Elkata A. B. Atua
Is it better to speak or to die? Pada impresi pertama, jawabannya terlihat seakan sudah final dalam banalitasnya sendiri. Bercakap. Tentu saja berbicara. Mengafirmasi apa yang kaurasakan, menelanjangi kebenaran, dan meliberalisasi diri dari belenggu sunyi eksistensi. Tapi konfigurasi jawaban yang lahir terlalu mudah pada akhirnya selalu runtuh di didepan interogasi rasio yang lebih radikal.
Karena kadang artikulasi tidak selalu identik dengan emansipasi. Bagi saya, berbicara justru menjadi sebentuk nekrologi eksistensial yang paling subtil. Mengungkapkan berarti anda membedah rongga ontologismu sendiri, dan menyerahkan organ paling rapuh dari eksistensimu ke tangan manusia lain, seraya berjudi dengan takdir dan harap bahwa mereka tidak akan mereduksinya menjadi serpihan banalitas.
Bahwa mereka akan mendengar secara eksistensial, tidak hanya menyimak secara mekanis. Memaknai secara hermeneutik, tidak sekadar mengangguk sebagai gestur sosial yang hampa makna. Tapi tragedi terbesar manusia adalah realita bahwa hampir tak seorang pun benar-benar bercakap dalam horizon kesadaran yang senada denganmu. Tidak secara total.
Maka sepanjang hidup, manusia dikutuk menjadi penerjemah atas kedalaman dirinya sendiri, kita mentranslasikan cinta, luka, ketakutan, serta absurditas batinnya ke dalam dialek-dialek yang mungkin mampu dikonsumsi orang lain.
Anda mencairkan intensitas dirimu, menumpulkan sudut-sudut paling liar dari autentisitasmu, mengeksplanasi dan terus menjelaskan, sampai akhirnya tetap ada fragmen makna yang gugur dalam setiap translasi. Dan dia setiap fragmen yang hilang itu, sebagian dari dirimu ikut mengalami amputasi eksistensial.
Saya pernah membaca sebuah aforisme: “Semoga kau menemukan seseorang yang berbicara dalam bahasamu, agar kau tidak perlu menghabiskan seumur hidup menerjemahkan jiwamu.” karena translasi jiwa merupakan operasi metafisik yang penat. Ia menguras manusia melampaui apa yang dapat dilakukan oleh kesunyian itu sendiri.
Pada titik tertentu, manusia mulai mengalami krisis identitas ontologis, siapa dirimu bila tak seorang pun dapat memahami apa yang sesungguhnya hendak kaukatakan? Kita bercakap, namun kata-kata keluar dalam keadaan cacat, retak, serta terdistorsi oleh limitasi bahasa.
Dan sekeras apa pun kau menjerit, bila tak seorang pun sanggup menafsirkan makna di balik jeritan itu, maka keberisuan mungkin lebih masuk akal dibanding artikulasi. Hal itu merupakan kekerasan paling primordiall dari eksistensi manusia.
Lalu ditengah semua itu, hadir antitesisnya: DIAM. Opsi yang terlihat aman, lebih steril dari luka. Kau menelannya sendiri, menggigit lidahmu sendiri, mengubur semua afeksi dan turbulensi batin sedemikian dalam hingga bahkan DIRIMU sendiri mulai kehilangan memori tentang bagaimana rasanya eksis secara otentik di bawah cahaya.
Ada yang melabelinya keteguhan, kedewasaan, martabat, atau kontrol diri. Namun sejatinya, itu tak lebih dari auto-negasi yang bertopeng sebagai kebijaksanaan. Diam merupakan kematian dengan ritme lambat. Ia tidak mendestruksi manusia dengan ledakan. Ia mengikis manusia secara gradual, butir demi butir, sampai yang tersisa hanyalah fosil penyesalan terhadap seluruh kebenaran yang tak pernah memperoleh keberanian untuk dilahirkan.
Dan saya rasa itulah keputusasaan yang mencapai bentuk metafisisnya yang paling vulgar. menyebutnya sebagai “the sickness unto death”, penyakit menuju kematian. Bukan kematian biologis, namun dekomposisi jiwa yang berlangsung dikala tubuh masih bergerak. Tetap bernapas secara fisiologis, tapi mengalami kebusukan secara spiritual.
Banyak yang berjalan di tengah dunia tanpa pernah sungguh dipahami, didengar, maupun diinterpretasikan secara utuh. Dan segmen paling brutal dari konfigurasi tragedi ini mungkin adalah posibilitas bahwa manusia memang tidak pernah ditakdirkan untuk sepenuhnya dipahami.
