JAKARTA, KOMPAS.TV – Politikus Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Sugiat Santoso menyebut Indonesia dapat bertahan saat terjadi krisis ekonomi karena adanya bantalan berupa ekonomi kerakyatan.
Ia menyampaikan hal itu menjawab pertanyaan apakah menurutnya nilai tukar rupiah dapat menguat.
“Saya pikir begini, kalau kita belajar misalnya 1997-1998, 1997 itu Rp2.500, dalam waktu satu tahun sekitar Rp15.000 sekian, itu hampir 500 persen,” katanya dalam dialog Sapa Indonesia Malam, Kompas TV, Rabu (20/5/2026).
“Kenapa Indonesia masih bisa bertahan dalam konteks ekonomi? Karena ada bantalan ekonomi di situ adalah ekonomi rakyat,” lanjutnya.
Ia kemudian membandingkan dengan pelemahan nilai tukar rupiah saat ini.
Menurutnya, saat Prabowo Subianto menjabat sebagai Presiden RI tahun 2024, nilai tukar rupiah terhadap dolar di kisaran Rp15 ribu per dolar.
Baca Juga: Politikus Gerindra: Membedah Ekonomi Kerakyatan dengan Pendekatan Kapitalisme Sangat Berbeda
“Kadang-kadang begini, naik dari, katakanlah di 2024, misalnya ketika Pak Prabowo menjabat sebagai Presiden, itu sekitar 15.000 sekian sampai 16.000 sekian, sekarang 17.000 sekian. Itu mungkin sekitar 30-an persen lah kenaikannya,” ungkapnya.
“Seolah-olah ada provokasi, kepanikan ke publik bahwa naiknya dolar ini bisa mengkolapskan ekonomi Indonesia atau katakanlah memporak-porandakan ekonomi Indonesia,” lanjutnya.
Tapi, kata Sugito, jika belajar dari krisis ekonomi tahun 1998, saat kurs dolar meningkat hingga 500 persen, dapat dilihat bahwa Indonesia dapat bangkit.
Penulis : Kurniawan Eka Mulyana Editor : Deni-Muliya
Sumber : Kompas TV
- politikus gerindra
- sugiat santoso
- ekonomi kerakyatan
- ekonomi indonesia





