Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG hampir anjlok menembus ke level 5.900 pada perdagangan saham intraday hari ini, Kamis (21/5). Pada pukul 13.35 WIB, IHSG kian merana dengan anjlok hingga 3,66% ke 6.087.
Pasar saham Indonesia bahkan sudah mengkhawatirkan sebab IHSG kini kembali ke zaman Covid-19 pada 2021 yang bertengger di level 6.000-an. Secara year to date (ytd) IHSG terpantau IHSG sudah anjlok 29,47% s dan merosot 19,69% dalam sebulan terakhir.
Situasi yang terjadi hari ini berbeda dengan kondisi IHSG pada akhir 2025 hingga Januari 2026. Level IHSG bahkan sempat tembus all-time high (ATH) pada 20 Januari 2026 lalu ke level 9.134 dengan kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp 16.590 triliun.
Penurunan IHSG mulanya datang dari pengumuman lembaga indeks global MSCI Inc yang menangguhkan saham-saham RI dalam rebalancing indeks Februari. Sentimen berlanjut saat lembaga pemeringkat lainnya FTSE Russel juga melakukan hal yang sama. Salah satu alasan yang disebut lantara kedua lembaga menunggu transparansi dari otoritas bursa RI mengenai pemegang saham perusahaan terbuka.
Selain faktor MSCI dan FTSE, sentimen juga datang dari gejolak geopolitik global setelah terjadi perang terbuka antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran. Kerontokan tidak hanya terjadi di IHSG tetapi juga dialami mayoritas bursa dunia.
Namun, dalam sepekan terakhir, sejumlah bursa global mulai bangkit dan berbeda dengan IHSG yang terus tersperosok. Pada perdagangan hari ini, bursa saham Asia hingga indeks Wall Street kompak naik. Nikkei naik 3,57%, Hang Seng 0,18%, Shanghai Composite 0,73%, Straits Times 0,26%, dan KOSPI 7,03%.
Wall Street di AS juga naik pada perdagangan Rabu (20/5), seiring turunnya harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Dow Jones Industrial Average naik 1,31%, S&P 500 1,08%, dan Nasdaq Composite naik 1,54%.
Kondisi berbeda IHSG dibanding mayoritas bursa global mendatangkan pertanyaan di kalangan investor. Apa yang terjadi dengan Bursa RI?
IHSG Dibayangi Sentimen Dalam NegeriAnalis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai pasar saat ini sangat sensitif terhadap arah kebijakan domestik yang diterapkan pemerintah Presiden Prabowo Subianto. Ia menyebut, meskipun bursa Asia dan Wall Street menguat, investor masih menahan diri karena sejumlah faktor dalam negeri yang membuat risk appetite terhadap Indonesia belum pulih.
Menurutnya, ada beberapa kebijakan dan isu domestik menjadi perhatian utama pasar. Pertama, kekhawatiran terkait kondisi fiskal dan pembiayaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
Ia menjelaskan, pasar mulai mengantisipasi potensi pelebaran beban fiskal akibat berbagai program besar pemerintah yang membutuhkan pendanaan dalam jumlah besar. Menurutnya, investor khawatir kenaikan kebutuhan pembiayaan tersebut akan mendorong kenaikan penerbitan utang sehingga menekan nilai tukar rupiah dan likuiditas di pasar keuangan.
Kedua, ketidakpastian arah kebijakan ekonomi pemerintahan saat ini. Elandry melihat pelaku pasar masih menunggu kejelasan final mengenai strategi utama pemerintahan Prabowo. Terutama terkait agenda industrialisasi, peran BUMN, program hilirisasi, skema subsidi, hingga rencana pembentukan lembaga atau badan baru yang akan memengaruhi arah kebijakan ekonomi ke depan.
“Pasar biasanya tidak suka uncertainty, sehingga muncul sikap wait and see,” ucap Elandry ketika dihubungi Katadata.co.id, Kamis (21/5).
Ketiga, isu intervensi dan meningkatnya peran negara dalam sektor usaha. Elandry menyebut rencana pembentukan badan ekspor komoditas, penguatan peran BUMN, hingga berbagai wacana pengelolaan sektor strategis membuat investor kembali menilai ulang prospek margin emiten terutama di sektor tambang dan komoditas.
Keempat, tekanan terhadap rupiah dan respons kebijakan. Ia menegaskan bahwa setiap pelemahan rupiah menjadi perhatian pasar, yang pada saat yang sama menuntut adanya respons kebijakan yang kuat dan konsisten dari pemerintah maupun Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan kepercayaan investor.
“Kalau rupiah dianggap rentan, asing biasanya memilih mengurangi posisi di obligasi maupun saham Indonesia,” kata Elandry lagi.
Faktor kelima menurut dia yang berpengaruh adalah daya beli masyarakat dan melambatnya konsumsi masyarakat. Elandry menyebut pasar mulai menangkap adanya indikasi pelemahan konsumsi di kelompok kelas menengah pada sejumlah sektor. Kondisi ini membuat saham-saham consumer dan ritel menjadi lebih sensitif karena pelaku pasar mengantisipasi potensi melambatnya pertumbuhan laba.
Adapun faktor keenam berkaitan dengan arus keluar dana asing. Ia menjelaskan investor asing saat ini cenderung lebih selektif dalam menempatkan dana di pasar negara berkembang. IHSG pun menjadi lebih rentan terkoreksi meskipun sentimen global sedang positif.
Elandry menilai persoalan utama IHSG saat ini tidak semata-mata dipengaruhi oleh faktor global. Melainkan lebih pada tingkat kepercayaan investor terhadap arah kebijakan domestik serta prospek stabilitas makroekonomi ke depan.
“Pasar ingin kepastian bahwa pertumbuhan tetap dijaga tanpa mengorbankan disiplin fiskal dan stabilitas rupiah,” tambahnya.
Sementara itu BRI Danareksa Sekuritas mengatakan IHSG lanjut melemah setelah menembus area support penting di 6.870–7.020. Saat ini indeks juga bergerak di bawah MA200, yang mengindikasikan tren bearish masih mendominasi pasar. Dari sisi momentum, indikator MACD turut menunjukkan pelemahan lanjutan, menandakan tekanan jual masih berlanjut.
BRI Danareksa Sekuritas menetapkan level teknikal dengan resistance di 6.635, support di 6.220, area gap di 6.100, serta major support di 5.900. Tak hanya itu, mereka juga menyebut sentimen anjloknya IHSG karena dihantam oleh tekanan dari faktor domestik dan global.
Dari dalam negeri, kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% menimbulkan kekhawatiran pasar karena ketatnya likuiditas dan meningkatnya biaya pendanaan (cost of capital) bagi emiten. Tekanan juga datang dari pergerakan saham-saham grup Prajogo Pangestu seperti BREN, TPIA, dan BRPT yang menjadi pemberat utama indeks akibat aksi jual investor.
Sementara itu, dari eksternal, risalah FOMC menunjukkan sikap The Fed yang masih hawkish di tengah risiko inflasi yang dipicu oleh ketegangan konflik Iran, sehingga memperkuat sentimen negatif di pasar global dan turut menekan IHSG.
“Rupiah yang masih berada di kisaran Rp 17.600 per dolar AS turut meningkatkan kekhawatiran capital outflow,” demikian tertulis BRI Danareksa, Kamis (21/5).