Mungkin mitos androgenik itu benar adanya, bahwa dulu manusia pernah utuh, lalu dibelah menjadi dua oleh kosmos, dan sejak itu dikutuk mengembara sepanjang sejarah demi melacak satu jiwa yang mampu memantulkan dirinya secara sempurna. Tapi probabilitas itu nyaris nihil. Satu di antara miliaran manusia. Sebuah statistik absurd yang menunjukan betapa kesepian sesungguhnya adalah struktur fundamental eksistensi.
Maka manusia senantiasa bercakap ke dalam kehampaan kosmik, dengan harap bahwa di suatu sudut realitas ada seseorang yang mampu menangkap intensi terdalam dari apa yang sebenarnya ia maksudkan, bukan hanya sonansi literal dari apa yang ia ucapkan. Jadi, bahkan kuriositas tentang apakah lebih baik berbicara atau mati?
Saya tidak tahu bagaimana mengenskripsikannya. Mungkin keduanya memang sama-sama modus kematian. Mungkin esensi yang sesungguhnya tidak pada apakah manusia harus berbicara atau diam, namun, bentuk kehancuran macam apa yang sanggup ia tanggung demi mempertahankan autentisitas dirinya?
Karena diam akan menyembelih diri secara perlahan tanpa saksi dan tanpa drama. Tetapi berbicara, berbicara mungkin akan begitu katastrofik dengan lebih cepat. Ia mungkin meremukkan jantung eksistensialmu sendiri. Namun ada probabilitas kecil. nyaris nihil, bahwa ia tidak akan usai dalam destruksi.
Dan mungkin, sekecil apa pun probabilitas itu, ia tetap layak dipertaruhkan dengan seluruh eksistensi.nKarena dikala manusia memang harus mati, setidaknya biarlah kematian itu terjadi demi kebenaran paling otentik tentang dirinya sendiri. Bukan demi versi dirinya yang tak pernah benar-benar memperoleh ruang untuk didengar oleh dunia.
Berdiam dan berkontemplasi membuat saya bersua pada sesuatu yang secara subtil beroperasi di balik seluruh konfigurasi eksistensial, hal yang tidak hanya terselubung, namun justru membentuk posibilitas bagi segala yang tampak.
Risalah ini saya dedikasikan untuk subjek, yang senantiasa membangun proyek sedimentasi otentik dalam identitas represif. Dengan dambaan bahwa nantinya dalam spektrum kehidupan ini, kita akan tiba pada keteguhan untuk jujur terhadap identitas sebenarnya dari diri. Yang dikehendaki adalah luminositas, namun luminositas itu pun terlampau menyilaukan sampai kita kehilangan kontur dari apa yang hendak ditangkap.
Banyak subjek mengikhtiarkan signifikansi, namun esensi itu berlipat menjadi kevakuman semantik yang menolak segala bentuk finalisasi. Hasrat untuk menghadir sepenuhnya, kontradiktif dengan tuntutan amputasi terhadap konfigurasi posibilitas alternatif dari diri. Kita hendak menangguhkan diri, tapi penangguhan itu perlahan menggerogoti realita ontologis yang ingin dipreservasi.
Sehingga, kita tidak berdiam dalam bineritas antara hadir atau tidak hadir, ia menjadi peristiwa yang mensuspensikan keduanya. Di sini, yang terselubung bukanlah sesuatu yang gagal memantulkan diri. Ia malah menjadi prasyarat ontologis agar sesuatu bisa termanifestasi tanpa mengalami destruksi di dalam manifestasinya sendiri.
Bila menelaah kultur metafisika klasik, kita pasti akan tergoda untuk menganggap kebenaran sebagai keterbukaan total, seakan realitas merupakan transparansi yang menunggu untuk disingkap.
Akan tetapi, bila dilakukan telaah radikal atas Heraclitus (akhir-akhir ini saya bergitu tertarik dalam medan gravitasi kognisinya), yang lalu diolah ulang oleh Heidegger, malah yang sebaliknya terjadi. Yang terselubung bukanlah kegagalan dari kebenaran, ia menjadi syarat probabilitas kebenaran itu sendiri.
Di titik ini, bahkan saya mencurigai seluruh intuisi epistemologis diri sendiri. Sebab bila keber-ada-an (Being) tidak eksis sebagai sesuatu yang seutuhnya terbuka, niscaya setiap upaya untuk mengetahui selalu sudah terbelenggu dalam permainan antara pengungkapan (aletheia) dan penyembunyian (lethe).
Dan di sinilah banyak kultur popular yang kini berkelindan dalam alur proyeksi trajektori sinematik, semiotik atau literatur menjadi intrik bukan sebagai narasi cinta dan identitas, akan tetapi sebagai eksperimen ontologis. Karena kita sebenarnya memantulkan realitas tentang bagaimana manusia tidak sebatas menyembunyikan sesuatu, namun ada sebagai sesuatu yang tersembunyi.
