Setiap perjalanan memiliki cerita yang berbeda. Aku memaknai perjalanan ini sebagai Carpe Diem. Sebuah ungkapan yang disampaikan oleh Horatius dalam karya puisinya yang berjudul Odes. Carpe Diem menganjurkan supaya seseorang dapat fokus yang terjadi sekarang ini. Nikmati dan lakukan apa pun yang kau senangi.
Kegiatan yang kami lakukan berawal dari ajakan, obrolan ringan sesama tentor untuk memanfaatkan waktu liburan kerja selama sehari, maka kami memutuskan akan melakukan trekking.
Trekking kami lakukan di hari kamis, 14 Mei 2026. Aku dan kak Fikri berangkat dari Lubang Buaya menuju ke lokasi sekitar Stadion Pakansari.
Perjalanan kami dimulai pukul 07.30 WIB di sekitar Stadion Pakansari. Aku kak dan Fikri sudah tiba terlebih dahulu dan kami singgah ke warung terdekat untuk santapan jasmani. Pagi itu suasana sekitar stadion sudah ramai. Diisi dengan aktivitas joging, senam, sepedaan, dan berfoto ria.
Tatkala kami sedang bersantap ria, kak Hilman ternyata juga sudah tiba di lokasi yang sama, akhirnya aku mengajaknya untuk bersantap jasmani juga sebelum pergi ke Cisadon. Saat kami sedang makan, kak Yusri dan kak Zul datang dan menegur dari seberang bahu jalan sambil berkendara menuju titik kumpul dan menunggu kami di sana. Kak Fikri juga bilang dua perempuan yang merupakan temannya dari Ciledug berencana akan ikut dan akhirnya bertemu di sekitar lokasi Stadion Pakansari.
Ternyata kak David juga sudah tiba di sana bersama dengan Kak Cecep, Kak Yusri, dan kak Zul yang sedang menunggu di titik kumpul. Setelah selesai makan, maka kami bertiga bergegas menuju ke titik kumpul. Kemudian, datang menyusul dari Citayem yaitu kak Andi dan kak Ubay.
Kami pun berkumpul. Sebelas orang ikut dalam perjalanan menuju ke Cisadon, terdiri dari sembilan laki-laki dan dua perempuan. Perjalanan ini terasa menarik karena berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Ada Kak Yusri tentor fisika, Kak Hilman tentor fisika, Kak Zulkifli tentor matematika, Kak Andhika tentor sosiologi sekaligus aku sebagai penulis cerita ini, kemudian Kak Fikri tentor biologi, Kak Andi tentor geografi, Kak Ubay tentor sejarah, Kak David tentor matematika, dan Kak Cecep operasional dan ia juga sebagai mahasiswa manajemen di STIE MBI. Dua perempuan yang ikut juga memiliki latar belakang yaitu kak Lita guru biologi di Sekolah Alam Tangerang, sementara kak Naila adalah mahasiswa semester empat di prodi PGSD Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Perjalanan menuju titik awal trekking, Kak Yusri memimpin sekaligus penunjuk arah.
Suasana mulai berubah. Bangunan beton yang sering kami lihat mulai berganti dengan jalanan yang dikelilingi pepohonan dan udara yang lebih sejuk. Ketika sampai di titik awal Cisadon, perjalanan mendaki dimulai. Jalur tanah, batu-batuan, pepohonan, dan suara alam mulai menemani langkah kami menuju Puncak Cisadon dan Danau Badeur.
Sepanjang perjalanan, obrolan maupun percakapan mengiringi langkah kaki kami. Tidak terkesan kaku dalam obrolan. Tidak ada papan tulis, tidak ada presentasi, tidak ada ruang kelas. Obrolan yang mengalir begitu saja, topik random tapi juga ada bahasan yang serius. Kak Fikri, Kak Lita, dan Kak Naila berjalan terpisah di belakang dan akan bertemu di puncak.
Dalam perjalanan ada saatnya kami berhenti untuk mengambil napas, minum, nyemil, dan ada yang makan ice cream. Jalur Cisadon menuju Danau Badeur bisa dikatakan landai dan banyak batu-batuan. Kami berjalan menuju puncak sekitar 7 km dengan waktu tempuh perkiraan 3-4 jam.
Ketika akhirnya tiba di Danau Badeur yang berada di ketinggian sekitar 1.100 Mdpl, kami menikmati momen. Danau Badeur saat itu ramai dikerumuni pengunjung, wajar hari libur. Danau itu menyegarkan mata. Pepohonan rimbun yang membuat suasana menjadi menenangkan serta udara segar dan dingin menghampiri kami. Lantas ketika kami bergegas mencari spot bukit yang bertingkat, kami langsung duduk lesehan, menyelonjorkan kaki, dan rebahan di rerumputan.
