Wakapolri Tekankan Strategi Khusus Hadapi Ancaman Terorisme Digital dan Ekstremisme

pantau.com
16 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Pol. Dedi Prasetyo menekankan pentingnya strategi khusus dalam menghadapi ancaman terorisme dan ekstremisme yang kini mengalami perubahan dari pola terstruktur menjadi jejaring digital.

Dedi mengatakan ancaman terorisme saat ini tidak lagi mudah dipetakan karena berkembang melalui ruang digital, simpatisan lepas, hingga jaringan yang terbentuk lewat algoritma media sosial.

“Kita sedang menghadapi perubahan besar. Ancaman tidak lagi selalu hadir dalam bentuk organisasi besar yang mudah dipetakan, tetapi berkembang melalui ruang digital, simpatisan lepas, hingga jejaring yang dibentuk oleh algoritma. Oleh karena itu, strategi kita juga harus berubah,” kata Dedi dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Kamis.

Ancaman Ekstremisme Dinilai Semakin Kompleks

Dedi menjelaskan ekstremisme modern kini semakin terfragmentasi dan bergerak melalui individu maupun kelompok kecil tanpa struktur formal.

Menurutnya, ancaman ekstremisme saat ini juga bersifat glocal karena arus informasi global dapat dengan cepat memengaruhi dinamika sosial lokal melalui media digital.

“Ancaman tidak lagi bisa dipahami secara terpisah antara dimensi global dan lokal. Arus informasi bergerak cepat dan dapat memengaruhi lingkungan sosial dalam waktu singkat,” ujarnya.

Ia juga menyoroti meningkatnya kerentanan generasi muda terhadap paparan ekstremisme dan normalisasi kekerasan di ruang digital.

Berdasarkan data Densus 88 Antiteror Polri per 19 Mei 2026, tercatat sebanyak 115 anak tergabung dalam True Crime Community (TCC) dan 132 anak terpapar radikalisme di berbagai wilayah Indonesia.

Dedi menilai angka tersebut merupakan fenomena gunung es sehingga upaya pencegahan harus dilakukan sejak dini sebelum berkembang menjadi ancaman yang lebih besar.

Polri Perkuat Pendekatan Kolaboratif

Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, Dedi mengarahkan Densus 88 Antiteror Polri menggunakan pendekatan ekologi berlapis yang melibatkan keluarga, sekolah, komunitas, pemerintah, dan ruang digital sebagai sistem perlindungan bersama.

Konsep itu diwujudkan melalui pembangunan ekosistem “Rumah Aman Menuju Sekolah Aman” dengan Polri berperan sebagai penghubung koordinasi lintas pihak dalam mendeteksi dan mencegah potensi risiko sejak awal.

Selain itu, Dedi menekankan pentingnya kolaborasi aktif antara aparat keamanan, kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, sekolah, keluarga, tokoh agama, komunitas, akademisi, platform digital, hingga masyarakat sipil.

“Ancaman ekstremisme tidak dapat diputus oleh satu institusi. Ia harus dihadapi melalui sinergi utuh antara Polri, kementerian, pemerintah daerah, sekolah, keluarga, dan masyarakat. Keamanan masa depan dibangun melalui kolaborasi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Densus 88 Antiteror Polri Irjen Pol. Sentot Prasetyo menegaskan pihaknya terus memperkuat strategi penanggulangan yang lebih adaptif dengan mengedepankan deteksi dini, asesmen risiko, dan penguatan ketahanan generasi muda di era digital.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
[FULL] Di Depan DPR, Menhub Putar Video Ilustrasi Tragedi KA Argo Bromo Tabrak KRL di Bekasi Timur
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Kakorlantas Dorong Pencegahan Tindak Pidana Korporasi di Sektor Angkutan Umum
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Panduan ke Lokasi Konser F4 Naik Transjakarta Menuju Indonesia Arena, Jangan Sampai Salah!
• 18 jam laludisway.id
thumb
Tito Karnavian Minta Pemda di Sumatera Segera Realisasikan Tambahan TKD Rp10,6 Triliun untuk Penanganan Bencana
• 10 jam lalupantau.com
thumb
”Relevansi” Luka 1998 Tanda Stagnasi Reformasi
• 12 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.