Dua Gajah Liar Melintasi Pasar Jukung, Alarm Bahaya Konflik di Air Sugihan

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Dua gajah liar dilaporkan melintasi kawasan Pasar Jukung, Sungai Batang, Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Selasa (19/5/2026) malam. Peristiwa itu dianggap unik karena baru pertama kali terjadi. Namun, di balik keunikannya, pengamat menilai kejadian itu sebagai alarm bahaya. Tanpa penanganan yang tepat, konflik antara gajah dan manusia berpotensi semakin memanas di masa mendatang.

Masyarakat Sumsel dihebohkan dengan video dua ekor gajah liar dewasa yang melintasi bagian tengah Pasar Jukung. Video itu diunggah oleh sejumlah akun Instagram berbasis di Ogan Komering Ilir (OKI) dan Sumsel. Peristiwa yang disebut terjadi pada Selasa malam itu menimbulkan beragam reaksi dari para perekam video.

Ada perekam yang meminta pertolongan pemerintah karena dua gajah melintasi pasar tersebut. Ada pula yang saling mengingatkan agar diam atau tidak bersuara saat dua gajah itu melintas. Sebagian perekam terheran-heran melihat ukuran dua gajah yang cukup besar. Ada juga yang takjub karena baru kali ini melihat langsung gajah liar melintasi tengah pasar.

Baca JugaHutan Menyusut, Bom Waktu Konflik Gajah dan Manusia di Air Sugihan Kian Mengancam

Anggota tim Pagar Rapat, kelompok masyarakat untuk mitigasi dan penanganan konflik gajah dan manusia, Rusman (40), saat dihubungi dari Palembang, Sumsel, Kamis (21/5/2026), membenarkan informasi tersebut. Namun, ia tidak mengetahui secara persis kronologi peristiwa itu.

“Saat dua gajah itu melintasi Pasar Jukung, kami sedang menghalau seekor gajah jantan liar yang memasuki permukiman masyarakat di kawasan Desa Serijaya Baru, Air Sugihan,” ujarnya.

Rusman, warga Desa Simpang Heran, Air Sugihan, menuturkan, berdasarkan informasi yang beredar, warga di sekitar lokasi sempat panik saat dua gajah itu melintasi Pasar Jukung. Sebab, meski tidak agresif, dua gajah itu tetap merupakan satwa liar. “Warga awam pasti panik saat bertemu atau berhadapan langsung dengan gajah liar meskipun gajahnya tidak menyerang,” katanya.

Terlepas dari itu, menurut Rusman, peristiwa tersebut cukup unik. Sebab, itu menjadi momen pertama kalinya gajah liar melintasi kawasan pasar. Sebelumnya, gajah hanya melintasi pinggiran pasar, memasuki sawah atau kebun warga, serta masuk ke permukiman yang berbatasan langsung dengan habitat atau koridor gajah. “Ini pertama kalinya ada gajah liar yang berani melintasi tengah-tengah pasar di sini,” ujarnya.

Camat Air Sugihan Ardhiles Siahaan mengatakan, pihaknya memastikan tidak ada konflik antara dua gajah liar dan warga setempat saat peristiwa itu terjadi. Sebab, dua gajah liar tersebut hanya melintas kurang dari lima menit.

“Peristiwa itu tidak menimbulkan kerusakan, kerugian materiil, maupun korban jiwa. Sebab, gajah itu hanya melintas lalu masuk lagi ke habitat yang menjadi koridornya,” tutur Ardhiles.

Ardhiles juga menepis isu bahwa dua gajah liar itu melintasi Pasar Jukung karena aktivitas pembukaan lahan yang semakin luas sehingga habitat alami atau ruang hidup gajah semakin sempit. Menurut dia, kawasan di sekitar lokasi mayoritas sudah menjadi area hutan tanaman industri (HTI) dan perkebunan kelapa sawit perusahaan.

Baca Juga”Si Mbah”, Adaptasi Penghormatan Gajah oleh Transmigran Asa Mitigasi Konflik di Air Sugihan

Selama ini, kawanan gajah liar di sana memang hidup di area HTI dan perkebunan sawit di sekitarnya. Adapun habitat atau hutan alaminya sudah nyaris tidak ada lagi. Karena itu, Ardhiles memperkirakan, dua gajah liar tersebut hanya tersesat atau terpisah dari kelompok besarnya.

