Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa pembicaraan damai pemerintahannya dengan Iran kini berada di tahap akhir. Ia mengatakan sedang menunggu untuk mendapatkan jawaban yang tepat.
“Kita berada di tahap akhir penyelidikan Iran. Kita lihat saja apa yang akan terjadi,” kata Trump dikutip dari Xinhua, Kamis (21/5/2026).
Namun, jika kesepakatan tak tercapai dengan baik, ia mengaku akan mengambil tindakan tegas.
“Kita akan mencapai kesepakatan atau kita akan melakukan beberapa hal yang agak tidak menyenangkan. Tapi mudah-mudahan itu tidak akan terjadi,” tambahnya.
Trump mengisyaratkan ingin kesepakatan yang menyeluruh, bukan perjanjian sementara yang hanya berfokus untuk membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz tanpa menyelesaikan akar konflik dengan Iran.
“Kita akan mencoba sekali saja,” kata Trump tentang potensi kesepakatan, seraya menolak gagasan kompromi sebagian.
“Saya tidak terburu-buru. Anda tidak pernah berpikir, ‘Oh, pemilihan paruh waktu, saya terburu-buru.’ Saya tidak terburu-buru,” tambahnya.
Trump mengaku ia juga telah melakukan pembicaraan telepon dengan Recep Tayyip Erdogan Presiden Turki pada Rabu (13/5/2026) pekan lalu. Hal itu lantaran Turki dipandang sebagai salah satu mediator kunci selama negosiasi AS-Iran.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan, jika agresi AS dan Israel terhadap negaranya terulang, pihaknya menegaskan bahwa perang akan meluas melampaui kawasan Asia Barat.
Peringatan serupa juga disampaikan Seyed Abbas Araghchi Menteri Luar Negeri Iran lewat unggahan di media sosial X. Ia menegaskan Iran siap memberikan “lebih banyak kejutan” jika AS kembali melancarkan serangan.
Dalam unggahan tersebut, Araghchi juga menyinggung laporan terbaru Kongres AS yang menyebut puluhan pesawat hilang dalam konflik sebelumnya.
Seperti diketahui, pada 28 Februari lalu AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran. Serangan itu membuat Ali Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran, bersama sejumlah komandan militer senior dan ribuan warga sipil meninggal dunia.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal dan drone yang menargetkan pangkalan militer serta aset milik AS dan Israel di kawasan Timur Tengah.
Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April 2026. Setelah itu, Pakistan sempat memediasi perundingan pada 11-12 April, namun belum menghasilkan kesepakatan permanen.
Dalam beberapa hari terakhir, pejabat AS dan Israel kembali meningkatkan ancaman untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran jika negosiasi gagal mencapai hasil.(mar/bil/ham)




