Dari Earl Grey sampai Pistachio, Kreasi Minuman Cokelat Ini Lagi Naik Daun

viva.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Minuman berbasis cokelat kini semakin berkembang dan tak lagi identik dengan rasa klasik yang manis dan sederhana. Berbagai kreasi baru mulai bermunculan, memadukan cokelat dengan teh, kacang pistachio, hingga teknik plating ala kafe premium yang ramai dibagikan di media sosial. 

Tren ini juga ikut mendorong meningkatnya minat terhadap kakao lokal Indonesia yang dinilai memiliki kualitas dan karakter rasa khas. Scroll untuk info lebih lanjut... 

Baca Juga :
Haji dan Umrah di Usia Muda Kian Populer, Begini Perubahan Cara Pandang Generasi Muslim
BMW Vision Alpina Resmi Diperkenalkan, Mesin V8 Jadi Daya Tarik Utama

Fenomena tersebut terlihat dalam Workshop 'Roemah Kreasi – Nyokelat di Roemah' yang digelar Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai BLU Kementerian Keuangan di SMESCO Indonesia, Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan pelaku usaha cokelat lokal Cokelatin Signature melalui sesi edukasi, chocolate tasting, hingga praktik langsung membuat minuman cokelat berbasis kakao Indonesia.

Dalam workshop itu, peserta diperkenalkan pada berbagai jenis kakao Indonesia sekaligus tren minuman cokelat yang saat ini berkembang di industri makanan dan minuman. Selain mencicipi produk cokelat, peserta juga mempraktikkan langsung teknik pembuatan minuman dengan tampilan berlapis yang banyak ditemukan di kafe dan hotel.

Co-Founder Cokelatin Signature, Nugroho Surosoputra, mengatakan ketertarikannya pada dunia kakao bermula dari besarnya potensi cokelat Indonesia yang dinilai belum banyak dikenal luas.

“Kami benar-benar jatuh cinta dengan cokelat Indonesia dan kakao Indonesia. Awalnya kami fokus membuat produk, lalu berkembang mempelajari kakao dari hulunya,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Kamis, 21 Mei 2026.

Ia menuturkan, Indonesia pernah menjadi produsen kakao terbesar ketiga di dunia dan hingga kini masih menjadi produsen terbesar di Asia. Namun, citra cokelat premium justru lebih banyak melekat pada negara-negara Eropa.

“Kalau ke luar negeri oleh-olehnya selalu cokelat. Padahal Swiss tidak punya banyak tanaman kakao,” katanya.

Dalam sesi edukasi, Nugroho menjelaskan sejarah kakao yang berasal dari tanaman Theobroma cacao yang berarti “food of god” atau makanan para dewa. Ia juga memaparkan perbedaan istilah kakao, kokoa, dan cokelat, serta memperkenalkan tiga varietas utama kakao yakni criollo, forastero, dan trinitario.

Menurutnya, varietas criollo atau Java Criollo termasuk jenis kakao premium dengan karakter aroma yang kuat dan jumlah yang terbatas. “Criollo ini paling aromatik, paling wangi, dan kualitasnya paling tinggi,” jelasnya.

Baca Juga :
Tren Smart Living Meningkat di Tengah Gaya Hidup Serba Digital
Game Boy Lawas Mendadak Jadi Buruan, Harganya Bikin Kaget
Marak Tren Wisata di Tanggal Kembar, Traveloka Tebar Diskon di 5.5 EPIC Sale

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kepergok Purbaya! Eksportir Culas Jual Murah SDA RI di Singapura-India
• 8 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Tak Habis Pikir, PKL Cicadas Tolak Rp10 Juta, Malah Tuntut Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Ganti Rugi Miliaran
• 2 menit lalutvonenews.com
thumb
Persija Jakarta Gunakan Bus Listrik Mulai Musim 2026/2027
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
HUT ke-61, Lemhannas Terima Kado Sertifikat Tanah dari Kementerian ATR/BPN
• 6 jam lalukompas.com
thumb
Beroperasi Mulai Agustus 2026, Ini 5 Stasiun Baru LRT Velodrome-Manggarai
• 22 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.