“Gajah-gajah liar di sini biasa melintas dari kawasan HTI atau perkebunan sawit ke kawasan lainnya. Saat melintas, beberapa di antaranya ada yang memasuki ladang, kebun, dan permukiman warga. Untuk insiden di Pasar Jukung, kemungkinan dua gajah liar itu tersesat dari kelompok besarnya,” ujar Ardhiles.

Tidak sesuai tata ruang

Kendati demikian, Ardhiles tidak menampik bahwa kawasan Pasar Jukung tidak sesuai dengan perencanaan tata ruang wilayah setempat. Sejak awal, kawasan itu tidak diperuntukkan sebagai pusat niaga. Sebab, kawasan tersebut bersinggungan langsung dengan koridor atau perlintasan historis gajah.

Karena itu, permukiman terdekat ditempatkan di Desa Bukit Batu, Air Sugihan, yang berjarak sekitar 20 menit dari Pasar Jukung. Dahulu, kawasan Pasar Jukung merupakan tempat pendaratan perahu atau kapal jukung. Karena ramai, sedikit demi sedikit muncul pedagang di sana. Lama-kelamaan, kawasan itu berkembang menjadi pasar seperti sekarang.

Dengan kondisi itu, tidak mengherankan apabila kawasan Pasar Jukung berpotensi dijangkau atau dimasuki gajah liar.

“Hampir semua desa di Air Sugihan ini dikelilingi koridor gajah liar yang jumlahnya kurang lebih 140 individu dan terbagi dalam tiga kelompok besar. Salah satu yang bersinggungan langsung dengan koridor itu adalah kawasan Pasar Jukung. Karena itu, potensi interaksi dengan gajah liar di sini cukup tinggi, terutama di kawasan Pasar Jukung,” kata Ardhiles.

Baca JugaBagaimana Mengelola Konflik Gajah dan Manusia di Sumatera Selatan?

Demi meminimalkan risiko atau dampak konflik antara gajah dan manusia, Ardhiles menyampaikan, pihaknya bersama Dinas Kehutanan Sumsel, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel, dan perusahaan setempat membentuk tim Pagar Rapat. Setelah sempat vakum, tim itu kembali diaktifkan sejak 27 April 2026.

Total ada 25 warga yang menjadi anggota tim Pagar Rapat. Mereka berasal dari lima desa yang paling rawan mengalami konflik dengan gajah di Air Sugihan, masing-masing lima orang dari setiap desa. Mereka bertugas melakukan patroli untuk mengantisipasi dan menghalau gajah liar yang berusaha masuk ke ladang, kebun, ataupun permukiman warga.

“Tapi, dengan luas koridor gajah yang mencapai 6.000 hektar, terkadang tim Pagar Rapat tidak bisa memantau seluruh wilayah. Itulah sebabnya, kemarin, ada dua gajah liar melintasi kawasan Pasar Jukung,” tutur Ardhiles.

Selain mengaktifkan kembali tim Pagar Rapat, lanjut Ardhiles, pihaknya bersama perusahaan juga sedang membangun tanggul penghalau gajah sepanjang 40 kilometer. Proses pembangunan sudah dimulai sejak akhir 2025, tetapi target penyelesaiannya belum dapat dipastikan.

“Proyek itu baru memasuki tahap penimbunan atau pembangunan fondasi. Ini proyek jangka panjang karena proses penyelesaiannya membutuhkan waktu yang tidak singkat. Ini bagian dari upaya untuk mencegah konflik antara gajah dan manusia yang berkepanjangan ataupun konflik yang lebih parah di masa mendatang,” ujar Ardhiles.

Baca JugaDilema Guru, Mengenalkan Kebaikan Gajah Saat Interaksi Negatif Masih Terjadi 

Sejauh ini kesadaran masyarakat untuk hidup berdampingan dengan gajah liar semakin membaik. Terbukti, interaksi antara gajah dan manusia di sana nyaris tidak menimbulkan korban pada gajah. Sebaliknya, pernah ada dua warga yang tewas saat proses penggiringan gajah kembali ke koridornya.

“Interaksi antara gajah dan manusia di sini nyaris tidak pernah menimbulkan dampak fatal bagi gajah. Namun, kalau interaksi itu tidak diminimalkan, bukan tidak mungkin terjadi konflik yang lebih parah ke depannya,” kata Ardhiles.

