KNKT Soroti Minimnya Pelatihan Sopir Green SM usai Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

disway.id
16 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, DISWAY.ID - Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono menyoroti minimnya pelatihan pengemudi taksi Green SM dalam investigasi kecelakaan di perlintasan kereta api Bekasi Timur.

Dalam rapat bersama Komisi V DPR RI, Soerjanto mengatakan perusahaan taksi Green SM hanya memberikan pelatihan pengemudi berupa pengenalan dasar kendaraan melalui kelas teori singkat.

"Pelatihan mencakup cara menghidupkan mobil, cara parkir, lampu indikator, knop transmisi, serta penggunaan sabuk pengaman. Tidak ada edukasi mengenai teknis kendaraan atau penanganan sistem saat terjadinya error," kata Soerjanto dalam rapat bersama Komisi V DPR RI, Kamis, 21 Mei 2026.

BACA JUGA:Fakta Investigasi KNKT Kecelakaan Kereta di Bekasi, Masinis KA Anggrek Rem Tipis-Tipis 1,3 KM Sebelum Tabrakan

Selain itu, KNKT juga mencatat knop lampu indikator kendaraan sulit terlihat pada siang hari.

Dalam investigasi tersebut, pengemudi taksi yang terlibat kecelakaan diketahui merupakan sopir baru yang direkrut melalui job fair dan baru bekerja selama tiga hari saat insiden terjadi.

“Pengemudi yang terlibat laka baru diterima melalui job fair dan baru bekerja 3 hari,” jelas Soerjanto.

BACA JUGA:Beberkan Update Kronologi Kecelakaan Kereta di Bekasi, Menhub Tunggu Hasil Investigasi KNKT

Lebih lanjut, ia mengungkapkan temuan awal terhadap taksi Green SM dalam kecelakaan KA di Bekasi Timur.

Ia mengatakan berdasarkan hasil investigasi awal, kendaraan listrik tersebut melaju dari arah utara menuju selatan dan sempat berhenti di jalur rel dengan kemiringan sekitar 2,9 persen.

"Data on-board unit kendaraan B 2864 SBX tidak terdapat rekaman yang mendeteksi error pada sistem berdasarkan data satu jam sebelum kejadian," kata Soerjanto.

BACA JUGA:Menhub Minta Publik Bersabar, Tunggu Hasil Investigasi KNKT soal Kecelakaan KA Bekasi Timur

Soerjanto mengatakan pihaknya kemudian mengunduh data dari onboard unit kendaraan untuk mengetahui pergerakan taksi sebelum insiden.

Dari data tersebut, kendaraan awalnya berjalan normal saat berada di posisi drive atau D. Kemudian, taksi berpindah ke posisi N atau netral.

"Nah ini apa yang terjadi dari data onboard unit kami download. Jadi taksi tersebut ketika menurun pada posisi D berjalan normal dengan kecepatan antara 15 km/jam. Kemudian kendaraan berpindah ke pada posisi N dan meluncur dengan kecepatan 3 sampai 7 km/jam. Ini kami tidak tahu kenapa kok diposisinetralkan," jelas dia.

  • 1
  • 2
  • »

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Soal Pemulangan 9 WNI dari Turki, Kemlu: Masih Pemeriksaan Kesehatan
• 1 jam laluokezone.com
thumb
Pertamina Dorong Kontribusi Perempuan di Industri Energi
• 1 jam lalukompas.com
thumb
Tiga Terdakwa Kasus Pembunuhan Kacab Bank Minta Dibebaskan
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Dua Lokomotif Anjlok di Stasiun Pasar Senen, Sejumlah Perjalanan KA Jarak Jauh Alami Keterlambatan
• 2 jam laludisway.id
thumb
Xiaomi 17 Max debut jadi HP flagship Xiaomi dengan baterai terbesar
• 19 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.