Menguatnya dolar AS dan kemudahan akses ekspor rajungan tidak otomatis membuat nelayan sejahtera. Di tengah harga rajungan yang disebut tertinggi sepanjang sejarah, hasil tangkapan nelayan justru anjlok hingga 70 persen.
Rajungan merupakan komoditas ekspor perikanan unggulan Indonesia yang biasa dipasarkan dalam bentuk daging beku atau dikemas dalam kaleng. Negara tertentu, seperti China, terkadang memintanya dalam bentuk bahan mentah (raw material).
Di tengah menguatnya dolar AS yang mencapai Rp 17.643, harga rajungan di tingkat nelayan mencapai Rp 130.000–Rp 135.000 per kilogram dalam bentuk mentah. Sementara itu, harga daging rajungan jauh lebih mahal, Rp 540.000 hingga Rp 600.000 per kg.
“Sepengetahuan saya, harga rajungan saat ini tertinggi sepanjang sejarah. Sebelum Lebaran 2026, harganya hanya Rp 80.000–Rp 95.000 per kg,” ujar Ketua Forum Komunikasi Nelayan Rajungan Lamongan Muchlisin Amar, Kamis (21/5/2026).
Menurutnya, para nelayan rajungan menyambut antusias tingginya nilai dolar AS karena akan berdampak pada harga di pasar ekspor. Lamongan merupakan salah satu sentra produksi rajungan terbesar di Jatim.
Selain itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada Selasa (19/5/2026) merilis Indonesia berhasil menghapus hambatan ekspor rajungan yang diminta otoritas Amerika Serikat. Salah satunya kewajiban sertifikasi tambahan, yakni Certificate of Admissibility (CoA).
AS merupakan pasar utama ekspor daging rajungan Indonesia, dengan rata-rata nilainya mencapai 321 juta dolar AS per tahun dalam tiga tahun terakhir. Nilai ekspor daging rajungan mencapai sekitar 16,6 persen dari total nilai ekspor produk perikanan ke negeri Paman Sam tersebut.
Namun, Muchlisin Amar mengatakan, kenaikan nilai dolar AS dan penghapusan hambatan ekspor rajungan ke AS itu belum dinikmati nelayan saat ini. Alasannya, hasil tangkapan mereka turun sejak Lebaran 2026 lalu hingga sekarang.
“Penurunan hasil tangkapan mencapai 60-70 persen. Bahkan nelayan rajungan yang dulu setiap hari melaut, sekarang dua hari sekali,” kata Muchlisin.
Area penangkapan rajungan juga menjadi lebih jauh, dari sebelumnya 10-12 mil menjadi 20 mil. Ujungnya, kondisi itu berdampak terhadap penggunaan bahan bakar minyak (BBM) perahu.
Dengan kondisi itu, hasil tangkapannya seringkali tidak ideal, hanya sekitar 10 kilogram atau setara pendapatan kotor Rp 1,35 juta.
Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhan keluarga, nelayan rajungan beralih menangkap ikan kembung. Rata-rata hasil tangkapan nelayan mencapai 100 kg per perahu dengan lama melaut sekitar 3 jam. Harga ikan kembung berkisar Rp 20.000 per kg.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (APRI) Kuncoro Catur Nugroho mengatakan, menguatnya dolar AS tidak serta merta menjadi momentum mendongkrak kinerja ekspor rajungan.
Menurutnya, gejolak ekonomi global berdampak signifikan terhadap negara-negara tujuan ekspor daging rajungan Indonesia. Naiknya kurs dolar AS juga berdampak pada buyer atau pembeli sehingga mereka cenderung meminta penurunan harga.
“Negara importir utama adalah AS dengan pangsa sekitar 80 persen volume ekspor daging rajungan Indonesia,” ujar Kuncoro.
Di tengah menguatnya dolar AS, dia mengatakan, pasar ekspor rajungan sebenarnya memiliki potensi berkembang. Di pasar konvensional, market share Indonesia baru sekitar 47-50 persen ke pasar AS.
Padahal, potensi produksi rajungan Indonesia masih cukup besar. Sebab, selama ini konsentrasi bahan baku berasal dari Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 712 Laut Jawa. Sedangkan WPP lain seperti di Indonesia timur yang memiliki potensi produksi tinggi belum digarap secara optimal.
Adapun untuk pasar ekspor nonkonvensional, salah satu yang potensial adalah China. Namun negara tersebut menetapkan persyaratan ekspor yang ketat dengan harga yang sangat kompetitif. Selain itu, China juga merupakan eksportir daging rajungan yang menjadi pesaing Indonesia.
Kuncoro menambahkan, selain tidak serta merta menggenjot kinerja ekspor rajungan, menguatnya dolar terhadap rupiah juga tidak otomatis berdampak pada meningkatnya pendapatan usaha. Hal itu terjadi karena gejolak ekonomi global berdampak pada biaya produksi di dalam negeri dan biaya pengiriman logistik internasional.
“Seiring menguatnya dolar AS, pihak eksportir maupun produsen rajungan mendapat tekanan dari pihak pedagang lokal dan nelayan. Mereka cenderung minta harga beli pedagang lokal ke produsen atau eksportir naik,” kata Kuncoro.
Hal itu tak lepas dari naiknya harga BBM untuk perahu atau transportasi nelayan melaut. Saat ini harga solar nonsubsidi mencapai Rp 27.000 per liter. Selain itu, unit pengolahan ikan (UPI) menghadapi kenaikan komponen-komponen biaya pabrikan di internal eksportir.
Kuncoro mengatakan, pengembangan ekspor rajungan nasional saat ini masih menghadapi sejumlah tantangan, antaralain pengembangan perikanan tangkap wilayah perairan Indonesia bagian timur, budidaya perikanan dan peningkatan daya saing di pasar global.
Pelaku industri dan eksportir berharap pemerintah pusat maupun daerah mendorong penyederhanaan regulasi, kemudahan berusaha, pembukaan kran perizinan kapal GT besar untuk menangkap ikan di Indonesia timur. Juga adanya insentif fiskal dan kemudahan berusaha bagi investor industri di wilayah Indonesa bagian timur.
Ironi ini harus menjadi perhatian semua pihak. Di tengah harga rajungan yang melambung, nelayan justru lebih sering pulang dengan membawa ikan kembung.