Kini saya sementara terbenam dalam tafsir Heidegger atas Heraclitus, bahwa kebenaran bukanlah korespondensi, tetapi peristiwa. Ia bukan implikasi, melainkan proses. Kebenaran terjadi dikala sesuatu muncul, akan tetapi kemunculan itu selalu dibayangi oleh sesuatu yang tetap tidak muncul. Saya melabeli fenomena ini sebagai Onto-Latensi, yakni keberadaan yang selalu tertunda dalam ketidakterbukaan.
Kita (sebagai manusia) memiliki kecenderungan untuk mengendapkan yang otentik dari perasaan. Bahkan bila formula ini saya tautkan pada diri sendiri, konklusi radikal yang tak bisa disangkal adalah, saya menjadi subjek yang keberadaannya sendiri terstruktur oleh penundaan pengungkapan. Kerap kali saya mendengar argumentasi manusia lain, bahwa “orang yang membaca adalah penyembunyi” membuka dimensi epistemologis yang lebih gelap.
Sehingga membaca tidak sekadar mengafirmasi makna, ia menjadi tindakan penyaringan, penundaan, dan secara subtil menghindari keterbukaan total. Artinya, semua operasi pembacaan merupakan strategi taktis eksistensial agar tidak sepenuhnya hadir. Saat saya mendalami manuskrip tentang Heraclitus, secara simultan juga membaca pantulan diri, dan dalam proses itu, ada esensi diri yang sengaja kita sangkal dan hindari dari diri sendiri.
Evasi hermeneutik yang bahkan tidak mempu membedah misteri hati. Identitas diri yang diacuhkan lewat interpretasi.
Daniel Dahlstrom
Bagi Yunani Kuno, keberadaan (being) tidak pernah seutuhnya terpapar dalam terang totalitas. Esensi yang menyingkapkan diri (aletheia) dari horizon ketaktertahuan/ketertutupan (hiddenness), dan malah ketertutupan itu inheren serta konstitutif sebagai modus eksistensial dari cara entitas mengada, baik dalam otonomi dirinya maupun dalam konektivitasnya dengan yang lain.
Bila anda membaca kerangka paradigmatik Heidegger, kebenaran tidak direduksi sebagai korespondensi banal antara proposisi serta fakta, tetapi konfigurasi fenomena penyingkapan (unconcealment), yaitu tersingkapnya sesuatu dari rahim ketaktertahuan. Ketertutupan (kegelapan/misteri) tidak menjadi antitesis dari keberadaan, namun fondasi ontologis yang membuka posibilitas sesuatu tampil sebagai yang-ada.
Segala sesuatu yang mengada, baik itu manusia, alam, atau benda, senantiasa sarat akan dimensi laten yang tak tersingkapkan secara total. Sesuatu memantulkan dirinya (fenomenal), tapi pada momentum yang simultan ia menyisakan residu ketersembunyian yang tak tereliminasi.
Bagi saya, makhluk atau entitas tidak pernah mencapai transparansi absolut untuk dirinya sendiri maupun terhadap esensinya. Keberadaan suatu entitas sekaligus menjadi batas yang menyelubungi dirinya dari entitas lain. Ketaktertahuan tidak sekadar defisit epistemik manusia, ia adalah struktur inheren dari realitas itu sendiri.
Misalnya, akhir-akhir ini saya sangat terpukau mengagumi patung periode heleneik, yunani/romawi kuno. Semakin optik saya tertegun dengan keagungannya, semakin saya bersua pada realitas bahwa mereka menyingkapkan pesona estetiknya (sebagai yang tampak), namun esensi terdalam serta seluruh probabilitas makna yang dikandungnya tetap berdiam dalam terirori ketersembunyian (hiddenness), yang tidak pernah bisa dihadirkan secara simultan dan total.
Tapi malah dalam ketersembunyian itulah saya, menemukan auranya sebagai yang misterius sekaligus sebagai yang sungguh-sungguh mengada. Pernakah anda berkuriositas tentang identitas subjek yang seakan tak pernah tiba?
Saya (entah sampai kapan) akan senantiasa berkutat, terbelenggu, dan terjerat tidak dalam relasi ketidaktahuan menuju pengetahuan. Itu terlalu simplistik. Saya mereka tahu, namun tidak memberi akses pada pengetahuan itu menjadi realitas. Eksistensi yang terus-menerus ditunda.
