Jakarta, CNBC Indonesia - Kekhawatiran terkait dampak teknologi kecerdasan buatan (AI) terhadap pekerjaan manusia sudah muncul sejak kemunculan awal ChatGPT pada 2022 silam. Seiring perkembangan yang kian masif, kekhawatiran itu tampak makin nyata.
Banyak perusahaan yang melakukan PHK dan terang-terangan mengaitkan keputusan tersebut dengan AI. Peningkatan produktivitas dan efisiensi yang ditawarkan AI seakan membuat pekerja manusia makin tak relevan.
Dalam kondisi seperti ini, pemerintah diharapkan hadir untuk memberi perlindungan bagi kaum pekerja. Salah satu negara yang bertindak cepat dalam menanggulangi perubahan ini adalah Singapura.
Wakil Perdana Menteri Singapura, Gan Kim Yong, mengatakan perusahaan keuangan dan perbankan Singapura harus menggunakan AI untuk menciptakan pekerjaan yang lebih baik. Pemerintah setempat juga mewajibkan perusahaan melatih para karyawan untuk peran-peran yang bernilai lebih tinggi, dikutip dari Reuters, Kamis (21/5/2026).
Pada dasarnya, pemerintah Singapura meminta agar implementasi AI tidak hanya berfokus pada pemangkasan biaya operasional, tetapi juga pengembangan tenaga kerja sebagai tulang punggung pergerakan ekonomi.
- Kata-Kata Bos Pengusaha Dukung Penuh Prabowo Kontrol Ketat Ekspor SDA
- Media AS-Singapura Sorot Prabowo Kontrol Ekspor Komoditas, Sebut Ini
- Pemilik Instagram-WhatsApp PHK 8.000 Karyawan Pakai Email Jam 4 Subuh
Komentar Gan muncul sehari setelah raksasa perbankan asal Inggris, Standard Chartered, mengumumkan rencana PHK yang akan berdampak pada 7.000 karyawan dalam 4 tahun ke depan. Standar Chartered terang-terangan menyebut akan meningkatkan adopsi AI, serta mengganti 'SDM rendah' dengan AI.
Baru-baru ini, CEO HSBC, Georges Elhedery, juga mengatakan AI-generatif akan menghancurkan beberapa pekerjaan dan menciptakan beberapa pekerjaan baru. Ia mengimbau semua karyawan untuk siap menghadapi perubahan tersebut.
"Bagi Singapura, solusinya tidak bisa dengan menghambat perubahan. Jika terlambat dalam adopsi AI, daya saing kita akan melemah dan pada akhirnya berdampak buruk bagi pekerja," kata Gan dalam gelaran DBS Leaders Dialogue di Singapura, dikutip dari Reuters.
Gan mengatakan Singapura sebagai pusat keuangan akan masuk ke fase selanjutnya, tetapi sangat bergantung pada peralihan AI dari tahap eksperimen ke adopsi di seluruh perusahaan.
Ia menegaskan adopsi AI yang kian masif di Singapura harus dibarengi dengan prioritas bahwa teknologi itu akan menciptakan lapangan kerja yang baik, serta membangun kepercayaan, keselamatan, dan keamanan dalam cara AI dikembangkan dan digunakan.
"Ketika perusahaan mengimplementasikan AI, mereka tidak boleh hanya bertanya terkait berapa biaya yang akan dihemat. Mereka juga harus bertanya terkait pekerjaan-pekerjaan baru apa saja yang bisa diciptakan, kemudian bagaimana cara melatih pegawai yang ada saat ini untuk memanfaatkan AI," ia menjelaskan.
CEO DBS Group, Tan Su Shan mengatakan ukuran Singapura yang kecil dapat menjadi kekuatan jika AI membantu tenaga kerjanya yang terbatas untuk berbuat lebih banyak.
"Ukuran kecil yang diperkuat AI berarti tenaga kerja kita yang terbatas sekarang dapat melakukan lebih banyak hal daripada yang bisa kita lakukan sebelumnya," kata Tan. Ia mengatakan perusahaan perlu melibatkan karyawan dan pelanggan dalam melakukan inovasi, sebab "manusia itu penting".
(fab/fab) Add as a preferred
source on Google