Bom waktu konflik

Dolly Priatna, Direktur Eksekutif Belantara Foundation, lembaga yang aktif memberi pendampingan untuk mengatasi dampak interaksi gajah liar dan manusia di kawasan Air Sugihan, mengatakan, nyaris seluruh wilayah Air Sugihan merupakan wilayah historis gajah. Hingga kini, populasi gajah di sana masih cukup besar.

Berdasarkan data BKSDA Sumsel, dari enam kantong habitat gajah di Sumsel, koridor Air Sugihan-Simpang Heran merupakan kantong habitat terbesar. Ada 141 individu gajah di sana dari total sekitar 202 individu gajah yang tersebar di Sumsel.

Akan tetapi, karena kepentingan transmigrasi, industri, penambahan kebutuhan lahan untuk permukiman, serta aktivitas ekonomi warga, keberadaan gajah di koridor Air Sugihan-Simpang Heran semakin terdesak. “Kenyataan itu membuat interaksi antara gajah dan manusia di sana tidak bisa dihindari,” tuturnya.

Baca JugaMengenalkan Gajah Sumatera, Merajut Harmoni Gajah dan Manusia di Air Sugihan

Menurut Dolly, permukiman, ladang, kebun warga, kawasan HTI, dan perkebunan sawit perusahaan di sana sulit dikembalikan menjadi hutan atau habitat alami gajah. Sebab, solusi itu membutuhkan biaya terlampau besar dan waktu yang sangat panjang.

Dengan demikian, masyarakat dan perusahaan di sana mau tidak mau harus beradaptasi untuk hidup berdampingan dengan gajah. Karena koridor gajah berada di kawasan industri, pemilik konsesi HTI dan perkebunan sawit dituntut menjalankan komitmen Nilai Konservasi Tinggi atau High Conservation Value (HCV).

Sebagai pemilik modal besar, pelaku industri harus ikut merawat wilayah konsesinya yang menjadi koridor gajah. Dengan begitu, gajah merasa nyaman dan tidak perlu masuk ke ladang, kebun, ataupun permukiman warga. Mereka juga harus memastikan ketersediaan makanan dan minuman yang cukup bagi gajah di wilayah konsesi yang menjadi koridor satwa tersebut.

“Tanggung jawab perusahaan di sana tidak boleh hanya sebatas mempersilakan gajah melintas di wilayah konsesinya ataupun membantu warga menggiring gajah kembali ke koridornya. Lebih dari itu, mereka juga harus mengupayakan wilayah konsesinya menjadi tempat yang ramah bagi gajah sehingga gajah tidak perlu menjamah kawasan penduduk,” ujar Dolly.

Dolly menuturkan, tanpa solusi komprehensif, interaksi gajah liar dan manusia di kawasan Air Sugihan bisa menjadi bom waktu konflik di masa depan. Bukan tidak mungkin, konflik yang semakin memanas akan berakibat fatal bagi eksistensi gajah dan keselamatan jiwa manusia di sana.

Sebagai contoh, dalam peristiwa dua gajah liar yang melintasi kawasan Pasar Jukung, warga beruntung karena kedua gajah itu tidak sedang dalam masa kawin. Keduanya teridentifikasi sebagai gajah jantan yang baru beranjak dewasa dan diduga terpisah dari kelompoknya.

Baca JugaKisah Persahabatan Ribuan Tahun antara Gajah dan Orang Sumatera  

Kalau gajah-gajah itu sedang dalam masa kawin, sifatnya akan lebih agresif. Tidak menutup kemungkinan, mereka merusak fasilitas milik warga dan menyerang warga. Saat manusia terus-menerus merasa dirugikan, kondisi itu bisa memantik konflik yang lebih besar.

“Saat interaksi negatif terus terjadi dan manusia tidak lagi toleran dengan situasi tersebut, hal itu akan menjelma menjadi konflik. Kalau semakin panas, konflik akan merugikan kedua pihak, baik gajah maupun manusia,” kata Dolly.

Ancaman semakin besar

Anggota Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), Ali Akbar, mengatakan, pada dasarnya, naluri satwa liar seperti gajah membuat mereka menghindari pertemuan dengan manusia. Saat mereka terpaksa bertemu atau berinteraksi dengan manusia, itu berarti ada situasi darurat yang sedang mengancam mereka.

Ancaman itu bisa berupa kelaparan karena tidak ada lagi sumber makanan dan minuman di habitatnya. Di sisi lain, ancaman juga bisa berupa perburuan atau keberadaan pihak yang sedang memburu mereka.