Identitas kerap kali tidak bercakap karena takut. Ia tidak terejawantahkan karena keberadaannya hanya mungkin dalam kondisi tidak sepenuhnya terungkap. Saya selalu menggugat, mengapa hal ini terjadi? Tentunya kita tahu, bahwa segala sesuatu yang berkelindan di dunia ini, tak lepas dari gelanggang linguistik.
Namun dalam kerangka ini, saya merasa, bahkan bahasa gagal menjadi instrumen komunikasi. Setiap dialog terlalu lambat, terlalu metaforis, terlalu tidak langsung. Seakan bahkan bahasa sendiri sadar bahwa ia tidak mampu menanggung beban kebenaran otentik yang ingin diungkapkan.
Subjek akhirnya senantiasa terjebak dalam siklus dimana berbagai simptom yang selalu berhenti sebelum mencapai makna. Dalam situasi seperti ini, biasanya kognisi melarikan diri mencari suaka alternatif.
Bila bahasa gagal, tubuh mencoba mengambil alih. Mulai dari tatapan, gestur, jarak, semuanya menjadi esensi komunikasi yang lebih primordial, namun justru lebih otentik. Tapi bagi saya, bahkan tubuh pun tidak sepenuhnya berhasil.
Mengapa? Karena tubuh juga terjerat dalam struktur sosial, norma, dan kecemasan historis. Sehingga tubuh tidak mengungkapkan, ia hanya membocorkan. Saya berkontemplasi, memproyeksikan peristiwa dimana banyak yang membuka agar diketahui, namun setiap keterbukaan menyisakan residu yang tak pernah sepenuhnya tersentuh.
Kita menyingkap agar dapat dipahami, tapi bahkan pemahaman itu sendiri beroperasi lewat mekanisme deferensi terhadap ketuntasan. Sehingga banyak yang dipaksa menerima sebuah kontradiksi yang mustahil direkonsiliasi, yaitu kebenaran hanya mungkin eksis karena ia tak pernah sepenuhnya menghadirkan dirinya.
Yang terlihat senantiasa sarat akan yang tak tampak. Yang terartikulasikan senantiasa menyimpan yang tak terkatakan. Di antara keduanya, makna tidak berdiri sebagai stabilitas kepastian, ia menjadi tegangan ontologis yang tak kunjung mencapai terminus. Apa yang dilabeli sebagai pengungkapan sesungguhnya hanyalah rekonfigurasi dari apa yang disembunyikan.
Sepanjang trajektori saya, sejauh yang terbesit dalam arsip memoratif (dan semakin intens akhir-akhir ini), adalah mengeksplor baik secara reflektif maupun kontemplatif, apakah lebih arif mengambil risiko dengan mengartikulasikan secara autentik perasaan yang paling esensial (tentang cinta, kebenaran, dan kerentanan eksistensial) seraya berhadapan dengan probabilitas penolakan yang inheren, atau harus memilih diam dalam kebisuan yang represif dan menanggung “kematian” metaforis yang berlangsung perlahan dalam bentuk penyesalan.
Hal ini senantiasa berkutat dalam benak saya dengan pertimbangan secara dialektis tentang penderitaan yang lahir dari keterbukaan diri dengan kehampaan ontologis yang ditinggalkan oleh peluang yang tak pernah diwujudkan. Bagi orang lain, kuriositas ini kerap dipandang sebagai dilema psikologis.
Bila anda masih terjebak dalam logika itu, maka pembacaan anda pada identitas masih dangkal. Karena ada senyawa yang bahkan bahasa, tubuh, dan dunia tak mampu enskripsikan dalam realitas sosial. Dikala konfigurasi arsitektur naratif yang berkelindan di dalam tegangan laten antara penyingkapan dan penangguhan itu terjadi, maka berbagai esensi kosmik hadir bukan semata sebagai fragmen emosional, tetapi sebagai artikulasi ontologis paling desnuda dalam keseluruhan trajektori sinematik kehidupan kita.
Berbagai percakapan intim antara sesama manusia, belum tentu bersua pada sebuah peristiwa filosofis disaat eksistensi akhirnya melantahkan esensi dirinya sendiri setelah terlalu lama terbelenggu dalam disiplin kebisuan yang terinstitusionalisasi.
Pernahkah terbesit dalam nalar anda, bahwa kita seharusnya sudah melampaui fakta bahwa sesama manusia wajib saling “memahami”. Sepatutnya diera kini, pembacaan sentimental terhadap perbedaaan terlalu elementer dan banal.
Perbincangan mengenai identitas yang berseberangan dengan paradigma konvensional dianggap tabu. Ialah bahwa kita harus memahami sesuatu yang lebih primordial ketimbang identitas dan orientasi seksual, yaitu struktur kehilangan yang inheren di dalam setiap pengalaman manusia yang benar-benar pernah hidup secara otentik.
