EtIndonesia. Wabah penyakit menular mematikan kembali meningkat di berbagai belahan dunia. Di tengah merebaknya gelombang baru wabah Ebola di Afrika, wilayah Amerika dan beberapa daerah di Amerika Serikat juga terus memantau kasus Hantavirus. Banyak negara kini memperketat pengawasan perbatasan dan langkah pengendalian kesehatan masyarakat.
Di bagian timur Democratic Republic of the Congo, muncul varian langka Ebola yang memicu wabah baru. Pada Selasa, World Health Organization menyatakan kekhawatiran terhadap “kecepatan dan skala” penyebaran wabah tersebut.
Saat ini, otoritas setempat melaporkan sedikitnya 131 kematian yang diduga terkait Ebola, serta lebih dari 500 kasus suspek infeksi. WHO pada hari Minggu telah menetapkan wabah ini sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat internasional (PHEIC).
“Ini adalah pertama kalinya direktur jenderal langsung menyatakan keadaan darurat kesehatan masyarakat sebelum komite darurat dibentuk,” ujar Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Virus yang memicu wabah kali ini adalah Bundibugyo virus, yaitu salah satu varian langka Ebola yang hingga kini belum memiliki obat maupun vaksin yang disetujui.
Pada Selasa, wilayah timur Kongo melaporkan tambahan 26 kematian suspek Ebola dalam waktu 24 jam. WHO menyatakan keprihatinannya dan telah mengirim bantuan logistik medis.
Pada 19 Mei, Kementerian Kesehatan Jerman mengkonfirmasi bahwa atas permintaan pihak Amerika Serikat, seorang warga AS yang terinfeksi Ebola di Kongo akan dipindahkan ke Rumah Sakit Universitas Charité di Berlin untuk menjalani perawatan isolasi.
Sementara terkait wabah virus Hanta, WHO menilai tingkat risikonya masih relatif rendah. Hingga saat ini telah dilaporkan 11 kasus, termasuk 3 kematian. Sejak 2 Mei, belum ada tambahan korban jiwa baru.
Para ahli mengingatkan bahwa virus Hanta terutama menyebar melalui kotoran dan urin hewan pengerat seperti tikus. Masyarakat disarankan memastikan ventilasi yang baik sebelum membersihkan ruang bawah tanah, gudang, atau kabin kayu guna mengurangi risiko infeksi.
Laporan gabungan reporter NTDTV, Xiao Chang.




