JAKARTA, KOMPAS.com - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap sejumlah dugaan faktor yang berkontribusi dalam kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat.
Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, faktor tersebut meliputi gangguan sinyal akibat distraksi lampu di sekitar jalur hingga masalah komunikasi antar-pengendali perjalanan kereta.
“Yang pertama, sinyal bantu tadi yang terdistraksi dengan lampu-lampu sekitarnya. Kalau masinis bisa melihat sinyal bantu dengan baik, itu juga bisa membantu menghindari kecelakaan tersebut,” ujar Soerjanto, dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, Kamis (21/5/2026).
Menurut Soerjanto, masinis dan asisten masinis diduga tidak dapat melihat sinyal bantu dengan jelas, karena adanya distraksi cahaya dari lingkungan sekitar jalur kereta.
Baca juga: KNKT: Taksi Tak Error, Sopir Berkali-kali Menekan Gas Saat Posisi Netral dan Parkir
“Tapi karena ada distraction, maka si masinis dan asisten masinis tidak bisa melihat dan artinya di sini ada gangguan di sinyal UB tadi, Pak,” kata dia.
Selain persoalan sinyal, KNKT juga menyoroti adanya jeda komunikasi saat insiden terjadi.
Soerjanto menuturkan, laporan awal adanya kecelakaan KRL dengan taksi diterima oleh pengendali perjalanan wilayah selatan, sedangkan perjalanan KA Argo Bromo Anggrek berada di bawah kendali pengendali wilayah timur.
Akibatnya, informasi harus diteruskan terlebih dahulu melalui beberapa pihak sebelum masinis KA Argo Bromo Anggrek dapat dihubungi.
“Nah, ini yang membikin jeda agak terlalu lama karena PK (petugas pengendali perjalanan kereta) Selatan harus memberitahu kepada Chief, Chief memberitahu kepada PK Timur untuk mengontak masinisnya,” ujar Soerjanto.
Dia menilai, sistem komunikasi antar petugas pengendali perjalanan kereta (PK) perlu diperbaiki untuk mencegah kecelakaan serupa terulang.
Baca juga: KNKT Ungkap Jeda Tabrakan Taksi-KRL hingga Argo Bromo di Bekasi Timur 3 Menit 43 Detik
“Jadi salah satu penyebabnya adalah selain tadi ada beberapa masalah sinyal di Bekasi yang tidak bisa mendeteksi adanya KA 5568 di Bekasi Timur, itu juga ada satu kondisi yang unsafe condition di kondisi itu, Pak. Selain itu juga ada gangguan distraksi sinyal ulang yang ada lampu-lampu dari sekitarnya pasar dan perumahan di sekitar sinyal tersebut. Yang ketiga adalah masalah komunikasi,” tutur Soerjanto.
Meski demikian, KNKT menegaskan paparan dalam rapat kerja tersebut masih berupa data faktual awal investigasi dan belum menjadi kesimpulan akhir penyebab kecelakaan.
“Pada presentasi saat ini kami hanya menyajikan data faktual, tidak terdapat analisis dan tidak ada kesimpulan terhadap penyebab terjadinya kecelakaan,” tegas Soerjanto.
Sebelumnya diberitakan, kecelakaan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam.
Insiden bermula ketika KRL Commuter Line relasi Bekasi-Cikarang tertemper mobil taksi di perlintasan sebidang JPL 85.
Baca juga: Ketua Komisi V Heran KNKT Lambat Investigasi Kecelakaan Kereta di Bekasi
Setelah kejadian itu, rangkaian KRL sempat berhenti di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur sebelum akhirnya ditabrak KA Argo Bromo Anggrek.
KNKT mencatat jeda waktu antara insiden KRL tertemper taksi hingga tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL sekitar 3 menit 43 detik.
Kecelakaan tersebut menewaskan 15 orang dan menyebabkan puluhan lainnya luka-luka.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