Karena sesungguhnya kita tidak hanya sedang mempersoalkan mekanisme psikologis pemulihan kecemasan, namun kritik genealogis bagi peradaban modern yang terobsesi pada anestesia afektif. Banyak kisah dimana seakan saya merasa bahwa peradaban manusia tidak dididik untuk mengalami rasa, namun dilatih menyingkirkannya secepat mungkin agar tetap kompatibel di dalam mekanisme struktur keteraturan sosial.
Di lapisan inilah, rasa sakit direduksi menjadi disfungsi produktivitas. Padahal justru di dalam penderitaan itulah manusia menyentuh evidensi paling konkret bahwa dirinya pernah sungguh-sungguh hidup. Sehingga saya ingin kita semua untuk menggugat logika eksistensial kontemporer yang menafsirkan penyembuhan (demi kesenadaan dengan realitas sosial) sebagai eliminasi afek.
Upaya membinasakan penderitaan acap kali secara simultan turut membinasakan kapasitas manusia untuk mengalami intensitas kehidupan itu sendiri. Entah sudah berapa banyak manusia yang menekan originalitas dirinya agar dapat kompatibel dengan horizon moralitas normatif. Sehingga menjadi mati rasa akibat represi atau penyangkalan bukan bentuk kemenangan atas penderitaan. Ia bermetamorfosis menjadi kebangkrutan eksistensial.
Karena afek (baik itu cinta, kehilangan, penyangkalan, ataupun kesedihan) bukan sebatas emosi psikologis yang hadir lalu menghilang. Afek merupakan evidensi bahwa keberadaan masih memiliki keterbukaan terhadap dunia. Saya menakar, tanpa afek, manusia mungkin senantiasa eksis secara biologis, namun kehilangan kapasitas ontologis untuk mengalami makna. Rasa sakit akibat penyangkalan bukan sesuatu yang harus “disembuhkan”.
Justru hal itu merupakan residu ontologis dari sesuatu yang pernah benar-benar hadir dan paling memukau. Kondisi dikala kehilangan karena melepaskan (dan akibat penyangkalan) meninggalkan sedimentasi keberadaan yang terus bertahan bahkan setelah objeknya telah lenyap.
Oleh sebab itu, kesedihan bukan antitesis dari cinta. Ia adalah evidensi bahwa cinta pernah membuka horizon eksistensial tertentu di dalam diri subjek. Dan karena horizon itu pernah terbuka, dunia tidak mungkin kembali sepenuhnya identik seperti sebelumnya, bila senantiasa berkutat dalam kedangkalan untuk merangkul semua esensi dunia.
Beberapa kali, saya berbincang dengan sekelompok generasi yang hidup di bawah represi senyap. Banyak kalimat yang memuat afirmasi tentang eksistensi yang tertunda, dan posibilitas hidup yang tidak pernah sungguh-sungguh diwujudkan karena senatiasa ada sesuatu yang “menahan”.
Saya kerap bertanya, mengapa dunia ini tidak pernah menjelaskan "apa itu". Apakah karena sistem, struktur, kerangka berpikir, dan lain sebagainya? Tapi akhirnya saya berkonklusi bahwa justru di situlah kedalaman ontologisnya bersemayam.
Karena “something” itu bukan sebatas hambatan eksternal. Ia dapat berupa norma, ketakutan, sejarah, moralitas, kecemasan, atau bahkan refleks sensor diri yang terlalu lama diinternalisasi menjadi bagian dari kesadaran. Sehingga saya sengaja biarkan dia mengambang secara abstrak agar anda melabelinya sendiri.
Ini terjadi bukan tanpa alasan, manusia acap kali tidak gagal mencintai karena ia tidak memiliki cinta. Ia gagal karena tidak mampu menanggung konsekuensi ontologis dari keterbukaan. Sehingga pada hakikatnya terdapat kondisi dikala subjek mengukuhkan dirinya di dalam penangguhan pengungkapan untuk menjaga posibilitas tetap hidup.
Tapi saya menyadari sesuatu yang tragis, bahwa penangguhan yang terlalu lama perlahan bermutasi menjadi bentuk amputasi eksistensial. Karena setiap hasrat yang senantiasa ditunda akan meninggalkan sedimentasi kehilangan yang tidak pernah sungguh-sungguh menghilang.
Perlu saya beberkan, bahwa ketersembunyian memang merupakan struktur inheren dari keberadaan, namun manusia juga tidak mungkin terus hidup sepenuhnya di dalam represi. Ada situasi disaat eksistensi harus mengambil risiko untuk hadir. Karena jika tidak, subjek akan terjerat di dalam kehidupan yang secara biologis kontinous, namun secara ontologis tidak pernah benar-benar terjadi.
