Iran Bahas RUU Hadiah Rp950 Miliar Terkait Trump dan Netanyahu

eranasional.com
3 jam lalu
Cover Berita

Amerika, ERANASIONAL.COM –  Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah parlemen Iran dilaporkan tengah membahas rancangan undang-undang kontroversial yang memuat usulan pemberian hadiah bernilai sangat besar kepada pihak yang melakukan serangan terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Menurut sejumlah laporan media internasional, proposal tersebut menawarkan hadiah hingga EUR 50 juta atau setara sekitar Rp950 miliar. Rancangan aturan itu disebut menjadi salah satu respons paling keras yang pernah muncul dari lingkaran politik Iran dalam beberapa tahun terakhir terkait konflik berkepanjangan dengan Amerika Serikat dan Israel.

Wacana tersebut diungkap Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi. Ia menyebut parlemen sedang menyiapkan aturan bertajuk “Counter-Action by the Military and Security Forces of the Islamic Republic” yang disebut akan memberikan legitimasi hukum terhadap pemberian hadiah bagi individu maupun kelompok yang melakukan aksi terhadap Trump dan Netanyahu.

Menurut laporan media Iran Wire dan The Telegraph UK, pemungutan suara terkait rancangan undang-undang tersebut dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat. Proposal itu muncul di tengah memanasnya hubungan Iran dengan AS dan Israel menyusul meningkatnya ketegangan militer dan politik di kawasan Timur Tengah.

Dalam pernyataannya, Azizi menyebut Trump, Netanyahu, serta Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper sebagai pihak yang harus menjadi sasaran “aksi balasan” atas dugaan keterlibatan mereka dalam serangan terhadap Teheran yang disebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

“Trump, Netanyahu, dan Komandan CENTCOM Brad Cooper harus menjadi target untuk tindakan balasan,” ujar Azizi seperti dikutip media Iran Wire.

Pernyataan bernada serupa juga datang dari anggota komisi keamanan nasional Iran lainnya, Mahmoud Nabavian. Ia menyatakan parlemen Iran akan segera melakukan pemungutan suara terkait proposal hadiah bagi pihak yang dianggap berhasil melakukan tindakan terhadap Trump dan Netanyahu.

Munculnya proposal tersebut langsung memicu perhatian internasional karena dianggap sebagai eskalasi serius dalam hubungan Iran dengan AS dan Israel. Selama ini, ancaman dari Iran terhadap kedua negara lebih banyak muncul dalam bentuk retorika politik, propaganda media, maupun pernyataan ideologis. Namun kali ini, isu tersebut disebut mulai bergerak ke arah pembentukan regulasi formal di tingkat negara.

Wacana hadiah itu juga muncul hanya beberapa hari setelah media pro-pemerintah Iran, Masaf, melaporkan bahwa rezim Iran telah mengamankan dana sebesar USD 50 juta untuk operasi yang diberi nama “Kill Trump”. Laporan tersebut kemudian menyebar luas di berbagai media internasional dan media sosial.

Selain itu, kelompok siber yang didukung Iran bernama Handala juga mengeluarkan pernyataan kontroversial. Kelompok tersebut mengklaim telah menyiapkan dana sebesar USD 50 juta untuk operasi yang mereka sebut ditujukan kepada “arsitek utama penindasan dan korupsi”, merujuk pada Trump dan Netanyahu.

Dalam pernyataannya, Handala menyebut hadiah akan diberikan kepada siapa pun yang melakukan aksi nyata terhadap kedua pemimpin tersebut. Pernyataan itu disebut sebagai respons terhadap keputusan Departemen Kehakiman AS yang sebelumnya menawarkan hadiah USD 10 juta bagi informasi terkait anggota kelompok tersebut.

Situasi ini semakin memperlihatkan tingginya tensi politik antara Iran dan Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir. Hubungan kedua negara terus memburuk sejak serangkaian konflik militer, sanksi ekonomi, hingga operasi keamanan yang saling dituduhkan satu sama lain.

