Malang (beritajatim.com) – Tiga mahasiswa Program Studi Sarjana Arsitektur, Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB) sukses mengukir prestasi gemilang di kancah nasional. Tim yang beranggotakan Zhafif Iltsar Hasanudin, Abdel A’la Musyahidan Al Ambari, dan Kafi Rizal Fawwaz ini berhasil menyabet Juara 1 dalam ajang Sayembara Wakaf Desain Arsitektur Rumah Pasca Bencana Banjir Sumatra.
Kompetisi bergengsi tersebut diselenggarakan oleh Yayasan Arsitektur Hijau Nusantara yang bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Provinsi Jawa Barat. Dalam ajang ini, tim FT UB sukses memikat para juri melalui sebuah karya desain inovatif bernama RUYU, sebuah konsep hunian adaptif yang dirancang khusus untuk menjawab tantangan wilayah rawan banjir di Sumatra.
Melalui konsep yang diusung, RUYU tidak hanya diposisikan sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai ruang hidup yang mampu beradaptasi dengan kondisi alam. Tim mahasiswa FT UB menegaskan bahwa mereka sengaja mengangkat filosofi hidup berdampingan dengan lingkungan, alih-alih melawan arus alam yang kerap memicu bencana.
“Bagi sebagian dari kita, rintik hujan tak lagi membawa sejuk, melainkan debar kecemasan akan banjir yang merenggut ruang hidup dan ketenangan,” ujar Zhafif Iltsar Hasanudin, ketua tim mahasiswa pada beritajatim.com, Rabu (20/5/2026).
Berangkat dari keresahan itu, mereka mencoba menghadirkan solusi arsitektur yang dinilai lebih manusiawi, fleksibel, dan berkelanjutan. Secara teknis, konsep RUYU mengadaptasi kearifan lokal rumah panggung Nusantara dengan mengangkat ruang utama keluarga ke bagian atas bangunan.
Sementara itu, area bawah rumah sengaja dirancang terbuka agar genangan air dapat mengalir tanpa merusak aktivitas utama penghuni. Pendekatan ini dinilai sangat efektif dalam mengurangi dampak banjir sekaligus menjaga keamanan penghuni saat debit air meningkat.
Selain struktur bangunan, tim FT UB juga memperhatikan detail interior rumah. Mereka menjelaskan bahwa bagian lantai bawah dirancang sangat fleksibel dengan penggunaan perabot yang mudah dibongkar pasang dan dipindahkan.
”Dengan konsep tersebut, penghuni dapat dengan cepat mengamankan barang-barang berharga ke lantai dua ketika terjadi banjir,” lanjut Zhafif Iltsar Hasanudin dalam penjelasannya.
Lebih lanjut, mereka memaparkan bahwa ketika bencana melanda, ruang lantai atas akan langsung difungsikan sebagai area perlindungan sementara yang aman dan nyaman bagi keluarga hingga kondisi kembali normal.
Menariknya, inovasi RUYU tidak hanya mengedepankan aspek teknis bangunan semata. Desain ini juga dirancang dengan membawa semangat kebersamaan dan gotong royong antarwarga.
”Rumah ini bahkan memungkinkan pengembangan ruang secara bertahap seiring bertambahnya anggota keluarga di masa depan. Pendekatan tersebut menunjukkan bagaimana arsitektur dapat menjadi solusi sosial sekaligus ekologis bagi masyarakat terdampak bencana,” pungkasnya. (dan/aje)




