Kekayaan taipan petrokimia dan energi Indonesia, Prajogo Pangestu, terus turun tajam sepanjang 2026 seiring anjloknya saham-saham Grup Barito.
IDXChannel - Kekayaan taipan petrokimia dan energi Indonesia, Prajogo Pangestu, terus turun tajam sepanjang 2026 seiring anjloknya saham-saham Grup Barito.
Berdasarkan data Forbes Real Time Billionaires per 20 Mei 2026, total kekayaan Prajogo tercatat sebesar USD14 miliar atau setara sekitar Rp247,8 triliun dengan asumsi kurs Rp17.700 per USD.
Nilai tersebut turun sekitar USD2,5 miliar atau setara Rp44,25 triliun dalam sehari, atau melemah 14,97 persen.
Penurunan itu membuat posisi Prajogo merosot ke peringkat 211 orang terkaya dunia versi Forbes.
Jika dibandingkan awal 2026, penyusutan kekayaan Prajogo terlihat sangat tajam. Pada awal tahun, Forbes masih mencatat kekayaan Prajogo mencapai sekitar USD28,6 miliar atau setara Rp506,2 triliun dan menempatkannya sebagai orang terkaya di Indonesia sekaligus berada di jajaran 100 besar orang terkaya dunia.
Artinya, sejak awal tahun ini, kekayaan Prajogo telah menguap sekitar USD14,6 miliar atau setara Rp258,4 triliun.
Tak hanya itu, Prajogo kini juga turun menjadi orang terkaya ketiga di Indonesia. Posisi teratas ditempati R. Budi Hartono dari Grup Djarum dengan kekayaan USD15,5 miliar atau sekitar Rp274,35 triliun dan berada di peringkat 187 dunia.
Sementara posisi kedua ditempati taipan batu bara Low Tuck Kwong dengan kekayaan USD15,2 miliar atau setara Rp269,04 triliun, menempatkannya di posisi 195 dunia.
Tekanan terhadap kekayaan Prajogo terjadi seiring pelemahan saham-saham afiliasi Grup Barito, seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT), di tengah keluarnya sejumlah saham tersebut dari indeks MSCI serta meningkatnya sorotan investor asing terhadap transparansi pasar saham domestik.
Pada perdagangan Kamis (21/5/2026), saham TPIA bahkan kembali menyentuh auto rejection bawah (ARB) 15 persen, memperpanjang tekanan pada saham-saham Grup Barito yang sebelumnya sempat menjadi motor penggerak IHSG.
Prajogo dikenal sebagai pendiri sekaligus chairman BRPT, grup petrokimia terbesar di Indonesia. Perusahaan berbasis di Jakarta itu kini memiliki bisnis di sektor petrokimia, energi panas bumi, pembangkit listrik, hingga bahan baku plastik.
Menurut Bloomberg, sebagian besar kekayaan Prajogo berasal dari kepemilikannya di Barito Pacific. Dia menguasai sekitar 71 persen saham perusahaan tersebut berdasarkan laporan Bursa Efek Indonesia (BEI) per Maret 2026.
Selain itu, Prajogo juga memiliki eksposur besar di BREN emiten energi terbarukan yang melantai di bursa pada Oktober 2023. Kepemilikan ekonominya di BREN mencapai sekitar 22 persen melalui perusahaan holding Green Era Energy yang dimiliki anak-anaknya.
Bloomberg juga mencatat Prajogo mengendalikan sekitar 84 persen saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) serta memiliki sekitar 5 persen saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), produsen petrokimia terbesar di Indonesia.
Kisah Prajogo
Perjalanan bisnis Prajogo dimulai dari bawah.
Mengutip Leo Suryadinata dalam buku Prominent Indonesian Chinese: Biographical Sketches (2015), Prajogo Pangestu (alias Hang Djun Phen; Peng Yunpeng) lahir pada 13 Mei 1944.
Ia tumbuh dalam keluarga yang bersahaja: ayahnya, Phang Sui On, adalah seorang penyadap karet di Desa Sungai Sambas, Kalimantan Barat, yang juga merangkap sebagai penjahit di pasar Sungai Betung demi menambah penghasilan.
