Nilai tukar rupiah melemah tipis sebesar 1 poin atau 0,01 persen pada Kamis (20/5/2026) menjadi Rp17.655 per dolar Amerika Serikat (AS) dari penutupan sebelumnya yakni Rp17.654 per dolar AS.
Rully Nova analis mengungkapkan pelemahan nilai rupiah masih terjadi akibat harga minyak yang masih tinggi.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dengan kisaran di Rp17.690 – Rp17.740 dipengaruhi oleh faktor global harga minyak yang masih di atas 100 dolar AS per barel dan index dollar yang masih kuat,” tuturnya, seperti dikutip dari Antara.
Kantor berita Anadolu mencatat, harga minyak Brent berjangka dibanderol seharga 104,5 dolar AS per barel, turun sekitar 6,5 persen. Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 5,5 persen menjadi 98 dolar AS per barel.
Penurunan tersebut disebabkan oleh pernyataan Donald Trump Presiden AS yang mengklaim konflik dengan Iran akan segera berakhir, dan persediaan minyak AS turun paling banyak dalam sejarah pekan lalu.
Trump menyatakan negosiasi AS dengan Iran akan terus berlanjut dan akan segera menemui titik terang dalam kesepakatan antara dua negara yang sedang berkonflik itu.
Pasokan minyak mentah AS, termasuk cadangan strategis, mulai menurun signifikan dalam sejarah pekan lalu imbas lonjakan ekspor sehingga cadangan lokal berkurang. Stok minyak mentah AS turun sebesar 17,8 juta barel, memicu total persediaan ke level terendah dalam hampir setahun.
Dari sisi pelaku pasar dalam negeri, kondisi fiskal pemerintah dinilai cenderung lemah terhadap geopolitik, harga minyak, subsidi, dan insentif guna menjaga daya beli masyarakat.
“Pidato presiden (Prabowo Subianto) masih harus dicermati lebih mendalam lagi dengan kondisi fiskal yang rapuh saat ini mengingat tax ratio Indonesia tidak pernah beranjak di atas 10 persen dari GDP (Gross Domestic Product),” ucap Rully. (ant/vve/lta/ipg)




