Setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru saja mengakhiri kunjungannya ke Tiongkok, Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di Beijing pada 19 Mei malam. Sejumlah analis menilai bahwa Putin datang terburu-buru untuk mencari tahu “kartu rahasia” dari kontak antara Tiongkok dan AS. Pada dasarnya, pertemuan ini disebut sebagai ajang “pembagian kepentingan” antara Tiongkok dan Rusia, di mana masing-masing memiliki agenda sendiri dan sedang membahas strategi menghadapi situasi internasional.
EtIndonesia. Media Partai Komunis Tiongkok melaporkan bahwa pada 19 Mei pukul 23.12, Putin tiba di Bandara Internasional Ibu Kota Beijing dengan pesawat khusus. Menteri Luar Negeri PKT Wang Yi datang menyambutnya. Dalam kunjungan ini, Putin dijadwalkan bertemu pemimpin PKT Xi Jinping.
Tokoh media terkenal Tiongkok, Li Chengpeng, menulis di platform X pada 20 Mei bahwa kunjungan Putin ke Tiongkok untuk ke-25 kalinya disambut dengan bunga plastik di tangan para pemuda dan diiringi band militer. Namun suasananya tidak semegah penyambutan Trump sebelumnya, dan durasinya juga sangat singkat. Pejabat yang menyambut Putin pun hanya Wang Yi.
Li Chengpeng mengatakan bahwa Putin datang dengan tiga tujuan utama:
- Meminta dukungan dana untuk menopang Rusia.
- Mengumpulkan informasi tentang Trump.
- Membahas langkah strategi bersama.
Ia mengatakan Putin tampak jauh lebih tua dibanding beberapa tahun lalu, terlihat gelisah meskipun berusaha tampak tenang. Hal itu dikaitkan dengan serangan drone Ukraina yang terus menggempur Rusia dalam beberapa hari terakhir. Putin disebut hanya tinggal satu hari di Beijing sebelum buru-buru kembali karena situasi di dalam negeri sedang genting.
Komentator independen Cai Shenkun juga menulis bahwa ini merupakan pertemuan ke-40 antara Xi Jinping dan Putin. Menurutnya, di permukaan tampak seperti “jabat tangan puncak politik dua pemimpin kuat”, tetapi sebenarnya merupakan “pertemuan pembagian kepentingan” di mana masing-masing pihak menyimpan agenda tersembunyi.
Cai menilai waktu kunjungan Putin sangat sensitif karena Trump baru saja meninggalkan Beijing. Pengaturan seperti “baru pergi lalu langsung datang” menunjukkan Beijing sedang memainkan strategi keseimbangan.
Menurut Cai Shenkun, bagi Xi Jinping, setelah beberapa hari lalu berbincang santai dengan Trump lalu langsung merangkul Putin, hal itu bertujuan menunjukkan kepada Washington bahwa Beijing selalu memiliki “kartu Rusia” di tangannya.
Sedangkan bagi Putin, kunjungan mendadak ini bertujuan mencari tahu isi pembicaraan Tiongkok-AS sekaligus menunjukkan kepada dunia bahwa dirinya belum tersisih dari panggung internasional. Situasi ini justru memperlihatkan bahwa Rusia kini telah menjadi salah satu bidak dalam persaingan antara Tiongkok dan Amerika Serikat.
Sebelumnya, seorang sumber yang dekat dengan sistem diplomasi Tiongkok bernama samaran Xue Zhiqiang mengatakan kepada media Epoch Times bahwa salah satu tujuan penting kunjungan Putin adalah mengetahui rincian pertemuan “Trump-Xi”. Karena itu, tidak terlihat agenda kunjungan lapangan atau wisata khusus selama Putin berada di Beijing.
Xue Zhiqiang mengatakan bahwa Kementerian Luar Negeri PKT menilai Putin ingin mengetahui apa sebenarnya yang dibicarakan Trump dan Xi, terutama terkait perang Rusia-Ukraina. Putin disebut sangat khawatir Amerika Serikat tidak puas dengan dukungan Rusia terhadap Iran.
Menurut sumber tersebut, Trump dan Xi telah mencapai kesepahaman mengenai isu Iran, yaitu menolak Iran memiliki senjata nuklir, dan Beijing juga disebut berjanji tidak akan memasok senjata kepada Iran.
Memasuki April, beberapa garis pertahanan Rusia dilaporkan mengalami kemunduran, sementara Ukraina mengklaim berhasil merebut kembali sekitar 400 kilometer persegi wilayah. Tepat sebelum kunjungan Putin ke Beijing, media Inggris Financial Times mengungkap bahwa Xi Jinping dalam pertemuannya dengan Trump minggu lalu disebut mengatakan bahwa Putin menyesali invasi ke Ukraina.
Informasi tersebut dianggap sebagian pihak sebagai tanda perubahan halus dalam sikap Beijing terhadap Rusia. Namun kabar sensitif itu dibantah oleh Kementerian Luar Negeri PKT. Trump sendiri dalam wawancara juga mengatakan bahwa ia belum pernah mendengar hal tersebut.
Komentator politik Li Linyi mengatakan kepada NTDTV bahwa jika bocoran itu benar, maka jelas Beijing sedang menjadikan perang Rusia-Ukraina sebagai kartu tawar dalam negosiasi dengan Trump. Menurutnya, Xi berani mengatakan hal seperti itu karena sudah tidak terlalu memandang Putin sebagai pihak yang setara.
Sementara komentator politik Lan Shu berpendapat bahwa pernyataan Xi pada momen penting ini sebenarnya bertujuan mengurangi tekanan pemerintah AS terhadap Rusia, sehingga memberi Putin lebih banyak ruang gerak secara politik, ekonomi, dan diplomatik.
Laporan gabungan reporter Tang Zheng / Xia He





