Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengaku telah membentuk tim untuk mendalami kasus tewasnya seorang pelajar berinisial AA (17 tahun) di dekat Stadion Kridosono, Kota Yogyakarta.
"Kita sudah membentuk tim. Tim itu sudah bekerja, mencoba mengidentifikasi, tapi kan tidak sesederhana itu (peristiwanya)," kata Sri Sultan di Kepatihan Pemda DIY, Kamis (21/5).
Sultan mengatakan, tim ini tidak hanya mendalami data kepolisian tetapi juga menelusuri lingkungan dan masyarakat untuk mengetahui apa yang sebetulnya terjadi.
"Atau kenakalan biasa, atau memang seniornya itu yang membina, kita kan nggak (belum) tahu semua itu seperti itu (bagaimana detailnya)," katanya.
Ngarsa Dalem mengatakan, sekian bulan peristiwa seperti ini sudah tidak terjadi. Maka penting untuk mengetahui kenapa kriminalitas remaja ini kembali muncul.
"Kita kan nggak tahu persis kondisi ekonomi, atau memang kenakalan biasa, kita kan nggak tahu. Ya, kita sedang mencoba mengidentifikasi," ucapnya.
Dia menambahkan, sebelumnya program Jaga Warga sudah berhasil menjaga keamanan lingkungan.
"Tapi sekarang kok timbul lagi toh. Motifnya apa, ya kita kan perlu tahu, dalami itu dulu," ujarnya.
Diduga Saling Tantang Antar GengDari hasil penyidikan polisi, AA tewas karena dibacok. Tiga pelakunya juga telah ditangkap.
Pembacokan ini bermula dari aksi saling tantang dua geng sekolah.
"Pelaku pembacokan yang di Kridosono tadi subuh, Kasat Reskrim beserta jajaran bergabung juga dengan Jatanras Polda berhasil mengamankan tiga orang pelaku di daerah Cilacap," kata Kapolresta Yogya Kombes Pol Eva Guna Pandia di kantornya, Rabu (20/3).
Tiga orang ini satu berstatus pelajar dan dua lagi sudah dewasa.
"Satu orang pelajar, dua orang sudah dewasa," katanya.
Ketiganya berinisial LA, AF, dan MY. Mereka di struktur gengnya berperan menjadi eksekutor atau fighter.
Pandia mengatakan masih ada tiga pelaku yang diburu kepolisian.





