Posisi Rusia di medan perang Ukraina mulai menunjukkan tanda-tanda kemunduran setelah berbulan-bulan mendominasi jalannya konflik. Serangan jarak jauh Ukraina yang semakin intensif kini tidak hanya menghantam fasilitas energi Rusia jauh di dalam wilayahnya, tetapi juga mulai mengganggu kemampuan tempur Moskow di garis depan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan pada Kamis (21/5), drone kembali menyerang kilang minyak Rusia di Syzran, wilayah Samara, yang berjarak lebih dari 800 kilometer (km) dari perbatasan . Serangan memicu kebakaran besar dan menjadi bagian dari strategi Kyiv untuk melumpuhkan sumber pendanaan perang Rusia.
Zelenskyy menyebut target utama Ukraina yakni kilang minyak, fasilitas penyimpanan energi, dan infrastruktur yang menopang pendapatan perang Rusia.
Media Rusia, Astra, melaporkan bahwa kilang yang diserang merupakan fasilitas milik Rosneft, salah satu perusahaan energi terbesar Rusia. Gubernur Samara, Vyacheslav Fedorishchev, mengatakan dua orang tewas akibat serangan drone tersebut.
Dalam beberapa bulan terakhir, Ukraina secara signifikan meningkatkan kemampuan serangan jarak menengah dan jauh menggunakan drone serta rudal produksi dalam negeri. Jika pada awal perang Kyiv bergantung pada bantuan Barat, kini teknologi militer Ukraina justru mulai diminati negara lain.
“Secara keseluruhan, rencana serangan jarak jauh kami untuk Mei sebagian besar berjalan penuh,” kata Zelenskyy, sebagaimana diberitakan oleh Associated Press (AP) pada Kamis (22/5).
Menteri Pertahanan Ukraina Mykhailo Fedorov mengatakan, laju serangan Rusia kini melambat. Di sisi lain, posisi Ukraina di garis depan mulai membaik. Salah satu faktor yang memicu perubahan itu ialah terganggunya akses Rusia terhadap layanan satelit Starlink yang sebelumnya digunakan untuk mengarahkan drone ke target.
“Sejak saat itu Rusia belum mampu menemukan pengganti penuh (untuk Starlink), sehingga memberikan keunggulan penting bagi Ukraina di medan perang,” kata Fedorov.
Fedorov mengatakan pada Februari, bahwa ia telah meminta Elon Musk dan SpaceX menghentikan penggunaan layanan oleh Rusia di Ukraina. Starlink merupakan jaringan internet global yang mengandalkan sekitar 10 ribu satelit yang mengorbit Bumi.
Ia juga mengklaim tingkat intersepsi drone Rusia oleh Ukraina meningkat dua kali lipat dalam empat bulan terakhir. Drone berukuran menengah kini menjadi salah satu senjata paling efektif Ukraina untuk menghantam logistik dan pertahanan Rusia.
Rusia Kehilangan Wilayah, Laju Serangan Melambat
Laporan Institute for the Study of War (ISW) melaporkan situasi perang di Ukraina mulai berbalik bagi Rusia. Dalam laporan bertajuk ‘Russian Offensive Campaign Assessment’ tertanggal 2 Mei 2026, ISW menyebut pasukan Rusia untuk pertama kalinya sejak Agustus 2024 mengalami kehilangan wilayah di medan perang Ukraina.
Lembaga kajian dan pertahanan yang berbasis di Washington DC, Amerika Serikat (AS), ini mencatat Rusia kehilangan kendali atas sekitar 116 kilometer persegi wilayah pada April 2026. Laporan tersebut juga menyoroti laju ofensif Rusia yang terus melambat sepanjang 2026.
Kajian ISW menemukan rata-rata pergerakan pasukan Rusia turun drastis menjadi sekitar 2,9 kilometer persegi per hari pada empat bulan pertama tahun ini. Angka ini jauh di bawah capaian periode yang sama tahun lalu yang dapat menyentuh 9,76 kilometer persegi per hari.
ISW menilai Rusia tidak lagi mampu merebut seluruh wilayah Donetsk seperti target Kremlin sebelumnya. Faktor utama yang menghambat Moskow ialah medan pertahanan Ukraina yang semakin kuat, serangan drone jarak menengah Ukraina terhadap logistik Rusia, serta meningkatnya korban di pihak Rusia.
Meski demikian, perang masih terus berlangsung sengit. Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pihaknya menembak jatuh 121 drone Ukraina pada Kamis (21/5) dini hari di wilayah Belgorod yang berbatasan dengan Ukraina. Delapan orang dilaporkan terluka akibat serangan drone tersebut.
Militer Rusia juga tetap menggempur wilayah sipil Ukraina menggunakan drone dan rudal. Angkatan udara Ukraina menyebut mereka berhasil menembak jatuh 109 dari 116 drone Rusia yang diluncurkan semalaman.
Di tengah tekanan medan perang, Rusia dan Belarus juga menggelar latihan nuklir gabungan yang melibatkan rudal balistik Iskander dan kapal selam bertenaga nuklir. Langkah itu dipandang sebagai upaya Moskow untuk mempertahankan efek gentar strategis ketika tekanan terhadap Rusia semakin besar, baik di garis depan maupun di dalam wilayahnya sendiri.




