Nilai tukar mata uang menjadi salah satu indikator penting untuk melihat kondisi ekonomi sebuah negara. Ketika inflasi tinggi, utang luar negeri membengkak, hingga stabilitas politik terganggu, nilai mata uang suatu negara biasanya ikut melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut terlihat dalam daftar mata uang terlemah di Dunia versi Forbes Advisor 2026 yang dirilis pada Mei 2026.
Laporan tersebut menempatkan sejumlah negara dari Timur Tengah, Asia, hingga Afrika sebagai pemilik mata uang dengan nilai tukar terendah terhadap dolar AS. Meski dolar AS bukan mata uang terkuat secara nominal, greenback masih menjadi acuan utama perdagangan global sehingga perbandingan nilai tukar terhadap dolar kerap digunakan untuk mengukur kekuatan mata uang suatu negara.
Daftar Mata Uang Terlemah di Dunia Versi Forbes Advisor 2026Daftar mata uang terlemah di Dunia ini juga menunjukkan bahwa pelemahan nilai tukar tidak hanya dipicu faktor ekonomi domestik, tetapi juga dipengaruhi geopolitik global, konflik bersenjata, kebijakan suku bunga bank sentral AS, serta arus investasi internasional. Berikut daftarnya:
Rial Iran menjadi salah satu mata uang terlemah di Dunia pada 2026. Berdasarkan data kurs internasional, satu rial Iran hanya bernilai sekitar US$0,000001. Artinya, satu dolar AS dapat ditukar dengan lebih dari 1,3 juta rial Iran.
Pelemahan nilai tukar tersebut dipengaruhi sanksi ekonomi internasional yang telah berlangsung bertahun-tahun. Meski Iran merupakan salah satu eksportir minyak dan gas terbesar di dunia, tekanan geopolitik dan pembatasan perdagangan internasional membuat ekonomi negara tersebut terpukul. Konflik terbaru antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat juga memperburuk sentimen pasar terhadap rial Iran.
Pound Lebanon berada di posisi kedua daftar mata uang terlemah di Dunia. Nilai satu pound Lebanon saat ini berada di kisaran US$0,000011 atau sekitar 89 ribu pound per dolar AS.
Lebanon mengalami krisis ekonomi berkepanjangan sejak beberapa tahun terakhir. Tingginya inflasi, krisis perbankan, pengangguran, dan ketidakstabilan politik menyebabkan nilai tukar pound terus merosot. Situasi tersebut membuat daya beli masyarakat melemah dan investor asing menarik modal dari negara itu.
Dong Vietnam menempati posisi ketiga sebagai mata uang dengan nilai tukar terendah terhadap dolar AS. Satu dong Vietnam berada di kisaran US$0,000038 atau sekitar 26 ribu dong per dolar AS.
Meski ekonomi Vietnam tumbuh cukup kuat di sektor manufaktur dan ekspor, nilai dong relatif rendah karena kebijakan moneter negara tersebut memang menjaga kurs tetap kompetitif demi mendukung ekspor. Selain itu, perlambatan perdagangan global dan tingginya suku bunga AS turut memberi tekanan terhadap mata uang Vietnam.
Kip Laos menjadi salah satu mata uang terlemah di Dunia akibat inflasi tinggi dan meningkatnya utang luar negeri. Saat ini, satu kip Laos bernilai sekitar US$0,000046.
Ekonomi Laos menghadapi tekanan akibat ketergantungan terhadap impor energi serta proyek infrastruktur besar yang sebagian dibiayai pinjaman luar negeri. Pertumbuhan ekonomi yang melambat dan tingginya inflasi membuat nilai tukar kip terus melemah dalam beberapa tahun terakhir.
Rupiah Indonesia juga masuk daftar mata uang terlemah di Dunia secara nominal. Nilai satu rupiah saat ini berada di kisaran US$0,000057 atau sekitar Rp 17 ribu per dolar AS.
Nilai nominal rupiah yang rendah dipengaruhi denominasi mata uang dan tingginya kebutuhan dolar AS akibat impor dalam perdagangan internasional. Bank Indonesia juga terus menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar dan kebijakan moneter untuk menahan tekanan eksternal akibat ketidakpastian global.
6. Som Uzbekistan (Uzbekistani Som/UZS)Som Uzbekistan berada di posisi berikutnya dengan nilai sekitar US$0,000083 per unit. Negara Asia Tengah tersebut masih menghadapi tantangan reformasi ekonomi pasca-Uni Soviet.
Uzbekistan sebenarnya memiliki cadangan minyak, gas, dan kapas yang besar. Namun, inflasi tinggi, tingkat pengangguran, serta korupsi yang gila-gilaan masih menjadi faktor yang membatasi penguatan mata uang nasionalnya.
7. Franc Guinea (Guinean Franc/GNF)Franc Guinea tercatat bernilai sekitar US$0,000114 per unit. Guinea sendiri dikenal kaya sumber daya alam seperti emas dan berlian, tetapi kondisi ekonomi domestik di negara ini masih belum stabil.
Inflasi tinggi, ketidakstabilan politik, serta lemahnya pembangunan infrastruktur membuat nilai tukar franc Guinea sulit menguat terhadap dolar AS.
8. Franc Burundi (Burundian Franc/BIF)Franc Burundi termasuk salah satu mata uang terlemah di Dunia dengan nilai sekitar US$0,000335 per unit. Burundi merupakan negara kecil di Afrika Timur yang ekonominya sangat bergantung pada sektor pertanian.
Kopi dan teh menjadi komoditas ekspor utama negara tersebut. Namun, rendahnya investasi asing, keterbatasan industri, dan tingginya tingkat kemiskinan membuat ekonomi Burundi sulit berkembang cepat.
9. Ariary Madagaskar (Malagasy Ariary/MGA)Ariary Madagaskar memiliki nilai tukar sekitar US$0,00024 per unit. Mata uang baru ini resmi menggantikan franc Madagaskar pada 2005.
Ekonomi Madagaskar sendiri masih bergantung pada sektor pertanian, kehutanan, dan pertambangan. Ekspor utama negara tersebut meliputi vanila, cengkeh, dan nikel. Namun, lemahnya infrastruktur dan ketidakstabilan ekonomi domestik membuat nilai tukar ariary tetap rendah terhadap dolar AS.
10. Guarani Paraguay (Paraguayan Guarani/PYG)Guarani Paraguay melengkapi daftar mata uang terlemah di Dunia dengan nilai sekitar US$0,000161 per unit. Paraguay merupakan negara yang dikenal sebagai salah satu produsen utama kedelai dan daging sapi di Amerika Selatan.
Meski memiliki sektor pertanian kuat, tingginya inflasi dan korupsi yang merajalela membuat nilai tukar guarani tetap rendah dibanding dolar AS.
Faktor Penyebab Mata Uang MelemahNilai tukar mata uang suatu negara dipengaruhi banyak faktor.
- Inflasi tinggi menjadi penyebab utama karena menurunkan daya beli masyarakat dan mengurangi kepercayaan investor.
- Selain itu, defisit transaksi berjalan, utang pemerintah yang besar, dan ketidakstabilan politik juga dapat menekan kurs mata uang domestik.
- Dalam beberapa tahun terakhir, ketegangan geopolitik global, perang, dan kenaikan suku bunga bank sentral AS turut memperbesar volatilitas pasar valuta asing. Negara dengan fundamental ekonomi lemah cenderung lebih rentan mengalami pelemahan mata uang.




