JAKARTA, KOMPAS.TV - Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono memaparkan hasil investigasi kecelakaan antara Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Senin (27/4/2026).
Dalam paparannya, ia mengungkap ada kereta yang berangkat tidak sesuai jadwal, baik lebih lambat maupun lebih cepat.
"KA 5568 (Commuter Line tujuan Cikarang) mengalami keterlambatan sekitar delapan menit. Sedangkan KA Bromo Anggrek lebih cepat tiga menit dari waktu yang kedatangan di stasiun Bekasi Timur," ujarnya dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI pada Senin (21/5/2026), dipantau dari video YouTube KompasTV.
Hasil temuan KNKT lainnya, Soerjanto mengatakan saat itu KA Argo Bromo Anggrek juga mendapatkan sinyal hijau meski sebelumnya terjadi insiden KRL Commuter Line tertemper mobil taksi di perlintasan sebidang di Bekasi Timur.
Baca Juga: KNKT Ungkap Hasil Investigasi Kecelakaan Kereta di Bekasi: KA Argo Bromo Anggrek Dapat Sinyal Hijau
Soerjanto juga mengungkap masinis KA Argo Bromo Anggrek mendapat instruksi untuk melakukan pengereman sedikit demi sedikit serta memperbanyak semboyan 35 atau klakson sebelum lokasi tabrakan.
“Masinis itu sudah mulai mengerem di 1,3 kilometer sebelum lokasi tabrakan. Dia tahunya karena diinformasikan oleh PK (Pusat Kendali Kereta Api) Timur, pengendali jalur antara Manggarai sampai Cikampek,” jelasnya.
Lasarus lantas menanyakan, berapa kilometer yang diperlukan agar kereta yang direm berhenti dan aman dari tabrakan.
Soerjanto pun menjawab, jika masinis melakukan pengereman secara maksimal, maka butuh kurang lebih antara 900-1000 meter sampai kereta berhenti.
Namun berdasarkan temuan KNKT, ia mengungkap masinis disuruh mengerem sedikit-sedikit sambil membunyikan klakson.
Penulis : Tri Angga Kriswaningsih Editor : Gading-Persada
Sumber : Kompas TV
- kecelakaan kereta di bekasi
- kecelakaan kereta
- knkt
- investigasi kecelakaan kereta
- argo bromo anggrek tabrak krl
- krl commuterline