Selepas dari bukit, kami juga menyempatkan ambil pose sebelum ke warung untuk mengisi tangki kami yang sepertinya butuh diisi asupan setelah melakukan perjalanan.
Kami menuju warung makan tidak jauh dari lokasi Danau Badeur.
Lanjut setelah itu kami memesan mie goreng, mie rebus, dan kopi panas. Kami sambil menunggu makanan, tak lepas dari aktivitas percakapan. Obrolan yang kami bahas bukan tentang pekerjaan ataupun tugas kuliah melainkan menikmati momen dan topik random yang menarik untuk dibahas. Makanan dan minuman pun tiba. Kami menyantapnya dengan lahap, minum, maupun menyeruput kopi dengan nikmat. Di saat itu datanglah kak Fikri bersama Kak Lita dan Kak Naila.
Setelah itu, aku mengajak kak Fikri memesan makanan warung mang Romin, meskipun pada awalnya menolak karena sudah makan di warung lain saat perjalanan akhirnya ia turut memesan. Setelah makan, kami melanjutkan aktivitas rohani. Ternyata kak Yusri menemukan Musala yang sepertinya cukup besar dan toilet bersih dan gratis. Aku pun mengafirmasi bahwa jaraknya dekat. Nama Musala itu Musala Al-A’la. Aku, kak Yusri, dan kak David salat Zuhur di sini. Sedangkan yang lainnya salat di Musala Deket warung mang Romin.
Setelah makan, minum, dan salat. Kami bersiap untuk perjalanan turun menuju titik awal masuk Cisadon. Sebelum pulang kami menyempatkan foto kembali di sekitar Danau Badeur.
Setelah foto kami bersiap untuk turun. Ternyata hujan dengan deras disertai kilat saat perjalanan pulang dari puncak. Maka kami pun segera memakai jas hujan karena prediksi kak Yusri hujannya pasti lama. Kami semua memakai jas hujan. Saat sampai di gapura selamat datang, kami menyempatkan foto full tim.
Perjalanan turun, kami masih menggunakan jalur yang sama. Sekitar 7 km dengan waktu tempuh 3-4 jam.
Saat perjalanan sudah hampir tiba di area parkiran titik awal, aku mengajak kak Yusri, Kak Zulkifli, Kak Hilman, kak Ubay, dan Kak Cecep untuk mengeksplor ke kandang sapi. ketika kami singgah di kandang sapi, kami melihat banyak sapi betina dengan ukuran tubuh besar dan sehat sedang makan di kandang terbuka. Selain itu juga terdapat anakan sapi. Pemandangan yang jarang ditemukan bukit yang terdapat kandang sapi.
Kami juga menyempatkan membeli susu sapi segar hasil perasan langsung yang sudah didinginkan seharga Rp10.000/botol. Rasanya lebih segar, lebih alami, dan terasa seperti bagian dari pengalaman Cisadon itu sendiri.
Dari perjalanan ini, Cisadon tidak hanya terasa sebagai destinasi trekking, tetapi juga ruang pembelajaran tentang kehidupan. Desa ini memiliki daya tarik karena kemampuannya menjaga ekosistem hubungan antara alam dan makhluk hidup.
Berdasarkan informasi umum, kawasan Cisadon dikenal sebagai salah satu desa di wilayah Sentul yang masih mempertahankan nuansa pedesaan di tengah berkembangnya kawasan urban Bogor dan sekitarnya. Desa ini memang tidak banyak pemukiman ketika aku melihat secara langsung tetapi menurut berbagai cerita, Cisadon mulai dikenal luas oleh para pecinta alam dan aktivitas trekking karena jalurnya yang relatif ramah untuk pemula, tetapi tetap menghadirkan pengalaman alam yang menyenangkan. Selain jalur trekking, adanya Danau Badeur, peternakan sapi, dan pemandangan pegunungan menjadi magnet bagi banyak orang.
Cisadon adalah salah satu dari perjalanan kami. Mungkin, suatu hari nanti, jika ada kesempatan waktu dan kemampuan semangat itu akan kami lanjutkan di lokasi yang berbeda dengan nuansa laut atau udara di sekitar pantai. Semoga kami senantiasa sehat, panjang umur supaya dapat melanjutkan agenda-agenda berikutnya dan kesempatan untuk kembali menciptakan cerita-cerita sederhana di perjalanan berikutnya.





