Layanan BRILink hadir memudahkan berbagai urusan keuangan masyarakat. Dari pedagang pasar hingga tukang ojek, banyak warga mengaku terbantu karena tidak lagi harus antre lama di kantor bank untuk melakukan transaksi.
Edward AS
Kecamatan Makassar
Pagi baru saja bergerak di Jl Abubakar Lambogo, Makassar. Namun di sebuah ruko kecil bernomor 244, aktivitas sudah lebih dulu hidup sebelum matahari benar-benar meninggi.
Suara kendaraan bersahutan di jalanan. Motor melintas pelan, mobil sesekali berhenti karena padatnya arus pagi. Di tengah deretan ruko yang berdiri rapat, satu bangunan tampak paling ramai.
Tulisan “Agen BRILink” tergantung di bagian atas ruko dua lantai itu. Pintu kacanya terbuka lebar. Orang-orang datang silih berganti, sebagian membawa kartu ATM, sebagian lagi menggenggam uang tunai yang dilipat rapi di tangan.
Di balik etalase kaca sederhana, Jumardin duduk sambil sesekali menatap layar mesin EDC di depannya. Jemarinya bergerak cepat. Menekan angka, memeriksa saldo, lalu menyerahkan uang tunai kepada pelanggan.
Tak banyak yang tahu, tempat itu dulunya hanya sebuah meja kecil di sudut ruangan. Tahun 2014 menjadi awal semuanya. Saat itu pemilik gerai BRIlink Jumardin belum memiliki ruko, belum pula dikenal banyak orang. Ia hanya pria biasa yang ingin mencari tambahan penghasilan sambil membantu warga sekitar yang kesulitan mengakses layanan bank.
Kala itu, bank masih terasa jauh bagi sebagian masyarakat kecil. Untuk transfer uang saja, warga harus meninggalkan pekerjaan mereka, mengantre panjang, lalu pulang dengan waktu yang terbuang setengah hari.
Jumardin melihat keresahan itu setiap hari. Ia lalu mencoba menjadi agen BRILink. Bermodal meja sederhana dan keberanian, ia mulai membuka layanan transaksi kecil-kecilan dari rumahnya.
Namun memulai sesuatu yang baru tidak pernah mudah. Hari-hari pertama terasa sepi. Kadang hanya satu orang datang dalam sehari. Kadang tidak ada sama sekali.
“Dulu orang masih takut transaksi di tempat begini,” kenangnya sambil tersenyum tipis, Kamis, 21 Mei.
Banyak warga ragu. Mereka takut uang hilang atau transaksi gagal. Sebagian memilih tetap pergi ke bank meski harus antre panjang. Namun Jumardin tidak menyerah.
Ia tetap membuka layanan setiap hari. Tetap melayani dengan ramah meski transaksi yang datang hanya pembayaran listrik atau tarik tunai Rp100 ribu.
Perlahan, kepercayaan mulai tumbuh. Satu pelanggan bercerita kepada pelanggan lain. Nama Jumardin mulai dikenal di lingkungan sekitar Abubakar Lambogo. Warga mulai sadar bahwa mereka bisa menyelesaikan urusan keuangan tanpa harus meninggalkan pekerjaan terlalu lama.
Pagi demi pagi berlalu. Meja kecil itu perlahan berubah menjadi tempat yang selalu ramai. Kini, hampir tidak ada waktu benar-benar sepi di ruko tersebut. Bahkan ketika siang terik atau malam mulai larut, masih ada warga datang mengetuk pintu untuk melakukan transaksi.
Bagi sebagian orang, tempat itu sudah seperti penyelamat kecil di tengah kesibukan hidup kota. Jumardin masih ingat bagaimana suatu malam seorang ibu datang dengan wajah panik karena harus segera mengirim uang kepada anaknya di luar kota. Ada pula pekerja harian yang datang setelah tengah malam karena baru selesai bekerja.
Dari situ ia mulai memahami satu hal: kebutuhan masyarakat tidak mengenal jam operasional. Ia lalu mengambil keputusan yang tidak semua orang berani lakukan. Membuka layanan selama 24 jam.
“Banyak orang datang malam karena siangnya sibuk kerja. Saya kasihan kalau harus menolak,” ujarnya.
Keputusan itu membuat ruko kecilnya semakin hidup. Lampu di dalam ruangan hampir tak pernah padam. Namun di balik kesibukan itu, pernah ada masa ketika Jumardin nyaris menyerah.
Suatu malam, seorang pria datang tergesa-gesa. Wajahnya terlihat cemas. Ia meminta transaksi segera diproses karena mengaku harus mengirim uang kepada keluarganya.
