Babak Baru Blok Sakakemang di Tangan MedcoEnergi (MEDC)

katadata.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) tengah mempercepat pengembangan ladang gas raksasa Blok Sakakemang di Sumatra Selatan. Proyek ini ditargetkan beroperasi pada kuartal ketiga 2027. 

Emiten energi keluarga Panigoro itu belakangan telah mengamankan kontrak jual beli gas dengan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Pertamina Patra Niaga untuk mendorong operasi komersial ladang gas tersebut. Kedua perusahaan berkomitmen untuk membeli 150 trillion British thermal unit (TBTU) gas dari Blok Sakakemang dengan periode kontrak 2027–2037 dengan nilai kontrak mencapai sekitar US$1,29 miliar. 

Senior VP Business Support MedcoEnergi, Iwan Prajogi mengatakan perusahaan mempercepat upaya produksi gas dari Blok Sakakemang melalui integrasi dengan aset eksisting di Blok Corridor, Grisik.  Iwan berharap integrasi aset itu dapat menekan biaya ongkos produksi sekaligus memberi imbal hasil yang menarik dari Blok Sakakemang nantinya. 

“Jadi, gasnya itu akan kami bawa ke Grisik, sehingga kami tidak perlu membangun fasilitas baru, sehingga waktunya bisa dipercepat, cost-nya bisa ditekan,” kata Iwan di sela-sela gelaran IPA Convex 2026 bertajuk “50 Years of Energy Partnership: Shaping the Next Era for Advancing Growth” di ICE BSD, Tangerang, Rabu (21/5). 

Di balik langkah MedcoEnergi mempercepat pengembangan Sakakemang, blok migas tersebut sebelumnya digenggam oleh raksasa energi asal Spanyol, Repsol.  Perusahaan itu resmi melepas seluruh portofolio hulu migasnya di Indonesia pada pertengahan 2025, dengan menjual hak partisipasi di Blok Corridor, Blok Sakakemang, dan Blok South Sakakemang.

MedcoEnergi mengambil alih hak partisipasi Repsol di Blok Sakakemang dan South Sakakemang senilai US$ 90 juta atau sekitar Rp 1,47 triliun pada September 2025. Akuisisi itu membawa Medco menguasai salah satu temuan gas terbesar di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara itu, Medco mengambil alih 46% PI Repsol sebelumnya di Blok Corridor dengan nilai investasi sekitar Rp 6,89 triliun. Dengan demikian, Medco memegang 70% saham di Blok Corridor dengan tambahan sekitar 25 ribu barel setara minyak per hari (mboepd).

Direktur & Chief Administrative Officer Medco Energi Internasional, Amri Siahaan, memperkirakan tambahan kepemilikan itu dapat meningkatkan EBITDA perseroan sekitar US$ 145 juta pada 2026, dengan asumsi harga minyak US$ 65 per barel. Selain itu, terdapat tambahan kontrak gas tetap senilai US$ 90 juta.

“Secara produksi, aset Blok Corridor itu menambah sekitar 25.000 barel,” kata Amri Siahaan saat public expose, September 2025 lalu. 

Adapun pemerintah telah menyetujui revisi plan of development (POD) Blok Sakakemang di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan pada awal 2024 lalu. POD terbaru itu mencakup fasilitas carbon capture and storage (CCS) dengan peningkatan target produksi gas dari 60 mmscfd selama 12 tahun, menjadi 80 mmscfd dengan masa produksi lebih singkat, yakni delapan tahun. 

Selain itu, cadangan gas Blok Sakakemang juga naik dari 460 miliar kaki kubik atau billion cubic feet (BCF) menjadi 474 BCF. Di sisi lain, Medco turut memperbesar kepemilikan di pipa PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) menjadi 40% untuk mengintegrasikan aset di Sumatra Selatan. 

Geliat Ekspansi Raksasa Migas Keluarga Panigoro
Ekspansi Jumbo MedcoEnergi (Katadata /Nur Hana Nabila/ AI)


Belakangan, MEDC juga tengah ekspansif menjaring peluang eksplorasi migas di lepas pantai Jawa Timur, Natuna dan Semenanjung Malaysia. 

