Pasar saham Indonesia makin tertekan yang ditandai dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kini kembali ke masa pandemi Covid-19 di 2021 dengan bertengger di level 6.000-an. IHSG sudah anjlok 28,94% sepanjang year to date (ytd) dan merosot 19,09% dalam sebulan terakhir.
Padahal level IHSG sempat tembus all-time high (ATH) pada 20 Januari 2026 lalu ke level 9.134 dengan kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp 16.590 triliun. Hingga Mei 2026 indeks makin menjauh dari level 9.000 dan kapitalisasi pasarnya telah menguap hingga Rp 5.948 triliun atau merosot 35,85% sejak level ATH saat itu.
IHSG ditutup babak belur 2,76% ke level 6.144 pada sesi pertama hari ini, Kamis (21/5). Volume yang diperdagangkan 19,91 miliar, dengan nilai transaksi Rp 9,78 triliun, dan kapitalisasi pasarnya menjadi Rp 10.642 triliun.
BRI Danareksa Sekuritas mengatakan IHSG lanjut melemah setelah menembus area support penting di 6.870–7.020. Saat ini indeks juga bergerak di bawah MA200, yang mengindikasikan tren bearish masih mendominasi pasar. Dari sisi momentum, indikator MACD turut menunjukkan pelemahan lanjutan, menandakan tekanan jual masih berlanjut.
BRI Danareksa Sekuritas menetapkan level teknikal sebagai berikut: resistance di 6.635, support di 6.220, area gap di 6.100, serta major support di 5.900.
Tak hanya itu, ia juga menyebut sentimen anjloknya IHSG karena dihantam oleh tekanan dari faktor domestik dan global. Dari dalam negeri, kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% menimbulkan kekhawatiran pasar karena ketatnya likuiditas dan meningkatnya biaya pendanaan (cost of capital) bagi emiten.
Tekanan juga datang dari pergerakan saham-saham grup Prajogo Pangestu seperti BREN, TPIA, dan BRPT yang menjadi pemberat utama indeks akibat aksi jual investor.
Sementara itu, dari eksternal, risalah FOMC menunjukkan sikap The Fed yang masih hawkish di tengah risiko inflasi yang dipicu oleh ketegangan konflik Iran, sehingga memperkuat sentimen negatif di pasar global dan turut menekan IHSG.
“Rupiah yang masih berada di kisaran Rp17.600 per dolar AS turut meningkatkan kekhawatiran capital outflow,” demikian tertulis BRI Danareksa, Kamis (21/5).




