarakat luas, khususnya kelompok rentan. I-CHIP ingin menjadi jembatan antara sains, negara, dan kemaslahatan publik,” ujarnya.
Menurut Arief, I-CHIP mengusung spirit Catur Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, khususnya nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai instrumen pembelaan terhadap kaum mustadh’afin.
“Kalau dahulu Kyai Ahmad Dahlan menerjemahkan Surah Al-Ma’un melalui aksi sosial, maka hari ini kita menerjemahkannya melalui data, riset, dan kebijakan publik. I-CHIP adalah Al-Ma’un dalam bentuk sains kebijakan,” kata dia.
Ke depan, I-CHIP akan berfokus pada pengembangan policy brief, policy modelling, riset spasial kesehatan, survei nasional, penguatan transformasi layanan kesehatan berbasis AI dan big data, hingga konsorsium lintas kampus dan lembaga strategis nasional.
Melalui I-CHIP, UMJ menegaskan komitmennya untuk memperkuat posisi perguruan tinggi sebagai pusat navigasi kebijakan publik yang independen, berbasis bukti, dan berpihak pada kepentingan rakyat. I-CHIP diharapkan menjadi salah satu motor kebangkitan kebijakan kesehatan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Peresmian dan rapat persiapan I-CHIP digelar di lingkungan UMJ dengan dihadiri jajaran pimpinan universitas, Wakil Rektor UMJ, para Dekan di rumpun ilmu kesehatan, akademisi lintas disiplin, peneliti muda, serta para profesional yang bergerak di bidang kesehatan masyarakat dan kebijakan publik.
Hadir pula Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI, Asnawi Abdullah, yang memberikan dukungan terhadap penguatan ekosistem kebijakan kesehatan berbasis bukti di Indonesia. Selain itu, forum turut dihadiri Guru Besar Kesehatan Masyarakat Abdul Razak Thaha beserta sejumlah profesor dan tokoh kesehatan nasional lainnya.




