Animo Anak Muda Indonesia Berhaji Tinggi, tetapi 2 Masalah Belum Teratasi

jpnn.com
10 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com - Animo kalangan muda Islam di Indonesia untuk berhaji ternyata sangat besar. Fenomena itu tercatat dalam data terbaru aplikasi Muslim Pro yang memperlihatkan adanya pergeseran tren antargenerasi dalam memandang pencapaian spiritual.

Muslim Pro merupakan aplikasi gaya hidup Muslim dengan 190 juta unduhan di 190 juta negara. Survei platform terpopuler di kalangan muslim itu menunjukkan 81 persen respondennya memilih kemudahan perencanaan haji, umrah, atau zakat sebagai fitur yang paling diinginkan dalam akun tabungan berbasis syariah.

BACA JUGA: Gibran: Ini Momen-Momen Penuh Dinamika

Di antara responden berusia 23–39 tahun, permintaan akan fitur perencanaan religi — termasuk persiapan haji — mencapai 66 persen. CEO Muslim Pro Nafees Khundker mengungkapkan bagi sebagian generasi muda Islam di Indonesia, haji dan umrah tidak lagi dipandang sebagai tujuan saat hidup sudah mapan, tetapi sudah menjadi bagian dari cita-cita hidup yang hendak diwujudkan sejak dini.

“Kami melihat adanya perubahan perilaku yang signifikan,” ujar Nafees Khundker melalui siaran pers, Kamis (21/5/2026.

BACA JUGA: Prabowo Bercerita Pernah Dibantu Bu Mega, Lalu Menoleh ke Puan

Group Managing Director Muslim Pro itu menjelaskan muslim muda saat ini jauh lebih terbuka dalam membicarakan aspirasi spiritual mereka dibandingkan generasi sebelumnya. “Keinginan untuk menunaikan ibadah haji atau umrah di usia muda kini makin dipandang sebagai bagian dari tujuan hidup personal,” imbuhnya.

Nafees juga mendedahkan soal kalangan muda saat ini yang kian aktif mengeksplorasi identitas, aspirasi, hingga spiritualitas mereka secara daring di tengah dominasi platform digital dalam kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA: Buya Anwar Abbas Cermati Pidato Prabowo & Wajah Himbara yang Tak Merakyat

Dia merujuk data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), yang menunjukkan jumlah pengguna internet di Indonesia pada 2024 telah mencapai 221,5 juta orang atau setara 79,5 persen dari populasi nasional.

Bagi jutaan Muslim muda yang tumbuh di era digital, tutur Nafees, ruang daring tidak lagi hanya menjadi tempat hiburan atau interaksi sosial. Platform digital kini juga menjadi ruang refleksi diri, pembelajaran agama, hingga tempat merencanakan tujuan hidup jangka panjang.

Menurut Nafees, pergeseran itu turut mengubah cara generasi muda memaknai kesuksesan. Katanya, jika generasi sebelumnya kerap mengaitkan pencapaian hidup dengan kepemilikan aset, posisi karier, atau pencapaian keluarga, kini justru banyak anak muda kian menghargai pengalaman yang memberi makna personal, emosional, dan spiritual.

Lebih lanjut Nafees menyebut tren itu juga sejalan dengan perkembangan ekonomi Islam global. Merujuk riset State of the Global Islamic Economy Report 2024/25, dia menyebut sektor perjalanan ramah muslim (muslim-friendly travel) menjadi sektor dengan pertumbuhan tercepat dalam ekonomi Islam dunia, dengan proyeksi tingkat pertumbuhan rata-rata tahunan investasi atau bisnis atau compound annual growth rate (CAGR) 12,1 persen dan nilai pasar yang mencapai USD 384 miliar pada 2028.

Menurut Nafees, laporan yang yang sama juga menempatkan Indonesia di peringkat ketiga global dalam indikator ekonomi Islam secara keseluruhan, serta peringkat kedua global untuk sektor pariwisata ramah muslim.

Hal itu mempertegas posisi Indonesia yang makin penting dalam membentuk masa depan ekonomi halal dunia. Namun, kata Nafees, di balik tingginya aspirasi tersebut justru kesiapan finansial untuk haji dan umrah masih menjadi tantangan besar.

Survei Muslim Pro mencatat 65 persen respondennya mengaku jarang atau bahkan tidak pernah menyisihkan dana khusus untuk haji. Persentase yang sama juga ditemukan untuk tabungan umrah.

Adapun di kelompok pengguna berpenghasilan rendah hingga menengah yang merupakan mayoritas responden, angka tersebut meningkat menjadi hingga 72 persen. Para responden mengaku mendapati keterbatasan finansial dan ketidakstabilan pendapatan sebagai tantangan utama dalam menabung untuk ibadah.

Nafees menyebut temuan itu menunjukkan persoalannya bukan terletak pada niat. Sebab, keinginan untuk berangkat sebenarnya sudah ada.

"Yang sering kali belum dimiliki ialah sistem yang membantu niat tersebut berubah menjadi langkah nyata yang konsisten, dimulai dari hari ini, bukan menunggu masa depan yang belum pasti,” tambahnya.

Selain masalah finansial sebagai persoalan utama, masa tunggu haji di Indonesia juga menjadi problem tersendiri. Data Kementerian Agama Republik Indonesia menunjukkan bahwa masa tunggu haji di berbagai provinsi kini berkisar antara belasan hingga puluhan tahun.

Oleh karena itu, Muslim Pro menggandeng Maybank Syariah Indonesia guna meluncurkan Amanah Pro sebuah layanan keuangan digital yang dirancang untuk membantu pengguna membangun kebiasaan menabung secara bertahap dan terstruktur untuk persiapan haji dan umrah.

Nafees menyebut platform itu memungkinkan penggunanya menyesuaikan target tabungan dengan kemampuan finansial masing-masing, sehingga proses menabung bisa dilakukan secara bertahap tanpa terasa memberatkan.

“Amanah Pro hadir untuk membantu umat Islam memulai perjalanan mereka sekarang, bukan nanti,” katanya.(jpnn.com)


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Panglima TNI Lantik Brigjen Muhammad Nas sebagai Kapuspen Baru di Mabes TNI
• 5 jam lalupantau.com
thumb
Anggota Komisi I DPR Desak Pemerintah Bawa Kasus Penyiksaan 9 WNI oleh Israel ke ICC
• 1 jam laluokezone.com
thumb
Meski Jadi Bos INA, Oki dan Laksono Masih Masuk Bursa Direksi BEI
• 14 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Luke Thomas Mahony, Eks Direktur PT Vale Ditunjuk Jadi Dirut PT Danantara Sumber Daya Indonesia
• 10 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Indonesia Kutuk Perlakuan tak Manusiawi Israel terhadap Relawan GSF
• 10 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.