BANDUNG, DISWAY – PT Pupuk Indonesia memastikan stok pupuk bersubsidi di Jawa Barat dalam kondisi aman meski tingkat penyerapan petani terbilang tinggi hingga pertengahan Mei 2026.
Langkah ini dilakukan untuk menjaga kelancaran musim tanam sekaligus mendukung produktivitas pertanian di salah satu lumbung padi nasional tersebut.
Untuk memastikan kondisi di lapangan, Regional CEO 2 Pupuk Indonesia, Muhammad Ihwan F, turun langsung meninjau sejumlah fasilitas gudang di Jawa Barat. Salah satunya gudang pupuk di Nagreg, Kabupaten Bandung.
"Saat ini stok pupuk bersubsidi di gudang Nagreg dalam kondisi memadai dan disiapkan untuk mendukung kebutuhan petani di wilayah Kabupaten dan Kota Bandung sesuai alokasi dan pola penebusan yang berjalan," ujar Ihwan saat melakukan kunjungan di Nagreg.
Hingga 18 Mei 2026, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi di Jawa Barat telah mencapai 405.038 ton atau sekitar 37,82 persen dari total alokasi tahun 2026 sebesar 1.070.997 ton. Penyaluran tersebut terdiri dari pupuk Urea sebanyak 205.384 ton, pupuk NPK sebesar 198.282 ton, ZA sebanyak 179 ton, dan pupuk organik sebesar 1.193 ton.
Sementara itu, khusus di Kabupaten Bandung, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi tercatat mencapai 14.244 ton atau sekitar 32,23 persen dari total alokasi 44.200 ton pada tahun 2026. Penyaluran tersebut terdiri atas pupuk Urea sebanyak 7.625 ton, pupuk NPK sebesar 6.534 ton, dan pupuk organik sebanyak 114 ton.
BACA JUGA:Prabowo Klaim Indonesia Kini Dihormati Dunia karena Surplus Pupuk: Banyak Negara Minta Bantuan Kita
“Realisasi ini berada di track yang betul, pupuk mengalir sampai ke petani tidak ada masalah. Kami optimistis Pupuk Indonesia dapat memenuhi kebutuhan petani khususnya di Jawa Barat sampai nanti dengan akhir tahun. Petani-petani tidak perlu khawatir,” tegas Ihwan.
Menurut Ihwan, tingginya penyerapan pupuk bersubsidi tidak lepas dari perubahan tata kelola yang dilakukan pemerintah. Salah satunya melalui penyederhanaan regulasi penyaluran pupuk bersubsidi sehingga petani kini bisa menebus pupuk sejak awal tahun.
Selain itu, pemerintah juga menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sebesar 20 persen untuk seluruh jenis pupuk bersubsidi. Kebijakan yang mulai berlaku sejak Oktober 2025 itu disebut menjadi yang pertama dalam sejarah subsidi pupuk di Indonesia.
“Pemerintah telah memberikan diskon, dan memangkas peraturan-peraturan yang sebelumnya mencapai 145 peraturan. Pemerintah melalui perubahan ini benar-benar memperhatikan petani, apalagi di puncak musim tanam bulan-bulan ini,” katanya.
Ia menambahkan, penurunan HET membuat semakin banyak petani berlomba masuk ke dalam sistem e-RDKK (e-Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) agar bisa memperoleh pupuk bersubsidi.
Sebagai bentuk komitmen menjaga kelancaran distribusi, Pupuk Indonesia juga telah menyiapkan stok pupuk bersubsidi di Jawa Barat per 18 Mei 2026 sebesar 30.671 ton. Stok tersebut terdiri atas Urea sebanyak 24.895 ton, NPK 4.150 ton, pupuk organik 1.498 ton, dan ZA 128 ton.
Sementara di Kabupaten Bandung, stok pupuk bersubsidi tercatat mencapai 2.994 ton, dengan rincian Urea sebanyak 2.728 ton, NPK 173 ton, dan pupuk organik 93 ton. Jumlah tersebut dipastikan cukup untuk memenuhi kebutuhan petani di wilayah tersebut.
Distribusi pupuk di Jawa Barat juga ditopang jaringan yang luas. Saat ini Pupuk Indonesia didukung oleh 149 Pelaku Usaha Distribusi (PUD), 51 gudang penyangga, serta 3.247 penerima pada titik serah (PPTS). Khusus di Kabupaten Bandung, distribusi ditunjang 11 Pelaku Usaha Distribusi, dua gudang penyangga, dan 110 penerima pada titik serah.
- 1
- 2
- »