Nama Donald Trump sendiri memiliki posisi sensitif dalam hubungan Washington dan Teheran. Ketegangan meningkat tajam sejak masa pemerintahannya ketika AS menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran dan kembali menjatuhkan sanksi ekonomi besar terhadap Teheran.

Di sisi lain, hubungan Iran dengan Israel juga terus berada dalam situasi penuh konflik. Pemerintah Israel selama ini menuduh Iran mendukung berbagai kelompok bersenjata di Timur Tengah yang dianggap mengancam keamanan regional. Sebaliknya, Iran menuduh Israel melakukan berbagai operasi militer dan intelijen terhadap kepentingan mereka di kawasan.

Proposal kontroversial dari parlemen Iran itu muncul di tengah upaya diplomasi yang sebenarnya masih berlangsung antara Teheran dan Washington. Dalam beberapa pekan terakhir, Iran dilaporkan masih mengajukan sejumlah proposal perdamaian terbaru kepada Amerika Serikat guna meredakan ketegangan yang semakin meningkat.

Namun pemerintah AS menilai proposal terbaru dari Iran belum menunjukkan perubahan signifikan yang dapat membuka jalan menuju penyelesaian konflik secara lebih serius. Seorang pejabat AS yang berbicara kepada Axios mengatakan situasi saat ini masih sangat sensitif dan tekanan berada di pihak Iran untuk memberikan respons yang dinilai lebih konstruktif.

“Kami benar-benar tidak membuat banyak kemajuan. Situasinya sangat serius saat ini. Tekanan ada pada mereka untuk merespons dengan cara yang benar,” kata pejabat AS tersebut.

Donald Trump sendiri sebelumnya pernah memberikan peringatan keras kepada Iran terkait ancaman terhadap dirinya. Tahun lalu, Trump mengatakan Amerika Serikat akan memberikan respons sangat keras apabila Teheran mencoba melakukan serangan terhadap dirinya.

Pernyataan-pernyataan saling ancam tersebut kini kembali memicu kekhawatiran internasional mengenai kemungkinan eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah. Kawasan tersebut dalam beberapa tahun terakhir memang terus menjadi pusat ketegangan geopolitik dunia akibat konflik berkepanjangan yang melibatkan berbagai negara dan kelompok bersenjata.

Munculnya usulan legislasi terkait hadiah besar terhadap pemimpin negara lain juga dipandang dapat memperumit upaya diplomasi internasional yang selama ini dilakukan untuk menurunkan tensi konflik. Sejumlah negara diketahui masih berusaha mendorong terciptanya jalur komunikasi antara Iran, AS, dan Israel demi menghindari konfrontasi terbuka yang berpotensi berdampak luas terhadap stabilitas global.

Selain faktor keamanan, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah juga memiliki dampak besar terhadap ekonomi dunia, terutama harga energi dan stabilitas pasar keuangan internasional. Konflik di kawasan tersebut sering kali memicu kekhawatiran terhadap gangguan distribusi minyak global serta meningkatnya risiko geopolitik dunia.

Hingga kini belum ada keputusan final terkait rancangan undang-undang yang sedang dibahas parlemen Iran tersebut. Namun kemunculan proposal itu telah menjadi sorotan internasional dan memperlihatkan bahwa hubungan Iran dengan AS dan Israel masih berada dalam titik yang sangat rapuh dan penuh ketegangan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Emas Terkerek karena Dolar AS Melemah
• 43 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Pemkot dan Baznas Kota Kediri Kolaborasi Hadirkan Hunian Layak untuk Warga
• 23 jam lalurealita.co
thumb
Prabowo: Geografis RI Sangat Strategis, Puluhan Persen Perdagangan Dunia Melalui Perairan Kita
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
Optimalkan Kondisi Fiskal, Kemendagri Soroti Peran Obligasi Daerah
• 23 jam laludetik.com
thumb
Anggota Satpol PP di Tulungagung Ikut Pesta Miras Bareng Pencuri
• 5 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.