Bisnis.com, SURABAYA – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mengungkapkan progres terkini rencana pembangunan Giant Sea Wall (GSW).
Cetak biru (blueprint) dari megaproyek yang sepenuhnya akan dibangun pemerintah pusat di sepanjang wilayah pesisir pantai utara Jawa itu direncanakan rampung sepenuhnya pada 2027 mendatang.
AHY sapaan akrabnya menjelaskan bahwa pihaknya masih berusaha untuk mengawal agar rencana pembangunan tanggul laut raksasa dapat dijalankan dalam tempo yang secepatnya.
Namun begitu, ia juga mengakui bahwa faktor anggaran dan kajian tetap harus diperhatikan serta dipertimbangkan secara baik sebelum proyek tersebut nantinya resmi dimulai pembangunannya.
"Kita masih mengawal tahun 2026 ini mudah-mudahan 2027 sudah semakin matang karena ini konsep besar, mega-project yang membutuhkan investasi, membutuhkan kebutuhan teknokratis," ungkap AHY kepada Bisnis pada sela-sela kunjungannya di Head Office PT PAL Indonesia, Surabaya, Kamis (21/5/2026).
Selain faktor kajian serta pembiayaan, AHY juga menyebut bahwa pihaknya selaku penanggung jawab utama dari proyek infrastruktur tersebut masih fokus untuk menyatukan visi dan sinergi antara pemerintah pusat dengan pemerintah provinsi, dan pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten/kota, yang memiliki perairan di sepanjang daerah-daerah yang diproyeksikan menjadi titik pembangunan GSW, yakni mulai Tangerang, Banten hingga Gresik, Jawa Timur.
Baca Juga
- AHY Lapor Prabowo Soal Proyek Giant Sea Wall, 15 Segmen Ditinjau
- Indramayu Masuk Lokasi Prioritas Megaproyek Giant Sea Wall
- Kementerian ATR Bakal Siapkan Lahan untuk Proyek Giant Sea Wall
Menurutnya, kesatuan pandangan dan koordinasi yang cair sangat-sangat dibutuhkan untuk terjalin lebih dahulu sebelum proyek yang memakan anggaran senilai Rp1.700 triliun berlangsung nantinya, yang berjalan beriringan dengan proses penyempurnaan peta panduan (roadmap) serta cetak biru pembangunan oleh segenap kementerian terkait.
"Yang juga tidak kalah penting adalah karena ini melibatkan lima provinsi, 20 kabupaten, dan lima kota di pantai utara Jawa ini, maka butuh koordinasi yang ketat antara pemerintah pusat dan daerah, maupun antar sesama pemerintah daerah tingkat provinsi untuk kabupaten/kota. Jadi saya masih fokus pada upaya untuk mendorong terjadinya sinergi tersebut, roadmap atau blueprint-nya masih terus disempurnakan," ucapnya.
Dengan usaha-usaha yang diharapkan akan selesai dalam waktu singkat, AHY berharap proses pembangunan tanggul laut raksasa dapat dimulai dalam waktu cepat dan tepat sebelum bencana alam yang disebabkan oleh penurunan muka tanah dan pemanasan global merenggut kehidupan dan penghidupan dari masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar kawasan Teluk Jakarta dan pesisir utara Jawa Tengah.
"Utamanya yang paling mendesak adalah di Teluk Jakarta maupun di Jawa Tengah itu Semarang, Kendal, dan Demak. Terjadi penurunan tanah, land subsidence, sekaligus rising sea level, permukaan laut yang juga terus naik akibat pemanasan global. Ini bisa berpotensi terjadinya banjir laut," tuturnya.
Selain itu, AHY juga mengungkapkan dirinya telah menyodorkan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai fakta-fakta mengenai penurunan muka tanah atau land subsidence yang menjadi faktor utama pembangunan infrastruktur strategis sepanjang 525 kilometer itu.
"Kita butuh membangun tanggul, dan di sinilah kita juga terus menyikapi konsep pengembangan perlindungan pantura Jawa karena memang tidak bisa menunggu terlalu lama. Kalau satu tahun terjadi [penurunan] tanah bisa hingga 15 atau 20 cm, maka bisa dibayangkan makin lama masyarakat yang ada di daerah-daerah pedalaman tersebut semakin terancam. Nah, saya sudah menyampaikan tentunya laporan kepada presiden," ungkapnya.
Tak hanya itu, Ketua Umum Partai Demokrat ini juga meminta masyarakat di kawasan pesisir– khususnya yang berprofesi sebagai nelayan, petambak, hingga pembudidaya ikan– untuk tidak risau mengenai kehadiran infrastruktur Giant Sea Wall.
Ia menegaskan bahwa kehadiran proyek tanggul raksasa tersebut sama sekali tidak akan merenggut lahan nafkah dari masyarakat maritim yang beroperasi di sepanjang pantai utara Jawa, di mana proyek strategis itu rencananya akan dibangun di tengah perairan lepas sejauh 4 hingga 6 kilometer dari bibir pantai.
Oleh sebab itu, AHY menekankan tujuan sebenarnya dari pembangunan Giant Sea Wall tersebut semata-mata untuk menyelamatkan segenap masyarakat dan lingkungan pesisir utara Jawa yang terancam, di mana nantinya juga terdapat integrasi dengan program Koperasi Nelayan Merah Putih oleh pemerintah pusat.
"Masyarakat nelayan juga yang perlu diberitahu, perlu dijelaskan. Bukan berarti nanti tiba-tiba ada tembok begitu karena memang untuk menyelamatkan masyarakat itu sendiri, tetapi tetap disiapkan sebuah mekanisme dan ruang agar saudara-saudara kita itu masih bisa melaut, bisa mendapatkan nafkah, dan bahkan lebih baik karena diintergrasikan dengan konsep Kampung Nelayan Merah Putih, dan juga fasilitas pendukung agar kesejahteraan mereka meningkat," pungkasnya.





