JAKARTA, KOMPAS.com - Kualitas udara di Jakarta kembali memburuk dan menempatkan ibu kota Indonesia sebagai kota besar dengan polusi udara terburuk nomor satu di dunia pada Kamis (21/5/2026) pagi.
Berdasarkan data situs resmi IQAir yang dipantau pada Kamis pukul 06.00 WIB, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) Jakarta berada di angka 175 dan masuk kategori “tidak sehat”.
Dalam laporan tersebut, polutan utama di Jakarta berasal dari PM2.5 dengan konsentrasi mencapai 90 mikrogram per meter kubik.
Baca juga: Polisi Selidiki Dugaan Jaringan Pedofilia WN Jepang di Jakarta, Sebut Belum Temukan Korban
Angka itu jauh di atas ambang batas aman tahunan yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
IQAir mencatat, kualitas udara pada level tersebut dapat berdampak bagi kesehatan masyarakat secara umum, terutama kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki penyakit pernapasan.
Selain mencatat kualitas udara tidak sehat, Jakarta juga menduduki posisi pertama dalam daftar kota besar paling berpolusi di dunia versi IQAir pada periode pemantauan pukul 05.00-06.00 WIB.
Di bawah Jakarta, terdapat sejumlah kota lain dari berbagai negara yang juga memiliki kualitas udara buruk, yakni Santiago, Chile di posisi kedua dengan AQI 157.
Baca juga: Jakarta Diguyur Hujan Hari Ini, Kelembapan Udara Capai 96 Persen
Sementara Kampala, Uganda di posisi ketiga dengan AQI 154 Lahore, Pakistan di posisi keempat dengan AQI 142, serta Riyadh, Arab Saudi di posisi kelima dengan AQI 132.
Dalam beberapa pekan terakhir, IQAir juga mencatat Jakarta kerap masuk daftar kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.
Berdasarkan pemantauan IQAir, suhu udara Jakarta pada pagi hari berada di kisaran 28 derajat celsius dengan kelembapan mencapai 89 persen dan kecepatan angin sekitar 4 kilometer per jam.
Kondisi tersebut turut memengaruhi penyebaran polutan di udara.
Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas luar ruangan, menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, serta menjaga kualitas udara di dalam ruangan guna mengurangi risiko paparan polusi udara.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang