BI Rate Naik 50 Bps, Deposito Mulai Dilirik Masyarakat?

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Keputusan Bank Indonesia (BI) mengerek suku bunga acuannya dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026 mulai memengaruhi preferensi masyarakat dalam mengelola dana dan investasi.

Untuk diketahui, BI memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25%. Otoritas moneter juga menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 50 bps menjadi 4,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 50 bps menjadi 6,00%.

Langkah ini merupakan upaya bank sentral dalam memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, di tengah tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah.

Bagi sebagian masyarakat, kenaikan suku bunga membuat mereka lebih berhati-hati dalam mengatur keuangan. Afiffah Rahmah (26), karyawan swasta di salah satu perusahaan media nasional, mengaku lebih selektif dalam mengatur keuangan dan memiliki diversifikasi instrumen investasi. 

“Karena saya masih pemula, jadi sekarang lebih hati-hati atur uang. Masih dominan simpan cash, sambil diversifikasi ke deposito dan instrumen lain,” kata Afiffah kepada Bisnis, Kamis (21/5/2026).

Menurut dia, deposito menjadi lebih menarik di tengah kondisi pasar yang tidak menentu. Meski demikian, dia belum berniat memindahkan seluruh dana investasinya ke deposito. Afiffah tetap memertahankan strategi diversifikasi dengan membagi dana ke beberapa instrumen seperti emas dan deposito.

“Sekarang lebih pilih kombinasi cash, deposito, dan emas. Biar tetap ada dana cair, tapi juga ada tabungan yang relatif aman,” ujarnya.

Pandangan berbeda disampaikan oleh Hestin. Karyawan swasta di salah satu perusahaan yang berlokasi di Jakarta Pusat itu menilai kenaikan BI Rate belum cukup membuat deposito menjadi instrumen yang menarik, karena tingkat bunganya masih relatif rendah.

Saat ini, Hestin masih memilih menyimpan dana di tabungan biasa, sedangkan sebagian lainnya ditempatkan di Surat Berharga Negara (SBN) dan reksa dana pasar uang.

“Belum ada rencana [memindahkan sebagian dana ke deposito], karena memang kembali lagi bunganya/imbal hasil per tahunnya rendah,” ungkapnya saat ditemui Bisnis.

Sementara itu, Andi justru tidak melihat kenaikan BI Rate sebagai alasan untuk beralih ke deposito. Pria berusia 31 tahun itu menilai instrumen seperti emas dan reksa dana tetap lebih menarik meskipun kondisi pasar sedang bergejolak.

“Tentu tidak, karena fluktuasi pasar tetap membuat reksa dana lebih menarik walaupun risikonya naik,” ujar Andi saat ditanya mengenai minat menyimpan dana di deposito.

Selain itu, Andi menilai bunga deposito saat ini belum mampu menyaingi potensi imbal hasil dari instrumen lain. Karena itu, dia mengaku tidak memiliki rencana memindahkan dana investasinya ke deposito. “Tidak semenarik itu karena masih tetap lebih rendah dari emas maupun reksa dana,” tegasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Persiapan Matang, Van Gastel Yakin PSIM Bungkam Arema
• 52 menit lalumedcom.id
thumb
Australia Umumkan 23 Pemain untuk Berlaga di Piala AFF U-19 2026 Sumatra Utara: Ada Pemain Sunderland dan Sampdoria!
• 16 jam lalubola.com
thumb
Diduga Sengaja Ejek Maia Estianty, Ahmad Dhani Beri Sindiran Menohok ke Indonesian Idol
• 23 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
PM Nielsen absen pembukaan konsulat baru AS di Greenland
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
Perkuat Aksi Iklim, Proyek Metana ASEAN-Republik Korea Memulai Langkah di Indonesia
• 2 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.