Keraton Yogyakarta akan mengadakan Hajad Dalem Garebeg Besar atau Grebeg Besar memperingati Idul Adha 1447 H/2026 pada Rabu (25/5) mendatang.
Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10, meminta prosesi Grebeg Besar disederhanakan.
"Kami, Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, belum lama ini nampi dhawuh Dalem (menerima dhawuh atau perintah dari Sultan) untuk menyederhanakan prosesi Grebeg dimulai dari besok Grebeg Besar," ungkap KRT Kusumanegara, salah satu Abdi Dalem senior berpangkat Bupati Nayaka di Keraton Yogyakarta, dalam keterangan yang diterima kumparan, Kamis (21/5).
Kanjeng Kusuma mengatakan instruksi dari Sultan harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Lanjutnya, pemberian sedekah dari raja kepada kawula tetap diwujudkan dengan pembagian ubarampe pareden kepada seluruh Abdi Dalem di Keraton Yogyakarta.
Prosesi Grebeg Besar akan dilaksanakan mirip seperti saat pandemi COVID-19. Tidak ada gunungan yang keluar keraton maupun iring-iringan prajurit.
"Secara prosesi, karena ada dhawuh untuk disederhanakan jadi secara penyelenggaraan mirip seperti Grebeg ketika pandemi COVID-19 kemarin. Tidak ada gunungan yang keluar dari keraton, tidak ada iring-iringan prajurit juga. Seluruh ubarampe pareden nantinya hanya akan dibagikan kepada Abdi Dalem Keraton Yogyakarta," katanya.
Rangkaian upacara yang mengawali Hajad Dalem Garebeg Besar Dal 1959 juga akan ditiadakan karena penyederhanaan prosesi grebeg.
Prosesi seperti Gladhi Resik Prajurit dan Numplak Wajik yang sedianya digelar tiga hari sebelum penyelenggaraan Grebeg Besar juga ditiadakan.
"Sesuai arahan yang kami terima, para Abdi Dalem akan melaksanakan Dhawuh Dalem tersebut dengan sebaik-baiknya," ujarnya.
Wakil Penghageng II Kawedanan Sri Wandawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Sindurejo, mengatakan upacara grebeg dari masa ke masa mengalami perubahan sesuai zaman.
Pada era Sultan terdahulu, Grebeg merupakan upacara terbesar lengkap dengan kehadiran Sultan beserta regalia-nya. Lalu, pada masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, upacara tersebut mengalami penyederhanaan.
Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10, terjadi perubahan bentuk upacara Grebeg ketika pandemi COVID-19 melanda.
"Ini menunjukkan bahwa rangkaian upacara budaya dapat berubah sesuai masanya, situasi dan kondisinya, asalkan esensinya tetap sama," kata Sindurejo.