Karena itu, patut diduga kuat, peristiwa dua gajah liar melintasi kawasan Pasar Jukung terjadi karena gajah-gajah tersebut sedang merasa terancam. Akhirnya, mereka terpaksa memberanikan diri melintasi kawasan yang notabene padat penduduk.

Baca JugaGajah dan Harimau Ditemukan Mati di Hutan Produksi yang Dirambah di Bengkulu

“Peristiwa itu bukan kejadian biasa. Itu kejadian luar biasa. Gajah-gajah itu kemungkinan besar sedang merasa terancam, bisa karena sangat lapar atau karena sedang dikejar-kejar pemburu. Saat ancaman itu semakin nyata atau semakin besar, gajah-gajah itu akan nekat memasuki kawasan padat penduduk yang sebelumnya tidak pernah dijamah mereka,” tutur Ali.

Pada intinya, Ali menuturkan, semua ancaman itu timbul karena hutan atau habitat gajah rusak. Ruang hidup yang semakin menyusut membuat gajah kehilangan akses terhadap sumber makanan dan minuman alaminya. Mau tidak mau, mereka harus mencari makanan dan minuman ke kawasan manusia.

Hal itu menyebabkan interaksi antara gajah dan manusia semakin intens. Dampaknya hanya dua, gajah yang menjadi korban atau manusia yang menjadi korban. Fakta menunjukkan, dalam 3-5 tahun terakhir, interaksi negatif menyebabkan 96 individu gajah mati di seluruh Sumatera. Sebaliknya, ada 16 orang tewas, termasuk dua orang di kawasan Air Sugihan.

Indikator semakin masifnya kerusakan hutan Sumatera, termasuk yang menjadi habitat gajah, tampak dari bencana ekologis di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir 2025. Bahkan, di Aceh, ditemukan bangkai gajah di antara lumpur atau puing sisa bencana. Gajah itu diduga turut menjadi korban bencana.

Masalahnya, menurut Ali, pemerintah kerap melempar pernyataan yang menyesatkan, yakni mana yang lebih penting, menyelamatkan gajah atau manusia. Pernyataan itu bukan hanya menurunkan derajat manusia, melainkan juga tidak sesuai dengan konteks masalah yang terjadi.

Berbicara soal kerusakan hutan bukan hanya berbicara tentang pelestarian habitat gajah. Lebih jauh, persoalan itu menyangkut satu kesatuan ekosistem kehidupan yang penting bagi kelangsungan hidup manusia sendiri.

Baca JugaKematian Gajah di Bentang Alam Seblat Diduga akibat Peluru Tajam

Saat ini, hutan hanya dipandang sebagai komoditas. Akibatnya, tidak ada lagi batas wilayah penyangga antara hutan dan pusat aktivitas manusia. Semuanya digarap tanpa memikirkan dampak jangka panjangnya. Tak pelak, ketika wilayah penyangga habis, interaksi antara satwa liar seperti gajah dan manusia tidak bisa dihindari.

“Dalam jangka panjang, konflik yang semakin memanas hanya akan menimbulkan kerugian bagi manusia sendiri. Sebab, konflik itu akan membuat gajah mengalami kematian atau penjinakan. Kalau dijinakkan, fungsi ekologis gajah tidak akan ada lagi. Pada akhirnya, tetap manusia yang menanggung kerugiannya, antara lain melalui bencana alam seperti di Aceh, Sumut, dan Sumbar akhir tahun lalu,” tegas Ali.

Peristiwa dua gajah liar yang melintasi kawasan Pasar Jukung jangan dianggap remeh. Kejadian itu menandakan ada yang tidak beres dengan habitat gajah-gajah tersebut. Tanpa solusi komprehensif, peristiwa itu bisa menjelma menjadi konflik yang semakin memanas di masa depan. Konflik tersebut tidak hanya merugikan eksistensi gajah, tetapi juga mengancam keberlangsungan hidup manusia sendiri.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Cabai Merah di Bekasi dari Rp 35.000 Jadi Rp 60.000, "Pembeli Enggak Ada, Barang Pada Mahal"
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Polda Metro Periksa Model AWS soal Ngaku Jadi Korban Begal
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Calon Haji ESQ Tours Jalani Eduwisata di Museum Wahyu
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Paylater dan FOMO: Apakah Gen Z sedang Menuju Krisis Finansial?
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Aturan Resmi Jalur Prestasi SPMB Jakarta 2026: Cek Syarat Sertifikat dan Sistem Bobot Skor
• 18 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.