Terbaru, MedcoEnergi meneken kontrak kerja sama pengelolaan Wilayah Kerja (WK) minyak dan gas Nawasena yang mencakup area daratan dan lepas pantai seluas sekitar 7.031 kilometer persegi di Jawa Timur. 

MEDC akan bertindak sebagai operator melalui anak usaha Medco Energi Nawasena dengan skema Production Sharing Contract (PSC) cost recovery.

WK Nawasena berada di sekitar wilayah kerja Medco yang telah lebih dulu beroperasi, yakni PSC Sampang dan PSC Madura Offshore. Kedekatan itu membuka peluang monetisasi sumber daya migas Nawasena lebih cepat melalui pemanfaatan infrastruktur yang sudah tersedia.

"MedcoEnergi menghargai kepercayaan yang diberikan pemerintah Indonesia dan berkomitmen mengembangkan WK Nawasena secara optimal untuk mendukung ketahanan energi nasional,” kata Direktur & Chief Operating Officer MedcoEnergi, Ronald Gunawan pada Rabu (21/5). 

Pada Februari 2025, Medco juga mengakuisisi blok migas di lepas pantai (offshore) Semenanjung Malaysia. Ekspansi lepas pantai itu ditandai dengan penandatanganan kontrak bagi hasil Cendramas bersama Petroliam Nasional Berhad atau Petronas. MEDC lewat anak usahanya Medco Asia Pacific Limited mengikat kontrak berdurasi 20 tahun dengan menggenggam 50% participating interest. 

Lewat akuisisi PSC Cendramas, Medco Energi menambah cadangan migas kategori proven and probable reserves (2P) sebesar 15 juta barel setara minyak (mmboe). 

Adapun produksi saat ini diperkirakan mencapai sekitar 7.000 barel minyak per hari (bopd) melalui empat lapangan minyak di Cendor, East Cendor, West Desaru, dan Irama.  Selain itu, terdapat tiga area discovered resource opportunities (DRO) yang mencakup Cendor Graben, East Desaru, dan Kemasik. 

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama memperkirakan kontribusi PI 50% terhadap MEDC di Blok Cendramas setara sekitar 3.500 bopd atau menambah sekitar 2% produksi perseroan. Menurutnya akuisisi pada Blok Cendramas itu sebagai pintu masuk Medco untuk memperluas ekspansi di Malaysia dan kawasan Asia Tenggara.

“Ini bukan hanya soal satu aset, tetapi bagian dari transformasi Medco menjadi perusahaan energi regional lebih besar dan terdiversifikasi,” ucap Elandry, kepada Katadata.co.id pada Rabu (20/5).

Sementara itu, jejak Medco di Timur Tengah dapat ditelusuri di Oman. Medco telah beroperasi selama 20 tahun dengan menghasilkan lebih dari 110 juta barel minyak.

Ekspansi MedcoEnergi di Oman juga berlanjut melalui akuisisi participating interest sebesar 20% di Block 60 dan Block 48 bersama OQ Exploration & Production pada 2023. Pada 2025, Block 60 mencatat produksi bruto rata-rata 67,8 mboepd dengan puncak produksi mencapai 77,2 mboepd pada Oktober 2025.

Kerek Target Produksi 2026

Sampai periode yang berakhir kuartal pertama 2026, MEDC memiliki 25 blok migas yang tersebar di Indonesia dan portofolio internasional. Sebanyak 16 blok di antaranya telah berproduksi, dua aset masuk tahap pengembangan, dan delapan lainnya tengah masa eksplorasi.

Emiten keluarga Panigoro itu menetapkan panduan produksi migas sebesar 160–165 ribu barel setara minyak per hari (mboepd) hingga akhir 2026. Adapun MedcoEnergi mengalokasikan total anggaran belanja modal (Capex) sebesar US$ 430 juta sepanjang 2026.

Pada kuartal pertama 2026, produksi bersih tercatat mencapai 170 mboepd atau naik 18% yoy dari periode tahun 2025 sebesar 156 mboepd. Secara rinci komposisi produksi didominasi gas sebesar 72% dan liquid sebesar 28%. Cadangan terbukti dan terkira atau 2P reserves Medco sebesar 551 juta barel setara minyak (mmboe) dan sumber daya kontinjensi 2C mencapai 1,154 mmboe. 

Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi mengatakan prospek MedcoEnergi dari proyek Blok Sakakemang dinilai cukup menarik dan berpotensi menjadi katalis jangka menengah mulai 2027.

Menurut dia, aset tersebut penting karena dapat memperkuat eksposur MEDC pada gas domestik yang permintaannya relatif lebih defensif dibandingkan dengan minyak. Apabila proses commissioning berjalan sesuai jadwal, kontribusi Sakakemang diperkirakan mampu menjaga pertumbuhan produksi sekaligus memperpanjang umur cadangan (reserve life) perseroan.

“Merekomendasikan beli saham MEDC dengan target harga ke Rp 2.000,” ucap Wafi kepada Katadata.co.id, Kamis (21/5). 

Lalu analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama menilai valuasi saham MEDC masih menarik didukung kekuatan cash flow dan kualitas aset perseroan. 

Ia melihat saham MEDC berpeluang menuju Rp 1.900–2.100 dalam jangka pendek, dan Rp 2.400–2.600 untuk jangka menengah panjang seiring pertumbuhan produksi, penurunan leverage, dan kontribusi ekspansi regional yang makin kuat terhadap laba perusahaan.

Berikut sederet target harga saham MEDC dari lima sekuritas:
No.SekuritasTarget Harga1Korea Investment and Sekuritas IndonesiaRp 2.0002RHB SekuritasRp 2.2003Mirae Asset SekuritasTP1: 1.630TP2: 1.670 TP3: 1.700 4BRI Danareksa SekuritasRp 2.2005Panin SekuritasRp 2.400–2.600

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey mengatakan kinerja kuartal pertama 2026 MEDC solid dengan pendapatan naik 19,2% secara tahunan menjadi US$ 668 juta, sementara EBITDA tumbuh 5,7% menjadi US$ 351 juta. Laba bersih bahkan melonjak 282% secara tahunan menjadi US$ 67 juta, ditopang kenaikan produksi migas yang mencapai 170 MBOEPD atau naik 18,1% yoy.

Berikut kinerja dan proyeksi 2026–2028 MedcoEnergi:
Year to 31 Dec (US$mn)2024A2025A2026F2027F2028FRevenue2,3992,3952,5882,6022,629COGS-1,466-1,459-1,530-1,560-1,585Gross profit9339361,0591,0421,044EBITDA1,2641,2561,4311,4321,444Oper. profit717708813795794Interest income8634342617Interest expense-307-324-303-303-321Forex Gain/(Loss)00000Income From Assoc. Co’s11388181234253Other Income (Expenses)63-102444Pre-tax profit671404728755747Income tax-289-291-331-325-324Minority interest-13-13-12-11-9Net profit367101386420414Core Net Profit369101386420414

Sumber: BRI Danareksa Sekuritas

Ia memproyeksikan pipeline proyek MEDC dinilai mampu menjaga stabilitas pertumbuhan laba pada 2026–2027. Kenaikan volume produksi jangka pendek diperkirakan berasal dari proyek Bualuang Fase-1 yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal kedua 2026. Sementara pengembangan Suban, Sambar, Bualuang, hingga Sakakemang diproyeksikan menopang produksi jangka menengah.

Sakakemang disebut tetap menjadi katalis utama gas MEDC dengan target first gas pada kuartal ketiga 2027 melalui infrastruktur Corridor. Selain itu, potensi eksplorasi di Oman melalui penemuan Khaleel serta ekspansi bisnis ketenagalistrikan seperti proyek Ijen, Sumbawa PV, dan Batam IPP turut menjadi penopang pertumbuhan perseroan ke depan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Anggota DPRD Makassar Andi Odhika Cakra Serap Aspirasi Warga di Kecamatan Tamalanrea dan Biringkanaya
• 18 jam laluterkini.id
thumb
9 Mata Uang yang Lebih Kuat dari Dolar AS, Dinar Kuwait Teratas
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Warsh Effect, Ketika Dolar Pulang Kampung dan Indonesia Harus Memilih
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Wali Kota Farhan Dorong Bandung Mandiri Lewat Inovasi Sip Pisan dan Karasa Sirkular
• 20 jam laludisway.id
thumb
Pigai Ogah Tanggapi “Pesta Babi” tapi Mengaku Sudah Menonton Filmnya
• 7 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.