Saat itu Jumardin masih minim pengalaman. Ia percaya begitu saja ketika pria tersebut mengaku transfer sudah dilakukan. Tanpa menunggu verifikasi dana masuk, ia menyerahkan uang tunai.
Beberapa menit kemudian, dadanya mendadak sesak. Dana yang ditunggu ternyata tidak pernah masuk. Ia tertipu.
Malam itu terasa panjang. Jumardin duduk termenung di kursinya sendiri. Berkali-kali ia menyalahkan dirinya karena terlalu mudah percaya.
“Waktu itu saya benar-benar terpukul,” katanya pelan.
Kerugian jutaan rupiah terasa sangat besar baginya saat itu. Bahkan sempat terlintas keinginan untuk berhenti menjalankan usaha. Namun hidup tidak memberinya banyak pilihan selain bangkit.
Ia mulai belajar lebih teliti. Lebih disiplin memeriksa transaksi. Pengalaman pahit itu perlahan membentuk dirinya menjadi lebih kuat.
Waktu terus berjalan. Usaha kecil yang dulu hanya bermodalkan meja sederhana kini mampu mengubah kehidupan keluarganya. Dari hasil usaha BRILink, Jumardin mulai membangun usaha kos-kosan kecil di Makassar.
Mahasiswa dan pekerja muda kini tinggal di bangunan yang berhasil ia dirikan sedikit demi sedikit. Meski kehidupannya berubah, satu hal tetap sama. Setiap hari ia masih duduk di balik meja pelayanan itu, melayani warga yang datang silih berganti.
Bagi Jumardin, BRILink bukan sekadar pekerjaan. Ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan ketika melihat orang lain merasa terbantu.
“Yang paling bikin saya senang itu kalau orang datang dengan masalah, lalu pulang dengan lega karena urusannya selesai,” katanya.
Pengguna BRILink Merasa Sangat Terbantu
Nurhayati, seorang pedagang sayur di pasar tradisional sekitar Kecamatan Makassar, menjadi salah satu pelanggan setia agen BRILink milik Jumardin. Sejak dini hari ia sudah sibuk membeli kebutuhan dagangan. Karena itu, ia mengaku tidak memiliki banyak waktu jika harus pergi ke bank untuk transfer uang kepada pemasok.
“Kalau dulu harus antre di bank, waktu jualan saya bisa habis. Sekarang tinggal mampir sebentar sebelum ke pasar,” katanya.
Menurut Nurhayati, layanan BRILink membuat aktivitas pedagang kecil jauh lebih mudah karena transaksi bisa dilakukan dengan cepat dan dekat dari lokasi usaha mereka.
Hal serupa dirasakan Rahman, pengemudi ojek online yang cukup sering menggunakan layanan BRILink pada malam hari. Ia mengaku pekerjaannya membuat dirinya sulit datang ke bank pada jam operasional biasa.
“Kadang saya baru selesai kerja malam. Untung ada tempat seperti ini karena masih buka,” ujarnya.
Regional CEO BRI Regional Office (RO) 15 Makassar Argo Prabowo mengungkapkan bahwa hingga Desember 2025, penetrasi AgenBRILink di wilayah kerjanya, yang mencakup Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan Maluku, telah mencapai 71.255 agen. Jaringan raksasa ini telah mencatatkan volume transaksi yang fantastis, yakni sekitar 130 juta kali transaksi.
“Sebenarnya layanan AgenBRILink itu sama dengan bank konvensional, tidak ada bedanya. Mau transfer bisa, beli pulsa listrik bisa, bahkan mau beli game saja bisa,” ujar Argo.
Dia menjelaskan, penempatan agen di hampir setiap desa bertujuan untuk memicu timbulnya aktivitas ekonomi baru sekaligus menghadirkan efisiensi biaya logistik masyarakat. Kehadiran agen ini juga menjadi jawaban bagi pelaku ekonomi rural, seperti pedagang pasar dan petani, yang tidak memiliki waktu di siang hari untuk mengunjungi kantor bank konvensional.
Lebih jauh, peran AgenBRILink kini telah bertransformasi tidak sekadar sebagai loket pembayaran. Agen-agen ini bertindak sebagai perpanjangan tangan BRI dalam menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif.
“AgenBRILink kami juga bisa menjadi referral jika masyarakat membutuhkan pinjaman. Jadi, harapan kami, masyarakat di daerah terpencil di mana kantor kami tidak ada, mereka tetap bisa mengajukan pinjaman melalui AgenBRILink. Ini adalah upaya nyata kami memperluas akses keuangan,” pungkas Argo. (*)