Semua kapasitas manusia untuk mengalami intensitas keberadaan, baik itu rasa sakit maupun kebahagiaan bukan dua entitas yang sepenuhnya terpisah. Keduanya bermula dari suaka ontologis yang senada, yakni keterbukaan afektif pada dunia. Menyembelih rasa sakit akibat represi, suspensi dan penyangkalan pada identitas otentik berarti sekaligus membunuh probabilitas untuk kembali mengalami cinta secara utuh.
Agak ironis bukan? Kita ingin menghindari penderitaan, namun malah di dalam upaya menghindarinya, ia kerap kali memiskinkan dirinya sendiri secara eksistensial. Sehingga bila saya bercakap di dalam horizon hiddenness, penangguhan, serta ketakterucapan, ada satu koreksi fundamental yang ingin saya deklarasikan. Bahwa tidak semua yang tersembunyi harus selamanya dipertahankan di dalam kebisuan.
Karena ada bentuk-bentuk keheningan yang bukan lagi misteri ontologis, tetapi pengingkaran terhadap kehidupan itu sendiri. Dan mungkin di sinilah tragedi terbesar manusia, bukan gagal menemukan cinta, tapi ia terlalu tergesa membinasakan rasa untuk mempertahankan keberlangsungan hidup di dunia yang gentar terhadap intensitas.
Kini, saya ingin menginfuskan esensi teologis dalam risalah ini, dimana konfigurasi risalah ini terlalu lama memposisikan tubuh hanya sebagai medium kebocoran eksistensial, sebagai entitas yang gagal mengartikulasikan intensitas terdalam dari Ada. Akan tetapi justru pada simpul inilah Teologi Tubuh (yang merupakan Ensiklik Yohanes Paulus II) menghadirkan disrupsi epistemik yang nyaris subversif.
Pertama kali dikenalkan pada saya oleh Adrianus Lengu Wene (seorang pengajar di UKI Jakarta). Disaat membacanya saya begitu tertegun menyelami relung paradigmatik Sri Paus, dimana tubuh bukan sebatas materialitas biologis, atau instrumen netral yang dikenakan subjek layaknya kostum fenomenologis.
Tubuh merupakan revelasi. Ia bukanlah objek yang terikat secara kontraktual dengan manusia, ia adalah modus keberadaan menyingkapkan dirinya sendiri. Tapi justru karena tubuh merupakan wadah penyingkapan, ia sekaligus menjadi locus paling vulgar bagi keterlukaan ontologis.
Di sini saya mulai mencurigai sesuatu, mungkin tragedi manusia kontemporer tidak terjadi karena tubuh terlalu sering dibisukan, namun karena tubuh terlalu lama dipaksa berbicara dalam gramatika yang asing bagi ontologinya sendiri. Ada semacam esensi pekuliar yang bersemayam dalam subjek.
Bagi mereka yang tercerahkan ketika membaca Teologi Tubuh, pastinya akan sadar bahwa ensiklik itu tidak memandang tubuh sebagai benda yang harus didisiplinkan untuk moralitas legalistik. Bagi saya itu adalah tafsir katekismus yang begitu elementer.
Yang jauh lebih spektakuler ialah fakta bahwa tubuh memuat apa yang oleh Yohanes Paulus II disebut sebagai makna sponsal tubuh, yaitu kecenderungan primordial untuk keluar dari alienasi diri menuju pemberian diri. Tapi yang menjadi problemnya, pemberian diri senantiasa mensyaratkan keterbukaan, dan keterbukaan sarat akan probabilitas destruktif.
Karena itu manusia kontemporer mengonstruksikan mekanisme defensif, ia menjaga tubuh tetap hadir secara biologis, namun menariknya mundur secara ontologis. Tubuh akhirnya hadir tanpa sungguh-sungguh memperkenankan dirinya untuk hadir. Ada retraksi ontologis tubuh dari posibilitas keterbukaan total.
Maka apa yang selama ini terlihat sebagai “represi identitas”, seyogyanya jauh lebih dalam daripada sebatas perseteruan psikologis atau konstruksi sosial. Ia menjadi kecemasan metafisik terhadap konsekuensi dari keterlihatan. Karena begitu tubuh membeberkan dirinya secara otentik, ia tidak lagi dapat kembali menjadi kemungkinan murni.
Dan di sinilah saya berjumpa dengan paradoks Teologi Tubuh, yang menjadi mengerikan sekaligus sublim. Tubuh hanya menemukan maknanya dikala ia berani menjadi bahasa, namun setiap bahasa senantiasa berada di bawah ancaman disalahpahami.
