Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) resmi meluncurkan Rumah Karakter sebagai langkah konkret memperkuat ekosistem digital yang inklusif, toleran, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. Fasilitas baru ini diresmikan langsung oleh Rektor UB, Prof. Widodo, dalam rangkaian Diskusi Kebangsaan yang digelar di Gedung Algoritma Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UB pada Rabu (20/5/2026).
Langkah strategis ini diambil pihak kampus untuk merespons gempuran disrupsi informasi yang masif di kalangan generasi muda. Melalui Rumah Karakter yang diinisiasi oleh Unit Pelaksana Teknis Pembinaan Keagamaan dan Pengembangan Kepribadian (UPT PKPK) UB, mahasiswa kini memiliki wadah baru untuk membentengi diri dari pengaruh negatif ruang siber.
Kepala UPT PKPK UB, Mohamad Anas, menjelaskan bahwa wadah ini didesain agar mahasiswa bisa belajar, bercerita, sekaligus memperkuat nilai-nilai kebangsaan yang toleran. Pihaknya sengaja meninggalkan pola-pola doktrinasi lama yang kaku.
“Bukan dengan cara mendikte, melainkan melalui pendekatan yang lebih merangkul dan memahami gaya hidup anak muda masa kini,” kata Moh pada beritajatim.com, Kamis (21/4/2026).
Anas menambahkan, kehadiran Rumah Karakter diharapkan mampu melahirkan budaya kampus yang sehat tanpa diskriminasi. “Melalui wadah baru ini, UB ingin memastikan bahwa setiap mahasiswa memiliki ruang aman untuk berkembang tanpa rasa takut akan diskriminasi atau perundungan,” lanjutnya.
Sejalan dengan peluncuran tersebut, pihak kampus juga menggelar diskusi kebangsaan guna membahas penguatan literasi digital. Dr. Prisca Kiki Wulandari, S.Pd., M.Sc., yang bertindak sebagai moderator sekaligus pelaksana kegiatan, menyoroti pergeseran fungsi ruang digital yang kini ikut membentuk kepribadian masyarakat.
“Ruang digital bukan hanya tempat informasi, tetapi juga ruang pembentukan sikap sosial dan karakter. Karena itu, kita perlu membangun ruang digital yang sehat, aman, inklusif, toleran, serta bebas dari kekerasan,” ujar Prisca saat menyampaikan laporan pelaksana.
Sementara itu, Rektor UB Prof. Widodo dalam sesi talkshow mengingatkan pentingnya menjaga etika dan kontrol diri. Ia menilai, fondasi utama dalam membangun sebuah bangsa yang besar berakar dari bagaimana cara masyarakatnya saling menghormati satu sama lain, baik di dunia nyata maupun dunia maya.
“Kalau kita mau dihargai, kita harus menghargai orang lain. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai antarindividu lainnya,” tegas Prof. Widodo.
Widodo juga menyoroti fenomena hilangnya empati masyarakat ketika sudah berselancar di media sosial. Banyak orang yang dinilai mampu mengontrol tutur katanya saat bertatap muka, namun menjadi tidak terkendali ketika berada di balik layar gawai.
“Kita sekarang hidup di dua dunia, yaitu dunia nyata dan dunia maya. Ketika berada di dunia nyata, kita punya rem dalam berbicara agar tidak menyakiti orang lain. Namun ketika masuk ke dunia maya, semua bisa keluar tanpa kontrol. Karena itu, kita harus memiliki empati yang sama baik di dunia nyata maupun digital,” tuturnya.
Apalagi, menurut Widodo, rekam jejak digital di era modern akan melekat dan menjadi bagian dari identitas personal seseorang yang dipantau oleh dunia kerja setelah lulus kuliah. Guna membentengi moral mahasiswa, UB kini mendorong pembangunan ekosistem digital yang berlandaskan Enam Pilar Brawijaya, yakni inklusif, religius, humanis, excellent, pionir, dan inovatif.
Berdasarkan data internal, urgensi ini kian nyata karena 46 persen mahasiswa masih memilih sumber informasi berdasarkan popularitas, dan 43,5 persen berdasarkan kebiasaan.
“Membangun masa depan yang mulia bukan hanya soal kompetensi teknis, tetapi juga karakter dan etika. Negara yang kuat bukan hanya ditentukan presidennya, tetapi masyarakatnya,” imbuh Rektor.
Tantangan di era digital ini juga diakui oleh Wakil Rektor III UB Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan Mahasiswa, Setiawan Noerdajasakti. Menurutnya, sistem kuliah daring yang berkembang pesat akibat kemajuan teknologi menjadi ujian tersendiri bagi tingkat kedisiplinan dan keterlibatan akademik mahasiswa.
“Hadir di kuliah merupakan hal yang penting. Kuliah daring yang berkembang karena teknologi menjadi tantangan yang harus dihadapi mahasiswa,” kata Setiawan.
Untuk mengantisipasi dampak negatif teknologi, Setiawan mendorong mahasiswa untuk aktif mengembangkan kemampuan berorganisasi. Salah satunya tercermin dari ketatnya seleksi kepanitiaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UB tahun ini, di mana dari 3.374 pendaftar, hanya tersaring sekitar 800 hingga 1.000 mahasiswa.
Ia memastikan jajaran kemahasiswaan bersama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di tingkat universitas maupun fakultas akan selalu siap menjadi wadah yang positif. “Yang penting jajaran kemahasiswaan bersama UKM tingkat universitas dan fakultas siap menampung saudara dalam bidang kemahasiswaan,” pungkasnya. (dan/aje)