Sejak kecil, Prajogo kerap membantu ayahnya sebelum berangkat sekolah. Usai menamatkan sekolah menengah pertama Tionghoa setempat (SMP Nan Hua) di Singkawang, ia merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Namun, harapan tak selalu sejalan dengan kenyataan.
Tak kunjung mendapat pekerjaan yang cocok, ia pun kembali ke Kalimantan dan menjadi sopir angkutan umum di rute Singkawang-Pontianak. Profesi itu hanya bertahan sebentar. Setelahnya, ia banting setir berjualan terasi dan ikan asin.
Kehidupan Prajogo berubah pada 1975, ketika ia diangkat menjadi General Manager PT Nusantara Plywood oleh Burhan Uray, bos besar Djajanti Group.
Setahun berselang, ia mengambil alih CV Pacific Lumber dan menamainya PT Barito Pacific Lumber. Dari sinilah langkahnya kian mantap.
Perlahan tapi pasti, bisnisnya merambah ke berbagai sektor: dari perbankan (Bank Andromeda), perkebunan cokelat, pabrik kertas, hingga petrokimia.
Prajogo bermitra dengan keluarga Soeharto dan para taipan lainnya untuk mendirikan PT Tanjung Enim Pulp dan Kertas, Bank Andromeda, serta PT Chandra Asri, perusahaan petrokimia terbesar di Indonesia.
Pada September 1991, Prajogo Pangestu menjalin kerja sama strategis dengan Kuok bersaudara dari Malaysia untuk mendirikan hotel di Pulau Sentosa, menandai langkahnya masuk ke industri pariwisata internasional.
Tak hanya itu, ia juga menggandeng Grup Salim dalam usaha bersama di Bintan untuk mengembangkan sektor pariwisata domestik. Di tahun yang sama, Prajogo memperluas jangkauan bisnisnya ke Tiongkok daratan dengan menggandeng mitra Taiwan mendirikan perusahaan kayu lapis di Jiangsu.
Ketika Summa Bank milik Soeryadjaya menghadapi kesulitan, Prajogo bersama para taipan lain cepat mengambil alih kendali, hingga akhirnya menjadi salah satu pemegang saham terbesar di Grup Astra, yang sebelumnya dikuasai keluarga Soeryadjaya.
Tak hanya sukses dalam bisnis, Prajogo juga dikenal sebagai taipan yang merespons ajakan Presiden Soeharto untuk mendonasikan sebagian sahamnya ke koperasi.
Pada 1996, berkat berbagai langkah cerdas dan ekspansi agresif, ia sudah menempatkan dirinya sebagai salah satu dari sepuluh orang terkaya di Indonesia dengan total aset mencapai USD2,2 miliar, sebuah pencapaian yang mengukuhkan statusnya di jajaran elite bisnis nasional.
Namun, krisis keuangan 1997-1998 menjadi ujian berat. Bisnisnya goyah akibat jeratan utang luar negeri. Bank Andromeda pun dilikuidasi pada 1997, dan perusahaan-perusahaan miliknya harus menjalani restrukturisasi utang secara besar-besaran.
Akan tetapi, Prajogo tak menyerah. Pada 2007, ia berhasil mengakuisisi mayoritas saham PT Chandra Asri dan PT Tri Polyta pada 2008. Keduanya kemudian melebur menjadi Chandra Asri Petrochemical, kini dikenal sebagai Chandra Asri Pacific (TPIA), pada 2010.
Kini, Prajogo Pangestu telah menjelma menjadi salah satu pemain utama di sektor petrokimia, batu bara, energi terbarukan, hingga properti.
Ia bahkan sukses membawa sejumlah unit bisnisnya melantai di bursa. Emiten-emiten yang terafiliasi dengannya antara lain PT Barito Pacific Tbk (BRPT), TPIA, PT Barito Renewables Energy (BREN), PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Paling mutakhir, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), anak usaha TPIA, melantai di bursa lewat penawaran saham perdana (IPO) pada 9 Juli 2025. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.