Bila anda menelaah kerangka literatif Paus Yohanes Paulus II terhadap Kitab Kejadian, rasa malu pascakejatuhan manusia tidak sebatas moral panic akibat seksualitas. Itu terlalu simplistis. Malu lahir karena manusia tiba-tiba sadar bahwa dirinya dapat direduksi menjadi objek tatapan.
Akan tetapi, saya ingin mengangkat percakapan ini lebih jauh dengan pertanyaan, bagaimana jika rasa malu bukan konsekuensi dosa, namun memori primordial bahwa tubuh seyogyanya diciptakan untuk transparansi yang kini tak lagi mungkin dipertahankan? Itu berarti malu tidak menjadi antitesis dari keterbukaan. Ia merupakan residu traumatis dari keterbukaan yang pernah utuh.
Sehingga tubuh manusia senantiasa hidup dalam kontradiksi permanen, ia merindukan untuk dilihat seutuhnya, tapi sekaligus gentar terhadap posibilitas dari yang benar-benar terlihat. Di sinilah konfigurasi struktur desire dalam mendapatkan dimensi teologis yang jauh lebih dalam. Tatapan-tatapan yang tertunda, gestur yang setengah selesai, jarak yang senantiasa dipreservasi, semuanya bukanlah erotisme estetis belaka.
Itu merupakan liturgi keraguan tubuh terhadap dirinya sendiri. Tubuh ingin menjadi pengungkapan, tapi histori, norma, serta kesadaran reflektif membuat setiap pengungkapan terasa seperti ancaman terhadap kontinuitas diri. Tubuh lalu beroperasi layaknya ritual yang cemas mencapai konsekrasi total.
Tradisi moral konvensional kerap mendegradasikan diskursus tubuh menjadi perkara izin dan larangan. Akan tetapi, bila kita bernalar lebih dalam, kita harus mampu menghindari moralitas prohibitif semacam itu. Bagi saya, sejak narasi misteri penciptaan berkelindan, persoalan fundamental manusia bukan bahwa ia memiliki hasrat.
Problemnya adalah bahwa ia terus-menerus mereduksi hasrat menjadi konsumsi. Pada lapisan ini, cinta gagal bukan karena ia terlalu erotik, namun karena terlalu cepat diselesaikan. Karena kini dunia kontemporer terobsesi pada finalitas, kepastian, definisi, kepemilikan, dan deklarasi. Padahal tubuh beroperasi dengan logika yang diferensiatif.
Tubuh tidak memahami cinta sebagai akuisisi. Tubuh memaknai cinta sebagai proses interminabel menjadi rentan bagi yang lain. Oleh sebab itu, dikala dua subjek saling mensuspensikan diri dalam tegangan, itu tidak selalu berarti kegagalan. Kadang malah di situlah tubuh sedang mengukuhkan kesakralannya dari reduksi menjadi sekadar objek kepastian.
Sehingga problem terbesar modernitas bukan represi seksual belaka, namun esensi desakralisasi tubuh. Tubuh tidak lagi dipandang sebagai kanvas misteri yang menyingkap, namun sebagai data algoritmik yang harus segera dielaborasi.
Dan segala sesuatu yang seutuhnya dieksplanasikan, perlahan kehilangan auranya. Banyak dari kita yang ingin memahami agar menjadi total, namun pemahaman itu malah membelah diri menjadi yang mengetahui dan yang disembunyikan. Kita membaca, berharap agar dapat mendekati kebenaran.
Tapi bahkan di dalam pembacaan itu terjadi alienasi dari diri sendiri. Sehingga otensitas subjek tidak lagi dapat dipahami sebagai orbit yang stabil dan otonom. Ia merupakam gerak perpetuil yang sentiasa mengelakkan penyelesaiannya sendiri.
Elkata A. B. Atua
Dalam kondisi seperti itu, kesadaran tidak menjadi keterbukaan, ia adalah teknologi penyamaran yang paling subtil. Apa yang dilabeli sebagai kejujuran, acap kali hanyalah artikulasi alternatif dari penyembunyian yang lebih sofistikatif. Banyak yang menginginkan, namun keinginan itu hanya bernapas selama ia belum terpenuhi. Kita mendekat, tapi kedekatan itu senantiasa diseimbangkan oleh distansi yang enggan dieliminasi. Maka hasrat tidak bergerak menuju kepemilikan. Ia bertahan dalam tegangan antara posibilitas dan kehilangan. Bila memiliki, kita mengakhiri keinginan.
