Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan penurunan angka stunting menjadi investasi strategis untuk mewujudkan generasi unggul di Indonesia.
Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN Budi Setiyono menyampaikan, Indonesia kini tengah berada di persimpangan sejarah pembangunan, di mana dalam dua dekade ke depan, bangsa ini akan menikmati momentum bonus demografi, yakni kondisi ketika jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibanding usia nonproduktif.
"Bonus demografi hanya akan memberikan manfaat apabila ditopang oleh kualitas sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan produktif. Di sinilah persoalan stunting menjadi tantangan serius yang tidak boleh dipandang sebagai isu kesehatan semata. Jika hari ini kita gagal melindungi anak-anak dari stunting, maka kita sedang mempertaruhkan kualitas generasi produktif di masa depan," ujarnya di Jakarta, Rabu.
Ia menegaskan, stunting menjadi ancaman nyata terhadap masa depan bangsa karena anak-anak yang mengalami stunting tidak hanya menghadapi hambatan pertumbuhan fisik, tetapi juga berisiko mengalami gangguan perkembangan kognitif, rendahnya kemampuan belajar, hingga menurunnya produktivitas saat memasuki usia kerja.
Baca juga: Wamendukbangga: Kolaborasi ayah-ibu kunci utama ketahanan keluarga
"Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambat kemampuan negara dalam memanfaatkan bonus demografi secara optimal," katanya.
Menurutnya, momentum jumlah penduduk usia produktif yang lebih besar sering disebut sebagai "Jendela Emas" yang dapat mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi, peningkatan produktivitas nasional, hingga penguatan daya saing Indonesia di tingkat global.
Oleh karena itu, penyelesaian stunting menjadi penting untuk memanfaatkan jendela emas tersebut, yang tidak dapat diselesaikan melalui pendekatan sektoral semata, tetapi membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
"Faktor penyebab stunting sangat kompleks, mulai dari kurangnya asupan gizi, kesehatan ibu dan anak, sanitasi lingkungan, akses air bersih, pola pengasuhan, hingga kondisi sosial ekonomi keluarga. Oleh karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan sejak dini, bahkan sejak fase sebelum kehamilan," paparnya.
Baca juga: Baznas-Kemendukbangga kolaborasi cegah stunting di Lebak Banten
Budi menegaskan, edukasi kepada calon pengantin, pemenuhan gizi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif, pemantauan tumbuh kembang anak, hingga penguatan literasi keluarga menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dalam penurunan stunting.
Kemendukbangga/BKKBN menginisiasi Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2025. Program ini menghadirkan pendekatan kolaboratif dengan melibatkan masyarakat, dunia usaha, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan untuk mendampingi keluarga berisiko stunting.
Genting tidak hanya berbicara tentang bantuan material, tetapi juga membangun kesadaran kolektif bahwa pencegahan stunting adalah tanggung jawab bersama. Pendekatan gotong royong seperti ini menjadi penting karena persoalan stunting memiliki dimensi sosial yang kuat.
"Negara tentu memiliki peran utama, tetapi keberhasilan penanganan stunting juga sangat ditentukan oleh solidaritas sosial masyarakat," ucap Budi.
Baca juga: Wamendukbangga: Perempuan pilar kesuksesan Indonesia Emas 2045
Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN Budi Setiyono menyampaikan, Indonesia kini tengah berada di persimpangan sejarah pembangunan, di mana dalam dua dekade ke depan, bangsa ini akan menikmati momentum bonus demografi, yakni kondisi ketika jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibanding usia nonproduktif.
"Bonus demografi hanya akan memberikan manfaat apabila ditopang oleh kualitas sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan produktif. Di sinilah persoalan stunting menjadi tantangan serius yang tidak boleh dipandang sebagai isu kesehatan semata. Jika hari ini kita gagal melindungi anak-anak dari stunting, maka kita sedang mempertaruhkan kualitas generasi produktif di masa depan," ujarnya di Jakarta, Rabu.
Ia menegaskan, stunting menjadi ancaman nyata terhadap masa depan bangsa karena anak-anak yang mengalami stunting tidak hanya menghadapi hambatan pertumbuhan fisik, tetapi juga berisiko mengalami gangguan perkembangan kognitif, rendahnya kemampuan belajar, hingga menurunnya produktivitas saat memasuki usia kerja.
Baca juga: Wamendukbangga: Kolaborasi ayah-ibu kunci utama ketahanan keluarga
"Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambat kemampuan negara dalam memanfaatkan bonus demografi secara optimal," katanya.
Menurutnya, momentum jumlah penduduk usia produktif yang lebih besar sering disebut sebagai "Jendela Emas" yang dapat mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi, peningkatan produktivitas nasional, hingga penguatan daya saing Indonesia di tingkat global.
Oleh karena itu, penyelesaian stunting menjadi penting untuk memanfaatkan jendela emas tersebut, yang tidak dapat diselesaikan melalui pendekatan sektoral semata, tetapi membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
"Faktor penyebab stunting sangat kompleks, mulai dari kurangnya asupan gizi, kesehatan ibu dan anak, sanitasi lingkungan, akses air bersih, pola pengasuhan, hingga kondisi sosial ekonomi keluarga. Oleh karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan sejak dini, bahkan sejak fase sebelum kehamilan," paparnya.
Baca juga: Baznas-Kemendukbangga kolaborasi cegah stunting di Lebak Banten
Budi menegaskan, edukasi kepada calon pengantin, pemenuhan gizi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif, pemantauan tumbuh kembang anak, hingga penguatan literasi keluarga menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dalam penurunan stunting.
Kemendukbangga/BKKBN menginisiasi Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2025. Program ini menghadirkan pendekatan kolaboratif dengan melibatkan masyarakat, dunia usaha, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan untuk mendampingi keluarga berisiko stunting.
Genting tidak hanya berbicara tentang bantuan material, tetapi juga membangun kesadaran kolektif bahwa pencegahan stunting adalah tanggung jawab bersama. Pendekatan gotong royong seperti ini menjadi penting karena persoalan stunting memiliki dimensi sosial yang kuat.
"Negara tentu memiliki peran utama, tetapi keberhasilan penanganan stunting juga sangat ditentukan oleh solidaritas sosial masyarakat," ucap Budi.
Baca juga: Wamendukbangga: Perempuan pilar kesuksesan Indonesia Emas 2045




