Cek Potensi Daya Serap Panda Bond dan Kangaroo Bond

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Rencana diversifikasi pembiayaan pemerintah melalui penerbitan Panda Bond dan Kangaroo Bond dinilai menjadi langkah strategis untuk memperluas basis investor sekaligus mengurangi konsentrasi pembiayaan berbasis dolar Amerika Serikat (AS).

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai Panda Bond memiliki daya tarik besar karena membuka akses Indonesia ke pasar obligasi domestik China yang memiliki likuiditas sangat dalam.

Selain itu, instrumen tersebut dinilai berpotensi memberikan cost of fund  yang lebih kompetitif dibandingkan pembiayaan berbasis dolar AS di tengah volatilitas pasar global saat ini.

“Panda bond memiliki potensi daya serap lebih besar karena basis China yang besar dan meningkatnya minat sovereign issuers berkualitas,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).

Di sisi lain, Kangaroo Bond juga dipandang memiliki prospek positif karena menyasar investor Australia yang cenderung stabil dan memiliki orientasi investasi jangka menengah hingga panjang.

Menurutnya, karakter investor Australia yang defensif dapat menjadi nilai tambah bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas pembiayaan di tengah ketidakpastian global.

Baca Juga

  • Prospek Panda Bond & Kangaroo Bond di Tengah Volatilitas Dolar AS
  • Pemerintah Siap Terbitkan Panda Bond Juni 2026
  • Perkuat Rupiah, Pemerintah Siapkan Penerbitan Panda Bond

Wafi menyebut daya serap Kangaroo Bond  memang tidak sebesar global bond berbasis dolar AS. Namun, pasar obligasi Australia tetap menarik karena didukung investor institusional yang relatif defensif.

Meski demikian, secara keseluruhan keberhasilan penerbitan tetap akan dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari spread yield, timing penerbitan, outlook rupiah, hingga persepsi investor terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Wafi pun menyebut langkah diversifikasi obligasi global tersebut efektif sebagai instrumen pelengkap pembiayaan pemerintah, meskipun belum dapat menggantikan dominasi global bond dolar AS dalam waktu dekat.

Menurutnya, strategi tersebut memberikan sejumlah keuntungan seperti diversifikasi risiko refinancing, membuka akses investor baru, serta mengurangi eksposur terhadap siklus suku bunga AS.

Namun demikian, terdapat sejumlah tantangan yang tetap perlu diperhatikan pemerintah, antara lain risiko mismatch mata uang, biaya lindung nilai atau hedging, hingga kedalaman pasar non dolar yang masih lebih kecil dibandingkan pasar obligasi dolar AS.

Selain Panda Bond dan Kangaroo Bond, Wafi menyebut pemerintah juga memiliki sejumlah alternatif instrumen global bond lain untuk mendukung strategi dedolarisasi pembiayaan.

Instrumen tersebut meliputi Samurai Bond berdenominasi yen Jepang, Euro Bond berbasis euro, green bond dan sustainability bond multi currency, hingga local currency settlement bond yang berkaitan dengan kerja sama bilateral antarnegara.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Timwas Haji DPR Temukan Dugaan Pungli Kursi Roda oleh Oknum KBIH di Makkah
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Dibebaskan Israel, 9 WNI dalam Perjalanan ke Istanbul Turki
• 2 jam lalurctiplus.com
thumb
Rupiah Masih Keok Meski BI Sudah Naikkan Suku Bunga 50 Bps
• 12 jam lalukatadata.co.id
thumb
Bukti Kepedulian Gubernur Sulsel, Anak Korban Kapal Tenggelam di Pangkep Dapat Beasiswa SD hingga SMA
• 57 menit laluharianfajar
thumb
Periksa Eks Dirjen PHU Hilman Latief, KPK Dalami Pertemuan dengan Yaqut terkait Kuota Haji Tambahan
• 4 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.