Bila tidak memiliki, kita kehilangan realitas. Sehingga banyak yang berjalan dengan mempertahankan keinginan tanpa membiarkannya mencapai finalitas. Sehingga, pemenuhan bukanlah suaka.
Ia menjadi ancaman. Karena setiap pemenuhan adalah terminasi atas posibilitas yang membuat hasrat itu tetap hidup. Memandang secara evaluatif trajektori peradaban manusia, banyak ingin mengungkapkan agar tidak terbelenggu dalam kebisuan, namun mereka juga menahan agar apa yang ingin diungkap tidak hancur di dalam bentuknya sendiri.
Karena mereka sadar, pengungkapan bukan sebatas aksi. Ia merupakan keputusan ontologis yang tak dapat ditarik kembali. Mengungkap artinya mengakhiri sesuatu sebagai posibilitas. Tidak mengungkap berarti mengakhiri sesuatu sebagai realitas. Maka tidak ada posisi yang steril dari kehilangan.
Saya sebenarnya tidak ingin membeberkan argumen yang hanya menghasilkan oposisi biner, namun dalam kerangka ini setiap pilihan merupakan eliminasi, dan setiap eliminasi menjadi produksi makna. Tapi menariknya makna itu tak pernah utuh. Ia selalu membawa jejak dari apa yang telah dikorbankan. Lalu akhirnya memutuskan, buka karena mereka telah mencapai kepastian, namun karena ketidakpastian itu telah menjelma menjadi beban yang terlampau konkret.
Keputusan tidak melahirkan kebenaran. Ia menghadirkan delimitasi. Dalam setiap keputusan, banyak melenyapkan semua probabilitas alternatif yang tak dipilih.
Dan di sinilah eksistensi mendapat artikulasinya, Aku menjadi, dengan cara tak lagi mungkin menjadi yang lain. Taoi apa yang dihapus tidak pernah sungguh-sungguh lenyap. Ia bertahan sebagai spektrum, residu yang senantiasa menginterupsi kepastian yang telah dipilih.
Saya ingin anda memproyeksikan tampilan dalam kognisi, sebuah ruang, dimana tubuh-tubuh yang saling berpapasan, dan waktu yang bergerak terlalu lambat seakan memberi kesempatan bagi sesuatu untuk muncul, namun selalu gagal tiba sepenuhnya.
Bagi saya, keinginan tidak pernah datang sebagai deklarasi. Ia menyelinap dalam bentuk yang tampak remeh, sebuah tatapan yang terlalu lama, jeda yang terlalu canggung, atau pilihan kata yang sengaja tidak selesai. Seolah menjadi peristiwa yang terjadi tanpa pernah diumumkan sebagai peristiwa. Saya rasa, banyak yang tidak pernah diberi momen “awal” yang jelas.
Tak ada titik di mana seseorang bisa berkata: “di sinilah semuanya dimulai.” Malah karena itu, hasrat menjadi lebih radikal, ia tidak memiliki asal yang dapat diidentifikasi, sehingga ia juga tidak bisa dihentikan secara definitif. Senyawa yang membangkitkan niat bukan bahwa keinginan itu direpresi, namun tentang bagaimana penekanan itu namun sangat elegan, begitu beradab, seakan ia bukan aksi non konvensional tapi bentuk kesopanan eksistensial.
Bila ditautkan lanskap ini, maka tidak ada larangan eksplisit. Tidak ada hukum yang secara langsung berkata “jangan.” tapi malah karena tidak ada larangan formal, represi menjadi lebih efektif, ia beroperasi lewat norma tak terucapkan, atmosfer sosial, dan terutama, kesadaran diri yang terlalu reflektif. Segala hal terlihat normal, bahkan indah.
Tapi justru di balik keindahan itulah intensitas ditahan. Bukan dihancurkan, ditahan. Lalu mereka kembali diam, namun esensinya bukan kevakuman. Ia menjadi gelanggang yang telah dilalui oleh pengungkapan, dan karena itu tak lagi naif.
Karena yang kukehendaki kini tidak lagi mengukuhkan posibilitas, namun memaknai bahwa kemungkinan hanya bermakna sejauh ia berisiko untuk hilang.
Yang kuikhtiarkan tidak lagi menghindari kehilangan, tapi mengerti bahwa kehilangan merupakan kondisi ontologis bagi setiap bentuk keterhadiran. Sehingga janganlah kita mencari kepastian. Cukup menjaga agar makna tidak mengalami pembekuan menjadi sesuatu yang tak lagi hidup. Dan dalam kognisi itu, saya menerima sesuatu yang tak dapat direstitusi, bahwa untuk menjadi, Kita harus berhenti menjadi yang lain.
Elkata A. B. Atua





